Mungkin masih senang ‘dangdutan’. Di negeri ini terkenal dengan adanya
goyang ngebor, ada juga goyang itik. Mungkin betul, dangdut tanpa goyang itu
bagaikan sayur tanpa garam. Begitu juga sepertinya dengan teror tanpa bom.
Sehingga tidak heran, di negri ini terkenal dengan adanya bom buku, bom
plastik, dan yang masih ramai sekarang ini adalah bom panci. Motif dalam
strategi komunikasi semacam itu sepertinya sama walaupun tidak ada hubungannya
antara goyang dangdut dengan kasus terorisme, mungkin motifnya agar pesan
komunikasi lebih mudah diingat khalayak saja, tanpa perlu banyak berpikir kritis
terhadap masalah yang terjadi.
Sepertinya masih ada kesamaan motif dalam strategi komunikasi semacam itu,
ketika Ahok menangis dipersidangan sambil membacakan eksepsi. Sisi dramatis
Ahok menangis dipersidangan itu sepertinya sengaja ditonjolkan media mainstream
yang pro-Ahok, mengambil angle yang humanis bagi sang terdakwa, framing
beritanyapun sangat apik seolah jauh dari rekayasa, padahal sedang membujuk
khalayak agar menjauh dari persoalan pokoknya dalam kasus tersebut, yaitu Ahok
selayaknya sudah ditahan. Ahok selayaknya sudah ditahan untuk memperjelas
kepastian hukum. Ahok selayaknya sudah ditahan supaya tidak lagi mengeluarkan
pernyataan yang bisa menyakiti hati umat Islam.
Boleh saja beropini, tidak ada rekayasa dalam kasus terorisme. Tapi dalam
kasus bom panci, yang katanya bisa menimbulkan daya ledak besar sampai 300
meter, itu justru menimbulkan reaksi daya ledek dikalangan netizen, sehingga
wajar saja bila banyak netizen yang meragukan kebenaran atas kasus terorisme
sekarang ini.
Mungkin juga kasus terorisme itu betul-betul ada. Tapi, yang biasanya selalu
ada di negri ini adalah rekayasa menyudutkan Islam dengan isu terorisme. Sampai
saat ini, ketika orang non-muslim melakukan teror, itu tidak dikategorikan
sebagai tindak terorisme, sedangkan bila pelakunya muslim pasti sudah di cap
sebagai teroris. Kenapa ciri-ciri teroris selalu dilekatkan kepada Islam? Di
negeri ini, isu terorisme selalu dijadikan sebagai suatu upaya kezaliman
semiotik terhadap Islam.
Antara kasus Ahok dan isu terorisme dalam kasus bom panci memang tidak ada
hubungannya. Tapi media mainstream sekuler yang oportunis, dengan kedua isu
tersebut tengah berupaya membentuk adanya citra Islam yang radikal, Islam yang
senang memaksakan kehendak, Islam yang inkonstitusional, pragmatis,anarkis, dan
gemar dengan tindak kekerasan. Adapun dalam kasus yang lain, Islam yang
berpolitik sedang dikesankan berpotensi makar. Begitulah kezaliman semiotik
terhadap Islam yang tengah dilakukan musuh-musuh Islam sekarang ini, yang mulai
resah dengan hadirnya kekuatan umat Islam di Indonesia yang cinta damai.
Kezaliman semiotik bukan hanya dilakukan oleh media, tapi oleh mereka yang
tidak ingin Islam berkuasa di negeri ini. Mereka melalui pemberitaan kasus
terorisme, memproduksi tanda, simbol, makna, dengan berbagai macam cara
mendelegitimasi Islam dari urusan politik, hukum, kebangsaan dan negara, serta
menjauhkannya dari simpati publik.
Saat ini, kezaliman semiotik tengah berupaya melemahkan simpati publik
terhadap aksi bela Islam. Karena itu, hal yang perlu dilakukan aktivis atau
simpatisan aksi bela Islam 1,2,dan 3 adalah tetap fokus menguatkan opini aksi
bela Islam, sampai Ahok dijatuhi hukuman dan dipenjara.
Terbit, 19 Desember 2016
Media sosial: https://web.facebook.com/A.Ariyandigunawan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar