Oleh Ari Ariyandi Gunawan
Tawakal
(berserah diri) kepada Allah mengungkapkan hadirnya keimanan kepada-Nya, yang
merupakan suatu kekuatan rohani, yang memberikan kebaikan bagi hati (qalbu)
serta mendorong kepada produktivitas amal saleh. Tawakal kepada Allah dapat
membentuk diri kita menjadi tidak mudah terguncang oleh kesulitan atau ujian
dalam menjalani hidup. Intinya, bertawakal kepada Allah dapat meringankan atau
bahkan menghilangkan berbagai tekanan batin. Allah SWT berfirman: “….dan
hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang
beriman" (Q.S. Al-Maidah [5]:23)
Bertawakal
kepada Allah sebagai kekuatan rohani karena dapat memunculkan kesadaran-kesadaran
yang dengannya segala tekanan batin menjadi ringan dirasakan, bahkan bisa
hilang tidak terasakan lagi.
Pertama, kesadaran bahwa kemampuan semua manusia memiliki keterbatasan. Sehingga orang yang memiliki kesadaran itu akan menyerahkan apa saja yang tidak mampu dikuasainya kepada Allah, sebagai suatu bukti bahwa dirinya membutuhkan kekuatan dari-Nya. Ketika ia memperoleh suatu kesulitan yang sudah tidak lagi memiliki cara untuk mengatasinya, maka akan menyerahkan solusinya kepada Allah. Karena ia menyakini bahwa solusi yang terbaik pasti datangnya dari Allah. Allah SWT berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (Q.S.Al-Ahzab [33]:3).
Kesadaran
bahwa Allah tidak akan membebani seseorang dengan ujian atau cobaan, melainkan
sesuai dengan kemampuan atau kesanggupannya. Maka orang yang bertawakal kepada
Allah akan selalu tabah menerima segala ujian yang menghampirinya,
mengantungkan setiap harapannya kepada Allah, dan meyakini bahwa dalam
kehidupan ini selalu ada perubahan, segala sesuatu pasti memiliki batas akhir,
setiap kegagalan bisa berganti dengan keberhasilan, kesulitan dapat berganti
dengan kemudahan, kehinaan dapat berganti dengan kemuliaan. Allah SWT
berfirman: Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang
(dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap
sesuatu. (Q.S. Ath-Talaq [65]: 3).
Ketiga,
kesadaran bahwa apa yang terjadi merupakan sesuatu yang telah ditentukan oleh
Allah, yang berkuasa terhadap setiap manusia, apapun itu kehendak-Nya. Sehingga
orang yang memiliki kesadaran itu akan ridha dengan segala ketentuan Allah,
menerima segala kenyataan yang terjadi pada dirinya sebagai sesuatu yang
terbaik, karena menyakini bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Kemudian
dengan kesadaran itu pula, akan muncul optimisme, selalu berprasangka baik
kepada Allah, serta senantiasa yakin dengan pertolongan-Nya. Allah SWT
berfirman: Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan
apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya
kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (Q.S.
At-Taubah [9]:51).
Keempat, kesadaran bahwa
Allah adalah pelindung dan penolong. Kesadaran itulah yang dapat mengantarkan
seseorang yang bertawakal kepada Allah, menjadi mempunyai keberanian dalam
menghadapai berbagai persoalan dalam hidupnya.
Bahwa
berbagai tekanan batin bisa membuat seseorang sering berdiam durja, larut dalam
perasaan kecewa, penyesalan yang mendalam, sehingga menghabiskan waktu percuma,
pikiran terkuras tidak jelas, mengkotori hati dengan prasangka buruk, yang
semua itu bisa mengantarkan dirinya pada kemalasan dan pesimistis. Maka
bertawakal kepada Allah adalah solusinya, karena dengannya niscaya memiliki
kesadaran-kesadaran yang dapat mendorong kepada produktivitas amal saleh.
tawakal halal cafe tawakal express tawakal restaurant tawakal halal cafe menu tawakal menu tawakkalna tawakal allah tawakal halal tandoori restaurant tawakal adalah tawakal allah quotes tawakkal app tawakal allah meaning tawakkal ala allah doa tawakal bismillahi tawakkaltu tawakal brand

