Bersyukur kepada Allah



Oleh: Ari Ariyandi Gunawan



Bersyukur kepada Allah merupakan suatu kesadaran seseorang terhadap besarnya karunia yang senantiasa Allah berikan. Itulah orang yang tahu diri bahwa pada hakikatnya, segala nikmat yang dirasakan olehnya hanyalah pemberian dari Allah. Ia adalah manusia yang tahu berterima kasih atas apa yang telah diperolehnya dari Allah. Sehingga itu menjadi suatu tindakan yang mulia dari seseorang terhadap Allah SWT. 

Sesungguhnya bila kita menghitung kenikmatan dari Allah atau segala kenikmatan yang dirasakan di dunia ini, pasti tidak akan terhitung jumlahnya. Yang jelas begitu besar segala nikmat yang senantiasa Allah berikan kepada kita. Allah SWT berfirman: Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Q.S. An-Nahl [16]:18)

Mengingat nikmat Allah atau mengingat segala hal yang telah Allah berikan kepada kita, yang dapat dirasakan manfaatnya didunia ini, merupakan suatu pendekatan bagi kita supaya senantiasa bersyukur kepada Allah. Adapun perwujudan bersyukur kepada Allah dapat dilakukan dengan melaksanakan berbagai amalan yang dapat mendekatkan diri kita kepada Allah, senantiasa berzikir dengan maksud mensyukuri nikmat-Nya, memperbanyak sedekah, memanfaatkan segala kekuatan dan kemampuan yang ada pada diri kita untuk bekerja dengan baik dan benar, atau mengerjakan segala hal yang diridhai Allah SWT.


Apakah kita ingin membalas apa yang telah Allah berikan kepada kita? Meskipun pada dasarnya, kita tidaklah akan mampu membalas setiap nikmat yang telah Allah berikan. Dan pada hakikatnya, Allah tidak membutuhkan balasan dari kita. Karena sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Namun kita akan sering diberikan tambahan kenikmatan dari Allah, bila kita senantiasa bersyukur kepada-Nya. Sehingga bila kita bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya itu akan menjadi kebaikan bagi kita juga.

Allah SWT berfirman: “…..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada mu, tetapi bila kamu mengingkari (nikmat Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”  (Q.S.Ibrahim [14]:7)

Demikian sepantasnya bagi manusia menganggap bahwa apa yang telah Allah berikan kepadanya merupakan suatu bentuk kasih sayang-Nya. Namun bila manusia tidak bersyukur kepada Allah, maka Allah memiliki hak untuk mencabut segala kenikmatan yang selalu diberikannya. 

Allah SWT berfirman: Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha mengetahui. (Q.S. Al-Anfal [8]:53).

Orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah tidak akan merasa minder atau rendah diri, merasa diri serba kekurangan, dan kurang percaya diri. Karena menyadari bahwa segala kekuatan dan kehebatan manusia, hakikatnya merupakan pemberian dari Allah SWT. Dan tidak pula  akan sombong;  merasa diri paling hebat dan merendahkan orang lain. Karena menyadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang pantas untuk disombongkan dari segala sesuatu yang ada pada diri manusia, yang pada hakikatnya merupakan pemberian dari Allah. Orang yang bersyukur kepada Allah, selalu merasa bahagia dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. Karena menyadari bahwa sekecil apapun pemberian dari Allah merupakan suatu nikmat dari-Nya.


Bukti yang jelas bahwa seseorang bersyukur kepada Allah adalah senantiasa mengerjakan ketaatan kepada-Nya. Karena tentunya, menyadari bahwa tidak mungkin mampu membalas dengan hal yang sama dengan apa yang telah Allah diberikan, maka  hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya, dengan berupaya menjalankan ketaatan kepada-Nya. Dan sesunguhnya, tanda seseorang yang menyadari bahwa dirinya sebagai hamba Allah adalah bersyukur kepada-Nya. Allah SWT berfirman: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Q.S. An-Nahl [16]:114)