Pada dasarnya setiap manusia cenderung
memihak kepada kebenaran. Namun keberpihakannya terhadap kebernaran itu mudah
sekali terpengaruh oleh hawa nafsu. Sehingga manusia mudah pula melakukan
perbuatan dosa atau kesalahan.
Dalam al-Qur'an terdapat perintah Allah kepada setiap Muslim untuk menjaga fitrah agar tetap suci. Karena fitrah yang suci merupakan suatu dasar bagi terbentuknya kesalehan dan menjaga fitrah merupakan suatu wujud pemihakan kepada kebenaran.
Allah SWT berfirman:“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu… (Q.S. ar-Rum [30]: 30).
Fitrah yang suci dapat memuculkan nurani yang
sehat, yaitu hati (qalb) yang senantiasa memberi petunjuk ke arah kebaikan. Seseorang
yang memiliki nurani semacam itu, maka ia akan cenderung berpihak kepada kebenaran
dalam menjalani kehidupannya. Nurani yang sehat semacam itulah yang merupakan
anugerah dari Allah SWT kepada setiap hamba-Nya yang dikehendaki-Nya.Rasulullah Saw bersabda;“Apabila Allah menghendaki kebaikan
bagi seorang hamba-Nya, niscaya akan Ia jadikan hatinya sebagai penasihat yang
tulus.
(H.R. Abu Mansur Ad-Dailami).
Sesunguhnya nurani yang
benar lagi sehat tidak dapat diraih dengan pendidikan yang tinggi, kekuasaan
yang besar, dan harta yang banyak. Karena pendidikan yang tinggi tidak menjamin
seseorang memiliki hati yang suci. Bahkan bisa jadi orang yang memiliki jabatan
tinggi dan harta yang melimpah, tapi nuraninya rusak dan kotor sehingga
melakukan korupsi, selalu bermaksiat, dan melakukan berbagai bentuk
perbuatan zalim. Begitu pula nurani yang sehat tidak bisa dicapai
dengan kemiskinan, penderitaan, dan ketertindasan. Nurani yang sehat pada
dasarnya hanya dapat diraih dengan keimanan kepada Allah, sebagaimana
firman-Nya:
…..barang siapa yang beriman kepada Allah,
niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu. (Q.S. At-Tagabun [64]: 11).
Untuk menjaga fitrah agar tetap suci dapat
dilakukan dengan mengisi hati (qalb) dengan hikmah yang dapat mempertebal keimanan
kepada Allah dan mengisi akal pikiran dengan pengetahuan mengenai akidah yang benar lagi
suci atau jauh dari syirik.Allah SWT berfirman:Sesunguhnya
Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka
sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (Q.S. Az
Zumar [39]:2)
Fitrah yang suci dapat memunculkan hati yang tentram
dan penuh kedamaian, bukan hati yang selalu was-was dan penuh keraguan. Oleh
kerena itu, kesucian fitrah dapat dijaga dengan senantiasa mengingat Allah.Allah SWT berfirman:Ingatlah,
hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(Q.S. Ar-Rad [13]: 28)
Menjaga
fitrah dapat pula dilakukan dengan mengerjakan shalat. Karena shalat pada
dasarnya dapat memunculkan cahaya sebagai penerang bagi hati, sehingga hati
menjadi mampu mengenali kebaikan dan keburukan, bahkan juga mampu mengetahui kebenaran
dan kesalahan. Allah SWT berfirman:“Sesungguhnya
shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan
sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada
ibadah-ibadah lain).” (Q.S,AlAnkabut : 45).
Sering membaca al-Qur’an dan mentadaburi maknanya,
juga merupakan suatu amalan yang dapat menjaga fitrah tetap berada dalam
kesuciannya. Karena bila ayat-ayat Al-quran telah masuk ke dalam hati seorang Muslim,
maka itu bisa menjadi penerangnya; memancarkan hikmah dan ketentraman di dalam hati.Rasulullah Saw bersabada:Bacalah
Al-Qur’an, kerena sesungguhnya dia (al-Qur’an) adalah cahaya bagimu di bumi dan
simpanan bagimu dilangit.(Riwayat Ibnu Hibban)

Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.