31 ALASAN MELAWAN (PRA & PASCA AKSI BELA ISLAM 411)





Penulis: Ari Ariyandi Gunawan 

Pada mulanya ini sekedar komentar-komentar perlawanan dengan alasan kebenaran di media sosial facebook dalam merespon persoalan umat, terutama pra dan pasca Aksi Bela Islam  ke II atau terkenal juga dengan sebutan aksi 411, 4 November 2016 di Jakarta.
411 adalah aksi demonstrasi besar-besaran dengan isu utama penjarakan Ahok Si Penista Agama, yang kemudian bergeser menjadi isu turunkan Jokowi saat menjalang malam hari. Aksi yang digelar dari mesjid istiqlal dan sekitar monas menuju istana negara itu, berlangsung dari pagi sampai malam hari, bahkan ada yang menuntaskannya sampai dini hari.
Komentar-komentar perlawanan tersebut sepertinya tidak akan basi bila dijadikan panduan pemikiran untuk melawan kezaliman, tertutama melawan para penista Agama dan ulama, dan meluruskan pemahaman Islam dan politik. Karena itulah komentar-komentar perlawanan tersebut kemudian  saya kumpulkan disini.


1.Tanpa Ulama Tiada Konstitusi Negara
Orang-orang yang menghina Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, seperti punya penyakit dihatinya dan akalnya pun sudah rusak. Kebodohan mereka selalu dipelihara. Mereka kira syariat itu sekedar main-main. Mereka kira syariat itu bertentangan dengan Hak Asasi Manusia. Padahal tanpa syariat, niscaya tidak ada Hak Asasi Manusia yang bermartabat. Mereka kira paling konstitusional, sedangkan yang pro-syariat dianggapnya inkonstitusional. Padahal tanpa ulama, mustahil ada konstitusi negara. Mereka adalah orang-orang yang tidak sadar bahwa Indonesia berdiri, berdaulat, dan menjadi suatu bangsa yang beradab, karena adanya peran para ulama yang niscaya memperjuangkan tegaknya syariat Islam. (29 Desember 2016)

2.Islam dan Keindonesiaan
Suatu pandangan yang dangkal, kalau menganggap nilai-nilai keindonesiaan terlepas dari Islam. Karena Indonesia, semenjak awal didirikannya sampai saat ini, sangat dipengaruhi oleh peran pemikiran para ulama. Sehingga segala hal yang menyangkut keindonesiaan, nilai-nilai Islam selalu hadir didalamnya, walaupun dalam bentuk yang kurang jelas menegaskan keislamannya. Indonesia dalam sejarah, bahasa, hukum, pendidikan, sosial, bahkan seni budaya, telah banyak yang terpengaruhi dengan nilai-nilai Islam. Bila saat ini, para da’i, ulama, dan aktivis ingin mempertegas sikapnya, menolak penistaan terhadap Islam, jangan dianggap itu sebagai suatu masalah umat Islam saja, tapi juga termasuk keindonesiaan.
Bila rezim sekarang ini, ingin etika terwujud berdasarkan kesadaran, menjadikannya lebih tinggi daripada hukum, maka seluruh masyarakat harus terjamin pendidikannya, dan tidak boleh ada yang menganggur. Sebab, itulah persoalan masyarakat yang paling utama dan mendasar, yang sangat berpengaruh dalam membangun etika dalam peradaban suatu bangsa. Kalau masalah pendidikan dan pengangguran saja tidak bisa diatasi, etika diatas hukum hanya retorika belaka.
*Pernyataan menjelang aksi bela Islam jilid II di Jakarta 4 November 2016….


loading...

3. Larang Aksi Bela Islam Sama dengan Menghina Ilmu
Kalau kampus-kampus atau institusi pendidikan tinggi melarang Aksi Bela Islam pada 4 November 2016, itu sama juga mendukung penghinaan terhadap ilmu. Untuk apa perguruan tinggi, yang seharusnya hidup dengan tradisi keilmuan, malah mendukung pihak-pihak yang merendahkan ilmu. Perguruan tinggi, sejatinya menjunjung tinggi ilmu setinggi-tingginya. Kalau partisan dimaknai sebagai kecenderungan bermain politik, pelarangan aksi bela Islam kepada para mahasiswa jauh lebih partisan. Karena perguruan tinggi bisa saja memainkan otoritasnya untuk mendukung pihak-pihak yang merendahkan ilmu, sedangkan para mahasiswa yang ikut aksi bela Islam, mungkin sekedar berbekal idealisme. (3 November 2016)


4. Indonesia Negara Beragama
Indonesia adalah negara Agama. Wacana yang dominan hadir dalam pembukaan UUD 1945, secara jelas menyebut nama Allah yang Maha Kuasa, sebagai eksistensi utama dalam kekuasaan. Juga dalam Pancasila, karena Agama sangat mempengaruhi pemikiran bangsa Indonesia, maka sila pertama menyatakan ketuhanan yang Maha Esa. Sila pertama ketuhanan yang Maha Esa menjadi prioritas utama. Itu menunjukan bahwa ketuhanan menjadi ide pokok dalam bernegara di Indonesia. Bahkan lebih jelas lagi tercantum dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2. Dengan demikian, negara wajib menjaga serta melindungi Agama dari para penghina Agama dan ulama. (16 Oktober 2016)

5. Ayo Bela Ulama
Mereka yang menghina ulama, sama dengan orang-orang yang tidak berilmu. Karena ketika ulama berfatwa itu merepresentasikan ilmu. Menghina ulama seperti juga menghina ilmu. Ulama itu takut kepada Allah. Ulama sangat hati-hati dalam menyampaikan kebenaran. Ulama adalah pewaris para nabi. Ketika para ulama sudah tidak dihormati lagi, masa depan umat Islam bisa ragu terhadap ajarannya.
Ayo bela para ulama!
ALLAHU AKBAR…


6. Agama dan Ideologi Integral
Kaum sekuler biasanya menganggap Agama sebagai urusan akhirat. Sedangkan ideologi dianggapnya sekedar urusan dunia. Padahal apa yang dikerjakan di dunia sehari-hari, bila sejalan dengan Agama dan ideologi, itu dapat mendatangkan kebaikan di dunia, juga di akhirat nanti. Agama dan ideologi dalam sistem Islam sangat erat kaitannya, Agama itu spiritualitas atau ruhiyah, kejelasan beragama ada dalam Akhlak dan ibadah mahdah. Sedangkan dalam ideologi terdapat nilai-nilai dan ilmu pengetahuan, kejelasan berideologi ada dalam ibadah ghairu mahdhah, termasuk didalamnya aktivitas syiasi (politik). Antara Agama dengan ideologi, dalam pengoperasiannya tidak terpisah di seluruh aspek kehidupan. Konsep integral antara Agama dan ideologi itu hanya ada dalam sistem Islam, tidak ada dalam Sosialisme, Komunisme, dan Kapitalisme. (1 Oktober 2016)

7.Reformasi dan Perlawanan
Negara tanpa hujjah kebenaran dari pemimpinnya, di negara apapun itu, akan terbiasa mengelola kekuasaannya secara zalim, bertindak hanya mengikuti hawa nafsu, menutupi setiap kelemahannya hanya dengan menyebarkan kedustaan, membodohi rakyat dengan membatasi, mengontrol, mengawasi, dan memblokir media yang kritis terhadapnya, melemahkan dan menyingkirkan setiap unsur edukasi yang tidak sejalan dengan kebijakannya. Negara semacam itu, sama saja dengan negara yang tengah membangun pradaban primitif. Maka tiada tindakan atau ucapan yang lebih baik sebagai manusia yang beradab terhadap negara semacam itu, kecuali dengan reformasi dan PERLAWANAN. (3 Januari 2017)

8.Indonesia Bermartabat
Individu muslim atau sekelompok muslim yang mengamalkan amar makruf nahi mungkar itu tengah membangun karakter Islam sebagai solusi. Walaupun kadang ada yang terpaksa menggunakan cara-cara keras dalam penerapannya. Bagi orang-orang yang berpenyakit dihatinya akan beranggapan bahwa karakter tersebut sebagai pembuat masalah. Merekapun sepertinya senang mencari-cari kesalahan para ulama dan umat Islam.
Bahkan mereka itu mengangap dakwah yang tegas menyampaikan kebenaran sebagai ujaran kebencian. Mereka enggan mendengar nasehat, enggan memperbaiki diri, dan tidak respek terhadap kebenaran yang disampaikan para ulama dan ustad. Padahal tidak mungkin peradaban bangsa ini bisa berkemajuan dan benilai tinggi, bila bangsa ini mengabaikan amar makruf nahi mungkar. Mari kita raih masa depan Indonesia yang bermartabat dengan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. (19 Januari 2017)

9.Ras dalam Islam
Kegagalan memahami kebinekaan seringkali menuduh Islam sebagai pihak yang merusak kebinekaan. Islam diangggapnya hanya untuk memenuhi kepentingan Arab saja. Padahal Islam menempatkan ras dan suku bangsa secara proporsional. Islam di Indonesia menempatkan kebinekaan sebagai identitas nasional, supaya setiap warga negara Indonesia yang multikultural bisa saling mengenal, tidak lebih dari itu.
Bukankah dalam sejarahnya di Republik Indonesia ini, tidak ada satupun fatwa ulama yang melarang suatu ras atau suku bangsa tertentu? Lagi pula, tidak mungkin ada ulama yang rasis. Maka tidaklah dapat dibenarkan menuduh bahwa yang merusak kebinekaan itu Islam. Juga tidaklah dapat dibenarkan memecah belah Islam dan Arab.
Kaum paganis modern sepertinya terbiasa membangun eksistensinya dengan memperkuat karakter kedaerahan, mengideologisasi ras dan suku bangsa - menjadikannya sebagai suatu kebenaran (nilai), dan mempolitisirnya untuk meraih kekuasaan.
Sumber konfik yang terjadi di dunia ini seringkali didasari superioritas terhadap ras dan suku bangsa. Karena itu rasisme tidak layak dipelihara manusia. Itupun bila manusia telah menyadari jati dirinya sebagai manusia dan mengenal hakikat kemanusiaannya dalam Islam. (29 Januari 2017)

10.Agama dan Politik
Bukan menghina kepada Agama, tapi kepada pelaku politik yang menggunakan Agama sebagai alat politik. Kalau ada yang berpendapat semacam itu dalam kasus penistaan Agama, bisa jadi sangat dipengaruhi oleh suatu pemahaman tekstual saja terhadap Agama. Agama hanya dipahami secara terpisah dengan penganutnya, bahkan terpisah sangat jauh, sebagaimana Agama tidak integral dengan pelaku politik. Agama hanya dianggap sekedar produk literasi biasa, yang sama halnya dengan karya sastra, filsafat, dan kajian-kajian pengetahuan saja. Kalau Agama dipahami seperti itu, Agama akan menjadi tidak sakral lagi. Kalau sudah tidak sakral lagi, Agama akan sulit diyakini kebenarannya oleh suatu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, saya menolak suatu pemahaman yang ingin memisahkan Agama dengan politik. (23 April 2017)


11.Tegakan Nilai-Nilai Islam

Jangan jadikan alasan keengganan untuk menegakan nilai-nilai Islam dipentas politik dan kekuasaan sebagai suatu bentuk kesabaran….
Jangan jadikan alasan ketakutan terhadap penguasa zalim sebagai suatu bentuk ketawaduan…
(11 Mei 2017)


12. Lawan Kriminalisasi Ulama

Kriminalisasi ulama merupakan suatu upaya penguasa zalim dalam memperlemah kebenaran yang di bawa para ulama. Kriminalisasi ulama seperti tengah menakut-nakuti dan berupaya menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang lurus serta menyeluruh. Kriminalisasi ulama adalah suatu upaya penguasa zalim untuk memecah belah umat Islam. Ketika kepercayaan masyarakat mulai lemah terhadap para ulama, itu kesempatan terbaik bagi penguasa zalim untuk menguatkan kekuasaannya. Bila telah terjadi seperti itu, maka setiap aktivis Islam wajib melawan upaya kriminalisasi terhadap ulama, minimal secara lisan atau tulisan. (21 Mei 2017)


13. Optimis Islam Berkuasa...

Waspada! Ada semacam upaya membentuk opini seolah-olah seluruh aparatur negara sedang berhadap-hadapan dengan umat Islam. Tujuannya untuk mendelegitimasi Islam dalam negara. Bila opini itu berhasil terbentuk secara kuat dan siginifikan kemudian rezim sekarang ini mendapat simpati publik, maka tidak tertutup kemungkinan akan terjadi sekularisasi terparah dalam sejarah Indonesia. Untuk mencegahnya, umat Islam harus tetap bergerak secara damai dan konstitusional walau dalam bentuk perlawanan dan kemarahan, kecuali bila musuh-musuh Allah dalam negara sudah putus asa dan membuka secara jelas front perang bersenjata yang memanfaatkan fasilitas negara…berperanglah bila diperangi….
Optimis tahun 2019, Islam bekuasa di Indonesia, menang secara konstitusional, demokratis, elegan dan damai…( 26 Mei 2017)


14.Lawan Pengaruh Intelejen Penguasa Zalim
Kenapa teroris berani mati? Apakah mereka benar keyakinannya? Saya jawab begini saja, tentara komunis, tentara fasis, sepertinya banyak juga yang berani mati. Di Turki, tentara PKK sebagai representasi komunis terkenal sering mengacaukan pemerintahan AKP bersama Erdogan dengan berbagai macam serangan. Dulu tentara fasis Jepang pada perang dunia 2 terkenal juga berani mati. Tapi dengan itu saja, tidak bisa dianggap telah benar. Keberanian dalam perang sangat dipengaruhi doktrinasi dan semangat kepahlawanan.
Kebangkitan Islam dan Arab di Timur Tengah saat ini menjadikan para tentara Islam terkenal sebagai tentara yang lebih tampak berani mati dibandingkan tentara dari ideologi lain di dunia ini. Perang di Irak, Palestina, dan Suriah begitu jelas memperlihatkan kepada dunia tentang sikap keberanian dan kepahlawanan para tentara Islam. Sehingga tidak tertutup kemungkinan intelejen penguasa zalim di Indonesia bermain memanfaatkan potensi tersebut. Banyak orang kemungkinannya bisa saja didoktrin dengan cara seolah-olah memperjuangkan Islam oleh para ustad gadungan bentukan intelejen penguasa zalim, dengan iming-iming surga dan bidadari. Padahal ketika mereka melaksanakan bom bunuh diri, mereka secara politik telah membantu komunis atau ideologi lain untuk menghambat kebangkitan Islam. Terlepas apakah para pelaku bom bunuh diri itu meraih syahid atau tidak. Wallahu a’lam
Untuk mencegah supaya tidak dikendalikan oleh pengaruh intelejen penguasa zalim yang jahat, umat Islam harus terbiasa memahami politik Islam, walau tidak terlibat dalam politik praktis. Umat Islam perlu mengetahui peta dan alur politik yang sedang terjadi di tanah air. Sehingga umat Islam tidak mudah diprovokasi untuk melakukan aksi-aksi inkonsitusinal. Begitu pula umat Islam tidak pantas mengabaikan kecintaan kepada Al-qur’an. Karena dengan kecintaan kepada Al-qur’an, terbiasa membaca dan memahaminya, umat Islam pasti cerdas.
Saat ini, untuk meraih kemenangan Islam di Indonesia, masih sangat berpotensi dapat dimenengkan secara politik, dengan aksi-aksi damai, konstitusional, dan demokratis…
Tapi kita harus selalu siap berperang, bila umat Islam di negeri ini telah dibantai penguasa zalim…(29 Mei 2017)

15.Umat Islam Tidak Galau Kebinekaan
Umat Islam tidak akan galau terhadap kebinekaan. Umat Islam dapat hidup damai dengan suku bangsa, ras, dan Agama apapun. Karena dalam Islam ada ajaran menghargai serta menghormati kebinekaan dan perbedaan pada batas tertentu. Hanya saja kaum sekuler liberalis seringkali beranggapan bahwa ketika Islam berkuasa seolah-olah semua orang harus dipaksa masuk Islam, masyarakatnya harus homogen, dan hukumnya kejam.
Sebetulnya kaum sekuler liberalis itulah yang seringkali galau, satu sisi mereka menghendaki kebinekaan, sedangkan pada sisi yang lain mereka tidak suka kebinekaan yang dipimpin umat Islam.
Padahal Islam selalu berupaya menawarkan solusi atas persoalan kehidupan manusia.Islam membangun peradaban dengan dakwah dan tarbiyah tanpa paksaan.
Perhatikanlah salah satu ayat dalam Al-qur’an berikut ini yang menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak galau terhadap kebinekaan: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat : 13)
(30 Mei 2017)

16.Keterpilihan Muslim Menegakan Kebenaran…

Menegakan kebenaran itu tidak perlu menunggu hadirnya pemimpin ideal dan sempurna. Karena setiap muslim berpotensi melakukannya…

Menegakan kebenaran itu tidak perlu pesismis karena tidak punya garis keturunan yang dekat dengan para nabi….
Menegakan kebenaran itu tidak perlu mengangungkan kesukuan, ras, status sosial, dan gelar-gelar kehormatan lainnya.
Keterpilihan seorang muslim bukan terletak pada kepasrahan terhadap keadaan, melainkan upaya menegakan kebenaran, membangun kebaikan, meluruskan kezaliman, dan menghadirkan eksistensi Allah di muka bumi.
Allah memberi syarat untuk mencapai keterpilihan bagi setiap muslim, yaitu melaksanakan amar makruf nahi mungkar dan memiliki keimanan kepada Allah. Allah SWT berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran: 110). (31 Mei 2017)

17.Memahami Pancasila
Memahami Pancasila itu bisa dari presfektif Bung Karno, Masyumi, dan Suharto. Ketiga presfektif tersebut masih berlaku di Indonesia. Ketiga presfektif tersebut sepertinya tidak pernah berhenti mempengaruhi pertarungan politik di Indonesia. Hanya saja, banyak orang yang tidak mengerti akan hal itu. Lagi pula memang tidak mudah mengukur kecenderungan ideologis dari setiap elemen politik. Maka menjadi Pancasilais itu tidak bisa sekedar berkata “Saya Pancasila”.Namun agar mudah memahaminya di era sekarang ini, ada beberapa hal yang sangat memungkinkan suatu elemen politik dapat dianggap Pancasilais, yaitu mengokohkan NKRI, punya rasa nasionalisme yang kuat, religius, tidak mendukung penghina Agama dan ulama, berkeadilan sosial, moralis, tidak merusak generasi dan peradaban, tidak memecah belah bangsa, dan tidak menjual aset negara. (2 Juni 2017)

18.Lawan Kemungkaran Penguasa Zalim...
Ketika hati sudah membenarkan kemungkaran yang dilakukan penguasa zalim di negeri ini, yang membahayakan bangsa, negara, dan umat Islam, maka itu telah menjadi pendukung kemungkaran dan penguasa zalim.
Karena itu, gunakanlah lisan sebagai representasi hati dan keimanan untuk melawan segala bentuk kemungkaran yang dilakukan penguasa zalim di negeri ini…
Menolak kemungkaran di dalam hati adalah selemah-lemahnya iman, apalagi membenarkan kemungkaran..
Ketahuilah bahwa membenarkan kemungkaran itu terlarang walau tersembunyi dalam hati…
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)
 (3 Juni 2017 )

19. Halalnya Kehormatan Penguasa Zalim...
Kriminalisasi ulama adalah perbuatan yang jauh dari Allah. Membubarkan ormas Islam sama saja dengan menentang peradaban Islam. Mengecam para mubaligh yang punya ghirah tinggi di mesjid-mesjid adalah perbuatan bathil dan jauh dari syiar Islam. Itulah perbuatan-perbuatan yang menampakan keengganan menjadikan wahyu Allah sebagai sumber solusi…
“….Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 45)
Apabila yang melakukan kezaliman itu adalah para pemimpin di negeri ini, maka mereka telah halal kehormatannya. Sehingga aib kinerja mereka pantas diungkap dan dihinakan dihadapan rakyat supaya rakyat tidak lagi mempercayaai atas kepemimpinan mereka…
Rasulullah saw bersabda :"Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman." (HR Abu Daud, Nasa-i, Ibnu Majah).

(3 juni 2017).

20. Transnasional Keindonesiaan

Kaum sekuler seringkali lupa diri, saking ingin terkesan nasionalis, ingin memperlihatkan keindonesiaan, mereka rajin mendelegitimasi ideologi transnasional, yang sangat tendensius terhadap gerakan Islam dari Timur Tengah. 

Padahal secara realistis, keindonesiaan tidaklah terlepas dari pengaruh ideologi transnasional. Mereka lupa bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara memiliki banyak serapan dari bahasa Asing, yang notabene merupakan produk pemikiran dari luar Indonesia, bahkan serapan dari bahasa Arab juga banyak. 
Nama Indonesia juga, sangat dipengaruhi oleh bahasa Asing. Bahkan lagu Indonesia Raya, tidak mencerminkan kekhasan musik Indonesia, hanya saja liriknya memang merepresentasikan lagu kebangsaan Indonesia. 
Kalau mereka (kaum sekuler) saat ini gencar mendelegitimasi kebangkitan Islam dengan isu ideologi transnasional, sebaiknya mereka introspeksi dulu terhadap latar belakang keindonesiaan. 
Tidak perlu berharap ada kemurniaan Indonesia, yang penting Indonesia punya hujjah untuk maju, adil, dan sejahtera.
23 Juni 2017)

21.Menguatkan Kesadaran Ideologis
Politik nasional adalah penentu keberpihakan kader dakwah secara ideologis. Karena politik nasional sangat berpengaruh terhadap kelangsungan politik dan kekuasaan di daerah-daerah. Keberpihakan kader dakwah secara ideologis di daerah seringkali tidak simetris dengan politik nasional. Memang banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya kondisi semacam itu. Namun bila kesadaran terhadap ideologi itu tertanam sangat kuat dan otonom, maka kader dakwah akan lebih memprioritaskan ideologi ketimbang ketokohan dan kepentingan-kepentingan lainnya…Insya Allah, saya akan berupaya berperan untuk menguatkan kesadaran ideologi...(4 Juli 2017)

22. 411 Tumbuhnya kesadaran Ideologis
Hadirnya aksi bela Islam 411 pada tahun 2016, bagi saya merupakan suatu kondisi yang saya tunggu-tunggu semenjak tahun 2007.Tahun 2007 adalah tahun dimana saya mulai serius mempelajari Islam sebagai ideologi. Aksi 411 adalah kondisi awal tumbuhnya kesadaran ideologis di Indonesia. Aksi 411 juga merupakan suatu fase furqan yang masih tergolong sangat muda. Walau masih muda, aksi 411 cukup membangkitkan optimisme untuk kemenangan Islam di tahun 2019. (8 Juli 2017)

23.Gembira dalam Ancaman Perang…

Negeri ini tengah dilanda arogansi rezim tirani, ancaman konflik horizontal, tindakan aparat yang jauh dari memenuhi rasa keadilan, akal sehat yang langka, aksi teror yang tak jelas tujuan, permainan intelejen pengecut, rakyat kecil yang tertindas, dan merebaknya kebohongan dikalangan para pejabat negara.

Namun kondisi semacam itu semua tidak perlu membuat gentar, tidak perlu pesismis menghadapi masa depan, jangan bersedih hati, jangan takut, bergembiralah untuk meraih kemenangan. Karena bergembira dalam ancaman perang adalah wujud kerinduan kepada surga.
Rasulullah saw bersabda: Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayangan pendang (HR.Bukhari dan Muslim). 10 Juli 2017)

24.Terorisme dan Radikalisme

Kalau terorisme dan radikalisme sebagai istilah yang negatif itu memiliki definisi yang jelas, tetap, dan lengkap, semua orang yang ingin dianggap baik, pasti menghindarinya, termasuk para teroris dan orang-orang radikal yang ada dalam pemerintah. Setelah orang-orang yang di tuduh radikal dan teroris itu sudah tidak teridentifikasi lagi, yang ada sekedar orang-orang yang pura-pura…

Selama terorisme dan radikalisme tidak dapat didefinisikan secara jelas, selama itupula istilah tersebut hanya dijadikan alat propaganda oleh rezim yang sedang berkuasa saat ini untuk mengeliminir ideologi pesaingnya…
(15 Juli  2017)

25.Lawan Kediktatoran...

Sebuah rezim akan mengarah kepada kediktatoran bila telah memaksakan ideologi, mengeliminir pengetahuan-pengetahuan ilmiah, dan mengembangkan subjektivitas dalam setiap kebijakan pemerintah. Rakyat akan dibodohi dan dipaksa supaya tunduk kepada negara. Rezim radikalis yang lemah akal itu tak akan memberikan kesempatan yang besar untuk berbeda pendapat dengannya. 

Kediktatoran adalah musuh kemanusiaan, maka wajib bagi manusia untuk mencegah dan melawannya…
Bangkitlah wahai manusia-manusia yang sadar akan hakikat kemanusiaannya… 
Jangan biarkan kebebasan dan cita-cita kalian dirampas rezim tirani…
Siapkan diri kalian untuk melakukan aksi-aksi kemarahan….
(16 Juli  2017)…

26.Pendidik Bukan Penguasa…
(Surat Terbuka kepada Para Pendidik)
Assalamualaikum, Wr,wb

Kebenaran bukan sekedar hasil kesepakatan orang banyak…. 

Bila kebenaran itu hasil kesepakatan orang banyak, maka harus punya alasan yang kuat…
Kalau kebenaran itu sekedar mengikuti suka atau tidak suka orang banyak, itu bukan kebenaran namanya, itu hawa nafsu…
Anda tidak layak menjadi pendidik…

Anda terlalu banyak tunduk kepada hawa nafsu…
Kalau saat ini Anda masih menjadi pendidik, sebaiknya Anda mengundurkan diri…
Karena Anda tidak sedikitpun memiliki motif untuk membangun peradaban, selain hanya main-main, suka..atau tidak suka…
Anda pendidik bukan penguasa…maka Anda tidak pantas menentukan suatu kebijakan tanpa pertimbangan yang matang… 

Anda pendidik bukan penguasa…maka Anda tidak pantas memihak kepada kepentingan lain, kecuali kepentingan pendidikan…
Anda pendidik bukan penguasa…maka Anda harus punya sikap dan independensi, terbebas dari pengaruh kepentingan penguasa…
Saya ingatkan, Anda harus serius mendidik. Karena anak-anak didik Anda adalah putra-putri Islam. 

Bila Anda tidak serius bekerja, seenaknya saja mengajar, keluar masuk ke sekolah tidak jelas, menyusun jadwal ngawur, menentukan kebijakan secara sembarangan, itu artinya Anda tengah mengkhianati umat Islam.
Peradaban umat Islam tidak akan mencapai kejayaannya, kecuali pendidiknya serius mengajar, punya dedikasi, tidak banyak basa basi ketika bekerja, tidak sekedar senang bermain yang tidak ada unsur edukasinya…Bekerja sebagai pendidik tidak cukup berbekal perasaan suka dan tidak suka…
Sistem pendidikan akan hancur bila tunduk kepada hawa nafsu…

Saya punya alasan untuk melawan…

Saya berpegang kepada kebenaran untuk mewujudkan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik…
Hormat Saya 

Ari Ariyandi Gunawan (5 Agustus 2017)

27. Islam Pasti Menang

Kenapa harus takut Islam berkuasa? Padahal, tidak ada dalam sejarahnya Islam menjajah di suatu negeri apapun, tidak ada dalam sejarahnya Islam membantai orang-orang yang sekedar berbeda pendapat dengannya, tidak ada dalam sejarahnya Islam membungkam media-media kritis terhadap kekuasaan, bahkan tidak ada dalam sejarahnya Islam memaksa orang-orang kafir masuk Islam…

Kaum sekuler yang parah atas dasar kedengkiannya seringkali memandang sinis terhadap Islam yang berpolitik, menganggap ekstrimis dan radikal orang-orang Islam yang serius mengemban dakwah, dan mencurigai setiap aktivitas dakwah…..
Saya yakin Islam pasti menang…

Karena Islam adalah kebenaran… 
Sedangkan kebathilan pasti binasa….(16 agustus 2017)

28.Muslim Taat
Muslim tapi menganut ideologi selain Islam, kemudian mengecam Islam sebagai ideologi yang berbahaya, bahkan memilih pemimpin kafir, itulah muslim yang tidak-tidak. Muslim yang tidak bersosial, muslim yang tidak berpolitik, muslim yang tidak berpendidikan, muslim yang tidak berekonomi, dan muslim yang tidak-tidak lainnya. Adapun muslim yang sadar akan syumuliyatul Islam, muslim yang selalu berupaya dengan semampunya berislam dalam seluruh aspek kehidupan, layaklah disebut sebagai muslim taat. Dengan Islam, itulah yang akan memenangkan Allah dalam seluruh aspek kehidupan. (Facebook, 26 Agustus 2016).

29.Kritis Bukan Anti Pemerintah
Suatu rezim yang anti kritik, pasti menganggap pesaing politiknya sebagai anti pemerintah. Ketika menjadi bagian dari pemerintah atau membantu pemerintah, semuanya harus sependapat denganya walaupun keliru. Berbeda pendapat sedikit saja, bisa dianggapnya sebagai anti pemerintah. Bisa sehat bagaimana suatu negara, bila terhadap kritikan saja sudah antipati. Membangun suatu negara yang demokratis, tentu harus akrab dengan kritikan.

Kritik yang membangun itu dimulai terhadap sikap yang perlu diluruskan, bukan kepada pribadi orangnya, apalagi fisiknya.
(31 Agustus 2017)

30. Matinya Nurani Pemimpin Negara


Matinya nurani seorang pemimpin negara, konstitusi sebaik apapun tidak akan hidup. Konstistusi hanya dijadikan ‘pajangan’ atau simbol kemapanan sebuah negara. Kadang ideologi negara pun sekedar dijadikan perisai untuk menangkis serangan politik dari lawannya. Menyadari hal tersebut, setiap aktivis pergerakan tidak perlu terlena dengan kemapanan sistem yang telah terwujud, tidak pantas mengabaikan motivasi dan ide-ide perubahan. Berjuang terus, berupaya meluruskan kezaliman pemimpin negara atau menggantikannya dengan yang lebih baik! (21 september  2017)


31. Saat yang Tepat Menggantikan Pemimpin Negara

Pemimpin negara yang lemah kesadaran ideologinya, lemah dalam membangun produktivitas negaranya, lemah dalam membangun karakter kemandirian bangsanya, lemah pembasisan intelektualnya di kalangan pendidik, lazimnya hanya mampu menutup-nutupi kelemahannya dengan media dan propaganda! Tidak ada prestasi yang dapat membanggakan rakyatnya, selain menampilkan citra-citra yang semu dan sinetron yang dikemas dalam berita di media-media mainstream yang sekedar berorientasi kepentingan. Tidak ada yang pantas diharapkan dari pemimpin negara semacam itu, kecuali untuk meluruskannya. Tapi, bila telah keterlaluan kezaliamannya, itulah saat yang tepat untuk menggantikannya! (24 september 2017)



loading...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar