Bekerja adalah salah satu ciri hidup
manusia. Tanpa bekerja seperti tiada kehidupan bagi manusia. Karenanya, bekerja
merupakan salah satu bentuk pertahanan diri manusia. Kehormatan diri manusia
juga terdapat dalam bekerja.
Mencari nahkah yang halal dengan bekerja apapun
itu suatu kemuliaan. Semua pekerjaan yang halal itu kemuliaan, walaupun sekedar
memanggul kayu bakar.
Rasulullah Saw bersabda: Sungguh
seorang dari kalian yg memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik
baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya
atau menolaknya. (HR.Bukhari).
Jadi, jangan pikir bahwa pekerjaan
tukang panggul kayu itu hina, jangan pikir tukang cangkul di sawah itu hina,
jangan pikir pedagang asongan itu hina, mereka semua itu punya kemuliaan karena
bekerja…
Tukang cangkul disawah yang berpakaian lusuh jauh lebih mulia ketimbang orang-orang berdasi tapi senang menipu atau meminta-minta...
Bangkit untuk bekerja! Angkat kehormatan kalian dengan kerja yang bersungguh-sungguh…
Raih kemuliaan dan kesejahteraan dengan bekerja…
Tukang cangkul disawah yang berpakaian lusuh jauh lebih mulia ketimbang orang-orang berdasi tapi senang menipu atau meminta-minta...
Bangkit untuk bekerja! Angkat kehormatan kalian dengan kerja yang bersungguh-sungguh…
Raih kemuliaan dan kesejahteraan dengan bekerja…
1.Laki-laki Muslim Wajib Bekerja
Bukan laki-laki yang sebenarnya bila
sekedar tampil sok jago, petantang-petenteng, pakai kaos loreng, pakai batu
akik besar-besar, sok paling kuat dan berani, senang mencela orang lain tanpa
hak, tapi tidak pernah sebentar saja menjumpai peperangan, juga tidak punya
pekerjaan yang halal.
Menjadi laki-laki itu minimalnya
mampu bekerja. Karena laki-laki itu harus menunaikan kewajiban bekerja. Allah
SWT berfirman: ”….Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu
dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar
kesanggupannya…..” (Q.S. Al-Baqarah: 233).
Bekerja itu mendekati amal jihad.
Suatu bentuk latihan jihad yang paling mudah dilaksanakan adalah bekerja.
Bahkan, bekerja itu dapat menjadi bagian dari jihad, bila dilaksanakan dengan
bersungguh-sungguh, profesional-proporsional, rajin, kuat, tidak mengabaikan
ibadah, dan bertujuan baik dan benar..
Diriwayatkan, beberapa orang sahabat
melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari
pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat) dilakukan untuk jihad di
jalan Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyela mereka dengan
sabdanya, “Janganlan kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi
anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja
untuk menafkahi kedua orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan
jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah.
Namun jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan
setan.” (HR Thabrani)
Apabila kalian saat ini sudah
memiliki pekerjaan, maka syukuri saja dan teruslah bekerja. Sedangkan bila
kalian saat ini belum memiliki pekerjaan atau menunggu pekerjaan, maka segera
cari pekerjaan apa saja yang penting halal.
2.Kemuliaan
Pekerja Mampu Berbagi
Antara berbagi dengan menerima itu
sama-sama merupakan akhlak yang baik. Namun tentu, nilai morilnya sangat berbeda.
Berbagi itu lebih tinggi nilai morilnya daripada menerima. Hal itu sebagaimana
sabda Rasulullah Saw, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di
bawah….” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedangkan meminta-minta, dapat
digolongkan sebagai perilaku yang jelek. Meminta-minta tidak dapat disebut
akhlak. Meminta-minta dalam konteks tersebut adalah meminta-minta tanpa hak dan
kewajiban.
Meminta tanpa hak dan kewajiban
sangat berbeda dengan menuntut hak yang sudah menunaikan kewajiban. Dalam
konteks ini, menuntut hak bukan perilaku jelek. Itu tergolong suatu kebaikan
dalam hal menjaga hak yang dapat dipertangung jawabkan. Namun disarankan untuk
tidak memaksa, supaya tidak terjadi perselisihan atau pertentangan yang besar
atau konflik berkepanjangan. Kecuali hak itu sangat penting yang bila tidak
dituntut akan semakin memperbesar kezaliman.
Secara moril, status orang yang
menahan hak orang lain, itu hutang yang wajib ditunaikan. Dalam konteks inilah,
orang yang ditahan haknya lebih mulia derajatnya daripada orang yang menahan
haknya, orang yang tidak berhutang tentu lebih baik dari orang yang berhutang.
Kesadaran berbagi lebih baik daripada menerima, bila terjadi pada suatu masyarakat, maka masyarakat itulah yang dapat disebut sebagai masyarakat sejahtera. Masyarakat tersebut tidak lagi menerima sedekah, melainkan sebagai pemberi sedekah kepada masyarakat lain yang belum sejahtera.
Kesadaran berbagi lebih baik daripada menerima, bila terjadi pada suatu masyarakat, maka masyarakat itulah yang dapat disebut sebagai masyarakat sejahtera. Masyarakat tersebut tidak lagi menerima sedekah, melainkan sebagai pemberi sedekah kepada masyarakat lain yang belum sejahtera.
Bila pekerja ingin mengangkat
kehormatannya, maka pekerja harus mampu berbagi atau bersedekah. Setelah semua
kebutuhan pokok hidup sehari-hari terpenuhi, dan punya penghasilan yang lebih,
mulai saat itulah harus mampu mengatur penghasilan untuk berbagi dan membangun
masa depan yang lebih baik.
loading...
bekerja dalam islam, bekerja dalam islam hukumnya adalah, bekerja menurut islam adalah ibadah, istri bekerja dalam islam, etika bekerja dalam islam, bekerja keras dalam islam adalah, bekerja menurut agama islam, bekerja menurut ajaran islam, hukum bekerja dalam agama islam, hukum bekerja dalam agama islam, bekerja keras dalam agama islam, capek bekerja dalam islam, bolehkah istri bekerja dalam islam, apakah bekerja dalam islam dapat dijadikan sarana ibadah, disiplin bekerja dalam islam
bekerja dalam islam, bekerja dalam islam hukumnya adalah, bekerja menurut islam adalah ibadah, istri bekerja dalam islam, etika bekerja dalam islam, bekerja keras dalam islam adalah, bekerja menurut agama islam, bekerja menurut ajaran islam, hukum bekerja dalam agama islam, hukum bekerja dalam agama islam, bekerja keras dalam agama islam, capek bekerja dalam islam, bolehkah istri bekerja dalam islam, apakah bekerja dalam islam dapat dijadikan sarana ibadah, disiplin bekerja dalam islam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar