Meraih Kemuliaan dengan Bekerja



oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Bekerja adalah salah satu ciri hidup manusia. Tanpa bekerja seperti tiada kehidupan bagi manusia. Karenanya, bekerja merupakan salah satu bentuk pertahanan diri manusia. Kehormatan diri manusia juga terdapat dalam bekerja. 

Mencari nahkah yang halal dengan bekerja apapun itu suatu kemuliaan. Semua pekerjaan yang halal itu kemuliaan, walaupun sekedar memanggul kayu bakar.
Rasulullah Saw bersabda: Sungguh seorang dari kalian yg memanggul kayu bakar dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya. (HR.Bukhari).


Jadi, jangan pikir bahwa pekerjaan tukang panggul kayu itu hina, jangan pikir tukang cangkul di sawah itu hina, jangan pikir pedagang asongan itu hina, mereka semua itu punya kemuliaan karena bekerja…
Tukang cangkul disawah yang berpakaian lusuh jauh lebih mulia ketimbang orang-orang berdasi tapi senang menipu atau meminta-minta...
Bangkit untuk bekerja! Angkat kehormatan kalian dengan kerja yang bersungguh-sungguh…
Raih kemuliaan dan kesejahteraan dengan bekerja…
1.Laki-laki Muslim Wajib Bekerja

Bukan laki-laki yang sebenarnya bila sekedar tampil sok jago, petantang-petenteng, pakai kaos loreng, pakai batu akik besar-besar, sok paling kuat dan berani, senang mencela orang lain tanpa hak, tapi tidak pernah sebentar saja menjumpai peperangan, juga tidak punya pekerjaan yang halal.
Menjadi laki-laki itu minimalnya mampu bekerja. Karena laki-laki itu harus menunaikan kewajiban bekerja. Allah SWT berfirman: ”….Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya…..” (Q.S. Al-Baqarah: 233).

Bekerja itu mendekati amal jihad. Suatu bentuk latihan jihad yang paling mudah dilaksanakan adalah bekerja. Bahkan, bekerja itu dapat menjadi bagian dari jihad, bila dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh, profesional-proporsional, rajin, kuat, tidak mengabaikan ibadah, dan bertujuan baik dan benar..

Diriwayatkan, beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat) dilakukan untuk jihad di jalan Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyela mereka dengan sabdanya, “Janganlan kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah. Namun jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan setan.” (HR Thabrani)
Apabila kalian saat ini sudah memiliki pekerjaan, maka syukuri saja dan teruslah bekerja. Sedangkan bila kalian saat ini belum memiliki pekerjaan atau menunggu pekerjaan, maka segera cari pekerjaan apa saja yang penting halal.

2.Kemuliaan Pekerja Mampu Berbagi

Antara berbagi dengan menerima itu sama-sama merupakan akhlak yang baik. Namun tentu, nilai morilnya sangat berbeda. Berbagi itu lebih tinggi nilai morilnya daripada menerima. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah….” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan meminta-minta, dapat digolongkan sebagai perilaku yang jelek. Meminta-minta tidak dapat disebut akhlak. Meminta-minta dalam konteks tersebut adalah meminta-minta tanpa hak dan kewajiban.
Meminta tanpa hak dan kewajiban sangat berbeda dengan menuntut hak yang sudah menunaikan kewajiban. Dalam konteks ini, menuntut hak bukan perilaku jelek. Itu tergolong suatu kebaikan dalam hal menjaga hak yang dapat dipertangung jawabkan. Namun disarankan untuk tidak memaksa, supaya tidak terjadi perselisihan atau pertentangan yang besar atau konflik berkepanjangan. Kecuali hak itu sangat penting yang bila tidak dituntut akan semakin memperbesar kezaliman.

Secara moril, status orang yang menahan hak orang lain, itu hutang yang wajib ditunaikan. Dalam konteks inilah, orang yang ditahan haknya lebih mulia derajatnya daripada orang yang menahan haknya, orang yang tidak berhutang tentu lebih baik dari orang yang berhutang.
Kesadaran berbagi lebih baik daripada menerima, bila terjadi pada suatu masyarakat, maka masyarakat itulah yang dapat disebut sebagai masyarakat sejahtera. Masyarakat tersebut tidak lagi menerima sedekah, melainkan sebagai pemberi sedekah kepada masyarakat lain yang belum sejahtera.

Bila pekerja ingin mengangkat kehormatannya, maka pekerja harus mampu berbagi atau bersedekah. Setelah semua kebutuhan pokok hidup sehari-hari terpenuhi, dan punya penghasilan yang lebih, mulai saat itulah harus mampu mengatur penghasilan untuk berbagi dan membangun masa depan yang lebih baik.
loading...

bekerja dalam islambekerja dalam islam hukumnya adalah, bekerja menurut islam adalah ibadahistri bekerja dalam islametika bekerja dalam islam, bekerja keras dalam islam adalah, bekerja menurut agama islam, bekerja menurut ajaran islam, hukum bekerja dalam agama islamhukum bekerja dalam agama islam, bekerja keras dalam agama islam, capek bekerja dalam islambolehkah istri bekerja dalam islamapakah bekerja dalam islam dapat dijadikan sarana ibadah, disiplin bekerja dalam islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar