Penulis: Ari Ariyandi
Gunawan
Pada mulanya ini sekedar
komentar-komentar perlawanan dengan alasan kebenaran di media sosial facebook
dalam merespon persoalan umat, terutama pra dan pasca Aksi Bela
Islam ke II atau terkenal juga dengan sebutan aksi 411, 4 November
2016 di Jakarta.
411 adalah aksi
demonstrasi besar-besaran dengan isu utama penjarakan Ahok Si Penista Agama,
yang kemudian bergeser menjadi isu turunkan Jokowi saat menjalang malam hari.
Aksi yang digelar dari mesjid istiqlal dan sekitar monas menuju istana negara
itu, berlangsung dari pagi sampai malam hari, bahkan ada yang menuntaskannya
sampai dini hari.
Komentar-komentar
perlawanan tersebut sepertinya tidak akan basi bila dijadikan panduan pemikiran
untuk melawan kezaliman, tertutama melawan para penista Agama dan ulama, dan
meluruskan pemahaman Islam dan politik. Karena itulah komentar-komentar
perlawanan tersebut kemudian saya kumpulkan disini.
1.Tanpa Ulama Tiada
Konstitusi Negara
Orang-orang yang
menghina Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu, seperti punya penyakit dihatinya
dan akalnya pun sudah rusak. Kebodohan mereka selalu dipelihara. Mereka kira
syariat itu sekedar main-main. Mereka kira syariat itu bertentangan dengan Hak
Asasi Manusia. Padahal tanpa syariat, niscaya tidak ada Hak Asasi Manusia yang
bermartabat. Mereka kira paling konstitusional, sedangkan yang pro-syariat
dianggapnya inkonstitusional. Padahal tanpa ulama, mustahil ada konstitusi
negara. Mereka adalah orang-orang yang tidak sadar bahwa Indonesia berdiri,
berdaulat, dan menjadi suatu bangsa yang beradab, karena adanya peran para
ulama yang niscaya memperjuangkan tegaknya syariat Islam. (29 Desember 2016)
2.Islam dan
Keindonesiaan
Suatu pandangan yang
dangkal, kalau menganggap nilai-nilai keindonesiaan terlepas dari Islam. Karena
Indonesia, semenjak awal didirikannya sampai saat ini, sangat dipengaruhi oleh
peran pemikiran para ulama. Sehingga segala hal yang menyangkut keindonesiaan,
nilai-nilai Islam selalu hadir didalamnya, walaupun dalam bentuk yang kurang
jelas menegaskan keislamannya. Indonesia dalam sejarah, bahasa, hukum,
pendidikan, sosial, bahkan seni budaya, telah banyak yang terpengaruhi dengan
nilai-nilai Islam. Bila saat ini, para da’i, ulama, dan aktivis ingin
mempertegas sikapnya, menolak penistaan terhadap Islam, jangan dianggap itu
sebagai suatu masalah umat Islam saja, tapi juga termasuk keindonesiaan.
Bila rezim sekarang ini,
ingin etika terwujud berdasarkan kesadaran, menjadikannya lebih tinggi daripada
hukum, maka seluruh masyarakat harus terjamin pendidikannya, dan tidak boleh
ada yang menganggur. Sebab, itulah persoalan masyarakat yang paling utama dan
mendasar, yang sangat berpengaruh dalam membangun etika dalam peradaban suatu bangsa.
Kalau masalah pendidikan dan pengangguran saja tidak bisa diatasi, etika diatas
hukum hanya retorika belaka.
*Pernyataan menjelang
aksi bela Islam jilid II di Jakarta 4 November 2016….
loading...
3. Larang Aksi Bela
Islam Sama dengan Menghina Ilmu
Kalau kampus-kampus atau
institusi pendidikan tinggi melarang Aksi Bela Islam pada 4 November 2016, itu
sama juga mendukung penghinaan terhadap ilmu. Untuk apa perguruan tinggi, yang
seharusnya hidup dengan tradisi keilmuan, malah mendukung pihak-pihak yang
merendahkan ilmu. Perguruan tinggi, sejatinya menjunjung tinggi ilmu
setinggi-tingginya. Kalau partisan dimaknai sebagai kecenderungan bermain
politik, pelarangan aksi bela Islam kepada para mahasiswa jauh lebih partisan.
Karena perguruan tinggi bisa saja memainkan otoritasnya untuk mendukung
pihak-pihak yang merendahkan ilmu, sedangkan para mahasiswa yang ikut aksi bela
Islam, mungkin sekedar berbekal idealisme. (3 November 2016)
4. Indonesia Negara
Beragama
Indonesia adalah negara
Agama. Wacana yang dominan hadir dalam pembukaan UUD 1945, secara jelas
menyebut nama Allah yang Maha Kuasa, sebagai eksistensi utama dalam kekuasaan.
Juga dalam Pancasila, karena Agama sangat mempengaruhi pemikiran bangsa Indonesia,
maka sila pertama menyatakan ketuhanan yang Maha Esa. Sila pertama ketuhanan
yang Maha Esa menjadi prioritas utama. Itu menunjukan bahwa ketuhanan menjadi
ide pokok dalam bernegara di Indonesia. Bahkan lebih jelas lagi tercantum dalam
UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2. Dengan demikian, negara wajib menjaga serta
melindungi Agama dari para penghina Agama dan ulama. (16 Oktober 2016)
5. Ayo Bela Ulama
Mereka yang menghina
ulama, sama dengan orang-orang yang tidak berilmu. Karena ketika ulama berfatwa
itu merepresentasikan ilmu. Menghina ulama seperti juga menghina ilmu. Ulama
itu takut kepada Allah. Ulama sangat hati-hati dalam menyampaikan kebenaran.
Ulama adalah pewaris para nabi. Ketika para ulama sudah tidak dihormati lagi,
masa depan umat Islam bisa ragu terhadap ajarannya.
Ayo bela para ulama!
ALLAHU AKBAR…
6. Agama dan Ideologi
Integral
Kaum sekuler biasanya
menganggap Agama sebagai urusan akhirat. Sedangkan ideologi dianggapnya sekedar
urusan dunia. Padahal apa yang dikerjakan di dunia sehari-hari, bila sejalan
dengan Agama dan ideologi, itu dapat mendatangkan kebaikan di dunia, juga di
akhirat nanti. Agama dan ideologi dalam sistem Islam sangat erat kaitannya,
Agama itu spiritualitas atau ruhiyah, kejelasan beragama ada dalam Akhlak dan
ibadah mahdah. Sedangkan dalam ideologi terdapat nilai-nilai dan ilmu
pengetahuan, kejelasan berideologi ada dalam ibadah ghairu mahdhah, termasuk
didalamnya aktivitas syiasi (politik). Antara Agama dengan ideologi, dalam
pengoperasiannya tidak terpisah di seluruh aspek kehidupan. Konsep integral
antara Agama dan ideologi itu hanya ada dalam sistem Islam, tidak ada dalam
Sosialisme, Komunisme, dan Kapitalisme. (1 Oktober 2016)
7.Reformasi dan
Perlawanan
Negara tanpa hujjah
kebenaran dari pemimpinnya, di negara apapun itu, akan terbiasa mengelola
kekuasaannya secara zalim, bertindak hanya mengikuti hawa nafsu, menutupi setiap
kelemahannya hanya dengan menyebarkan kedustaan, membodohi rakyat dengan
membatasi, mengontrol, mengawasi, dan memblokir media yang kritis terhadapnya,
melemahkan dan menyingkirkan setiap unsur edukasi yang tidak sejalan dengan
kebijakannya. Negara semacam itu, sama saja dengan negara yang tengah membangun
pradaban primitif. Maka tiada tindakan atau ucapan yang lebih baik sebagai
manusia yang beradab terhadap negara semacam itu, kecuali dengan reformasi dan
PERLAWANAN. (3 Januari 2017)
8.Indonesia Bermartabat
Individu muslim atau
sekelompok muslim yang mengamalkan amar makruf nahi mungkar itu tengah
membangun karakter Islam sebagai solusi. Walaupun kadang ada yang terpaksa
menggunakan cara-cara keras dalam penerapannya. Bagi orang-orang yang
berpenyakit dihatinya akan beranggapan bahwa karakter tersebut sebagai pembuat
masalah. Merekapun sepertinya senang mencari-cari kesalahan para ulama dan umat
Islam.
Bahkan mereka itu
mengangap dakwah yang tegas menyampaikan kebenaran sebagai ujaran kebencian.
Mereka enggan mendengar nasehat, enggan memperbaiki diri, dan tidak respek
terhadap kebenaran yang disampaikan para ulama dan ustad. Padahal tidak mungkin
peradaban bangsa ini bisa berkemajuan dan benilai tinggi, bila bangsa ini
mengabaikan amar makruf nahi mungkar. Mari kita raih masa depan Indonesia
yang bermartabat dengan dakwah dan amar makruf nahi mungkar. (19 Januari 2017)
9.Ras dalam Islam
Kegagalan memahami
kebinekaan seringkali menuduh Islam sebagai pihak yang merusak kebinekaan.
Islam diangggapnya hanya untuk memenuhi kepentingan Arab saja. Padahal Islam
menempatkan ras dan suku bangsa secara proporsional. Islam di Indonesia
menempatkan kebinekaan sebagai identitas nasional, supaya setiap warga negara
Indonesia yang multikultural bisa saling mengenal, tidak lebih dari itu.
Bukankah dalam
sejarahnya di Republik Indonesia ini, tidak ada satupun fatwa ulama yang
melarang suatu ras atau suku bangsa tertentu? Lagi pula, tidak mungkin ada
ulama yang rasis. Maka tidaklah dapat dibenarkan menuduh bahwa yang merusak
kebinekaan itu Islam. Juga tidaklah dapat dibenarkan memecah belah Islam dan
Arab.
Kaum paganis modern sepertinya terbiasa membangun eksistensinya dengan memperkuat karakter kedaerahan, mengideologisasi ras dan suku bangsa - menjadikannya sebagai suatu kebenaran (nilai), dan mempolitisirnya untuk meraih kekuasaan.
Kaum paganis modern sepertinya terbiasa membangun eksistensinya dengan memperkuat karakter kedaerahan, mengideologisasi ras dan suku bangsa - menjadikannya sebagai suatu kebenaran (nilai), dan mempolitisirnya untuk meraih kekuasaan.
Sumber konfik yang
terjadi di dunia ini seringkali didasari superioritas terhadap ras dan suku
bangsa. Karena itu rasisme tidak layak dipelihara manusia. Itupun bila manusia
telah menyadari jati dirinya sebagai manusia dan mengenal hakikat
kemanusiaannya dalam Islam. (29 Januari 2017)
10.Agama dan Politik
Bukan menghina kepada
Agama, tapi kepada pelaku politik yang menggunakan Agama sebagai alat politik.
Kalau ada yang berpendapat semacam itu dalam kasus penistaan Agama, bisa jadi
sangat dipengaruhi oleh suatu pemahaman tekstual saja terhadap Agama. Agama hanya
dipahami secara terpisah dengan penganutnya, bahkan terpisah sangat jauh,
sebagaimana Agama tidak integral dengan pelaku politik. Agama hanya dianggap
sekedar produk literasi biasa, yang sama halnya dengan karya sastra, filsafat,
dan kajian-kajian pengetahuan saja. Kalau Agama dipahami seperti itu, Agama
akan menjadi tidak sakral lagi. Kalau sudah tidak sakral lagi, Agama akan sulit
diyakini kebenarannya oleh suatu masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Maka
dari itu, saya menolak suatu pemahaman yang ingin memisahkan Agama dengan
politik. (23 April 2017)
11.Tegakan Nilai-Nilai
Islam
Jangan jadikan alasan
keengganan untuk menegakan nilai-nilai Islam dipentas politik dan kekuasaan
sebagai suatu bentuk kesabaran….
Jangan jadikan alasan ketakutan terhadap penguasa zalim sebagai suatu bentuk ketawaduan…
Jangan jadikan alasan ketakutan terhadap penguasa zalim sebagai suatu bentuk ketawaduan…
(11 Mei 2017)
12. Lawan Kriminalisasi
Ulama
Kriminalisasi ulama
merupakan suatu upaya penguasa zalim dalam memperlemah kebenaran yang di bawa
para ulama. Kriminalisasi ulama seperti tengah menakut-nakuti dan berupaya
menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang lurus serta menyeluruh.
Kriminalisasi ulama adalah suatu upaya penguasa zalim untuk memecah belah umat
Islam. Ketika kepercayaan masyarakat mulai lemah terhadap para ulama, itu
kesempatan terbaik bagi penguasa zalim untuk menguatkan kekuasaannya. Bila
telah terjadi seperti itu, maka setiap aktivis Islam wajib melawan upaya
kriminalisasi terhadap ulama, minimal secara lisan atau tulisan. (21 Mei 2017)
13. Optimis Islam
Berkuasa...
Waspada! Ada semacam
upaya membentuk opini seolah-olah seluruh aparatur negara sedang
berhadap-hadapan dengan umat Islam. Tujuannya untuk mendelegitimasi Islam dalam
negara. Bila opini itu berhasil terbentuk secara kuat dan siginifikan kemudian
rezim sekarang ini mendapat simpati publik, maka tidak tertutup kemungkinan
akan terjadi sekularisasi terparah dalam sejarah Indonesia. Untuk mencegahnya,
umat Islam harus tetap bergerak secara damai dan konstitusional walau dalam
bentuk perlawanan dan kemarahan, kecuali bila musuh-musuh Allah dalam negara
sudah putus asa dan membuka secara jelas front perang bersenjata yang
memanfaatkan fasilitas negara…berperanglah bila diperangi….
Optimis tahun 2019,
Islam bekuasa di Indonesia, menang secara konstitusional, demokratis, elegan
dan damai…( 26 Mei 2017)
14.Lawan Pengaruh
Intelejen Penguasa Zalim
Kenapa teroris berani
mati? Apakah mereka benar keyakinannya? Saya jawab begini saja, tentara
komunis, tentara fasis, sepertinya banyak juga yang berani mati. Di Turki,
tentara PKK sebagai representasi komunis terkenal sering mengacaukan
pemerintahan AKP bersama Erdogan dengan berbagai macam serangan. Dulu tentara
fasis Jepang pada perang dunia 2 terkenal juga berani mati. Tapi dengan itu
saja, tidak bisa dianggap telah benar. Keberanian dalam perang sangat
dipengaruhi doktrinasi dan semangat kepahlawanan.
Kebangkitan Islam dan
Arab di Timur Tengah saat ini menjadikan para tentara Islam terkenal sebagai
tentara yang lebih tampak berani mati dibandingkan tentara dari ideologi lain
di dunia ini. Perang di Irak, Palestina, dan Suriah begitu jelas memperlihatkan
kepada dunia tentang sikap keberanian dan kepahlawanan para tentara Islam.
Sehingga tidak tertutup kemungkinan intelejen penguasa zalim di Indonesia
bermain memanfaatkan potensi tersebut. Banyak orang kemungkinannya bisa saja
didoktrin dengan cara seolah-olah memperjuangkan Islam oleh para ustad gadungan
bentukan intelejen penguasa zalim, dengan iming-iming surga dan bidadari.
Padahal ketika mereka melaksanakan bom bunuh diri, mereka secara politik telah
membantu komunis atau ideologi lain untuk menghambat kebangkitan Islam.
Terlepas apakah para pelaku bom bunuh diri itu meraih syahid atau tidak.
Wallahu a’lam
Untuk mencegah supaya
tidak dikendalikan oleh pengaruh intelejen penguasa zalim yang jahat, umat
Islam harus terbiasa memahami politik Islam, walau tidak terlibat dalam politik
praktis. Umat Islam perlu mengetahui peta dan alur politik yang sedang terjadi
di tanah air. Sehingga umat Islam tidak mudah diprovokasi untuk melakukan
aksi-aksi inkonsitusinal. Begitu pula umat Islam tidak pantas mengabaikan kecintaan
kepada Al-qur’an. Karena dengan kecintaan kepada Al-qur’an, terbiasa membaca
dan memahaminya, umat Islam pasti cerdas.
Saat ini, untuk meraih
kemenangan Islam di Indonesia, masih sangat berpotensi dapat dimenengkan secara
politik, dengan aksi-aksi damai, konstitusional, dan demokratis…
Tapi kita harus selalu
siap berperang, bila umat Islam di negeri ini telah dibantai penguasa zalim…(29 Mei 2017)
15.Umat Islam Tidak
Galau Kebinekaan
Umat Islam tidak akan
galau terhadap kebinekaan. Umat Islam dapat hidup damai dengan suku bangsa,
ras, dan Agama apapun. Karena dalam Islam ada ajaran menghargai serta
menghormati kebinekaan dan perbedaan pada batas tertentu. Hanya saja kaum
sekuler liberalis seringkali beranggapan bahwa ketika Islam berkuasa
seolah-olah semua orang harus dipaksa masuk Islam, masyarakatnya harus homogen,
dan hukumnya kejam.
Sebetulnya kaum sekuler
liberalis itulah yang seringkali galau, satu sisi mereka menghendaki
kebinekaan, sedangkan pada sisi yang lain mereka tidak suka kebinekaan yang
dipimpin umat Islam.
Padahal Islam selalu
berupaya menawarkan solusi atas persoalan kehidupan manusia.Islam membangun
peradaban dengan dakwah dan tarbiyah tanpa paksaan.
Perhatikanlah salah satu
ayat dalam Al-qur’an berikut ini yang menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak
galau terhadap kebinekaan: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang
yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
(Q.S. Al-Hujurat : 13)
(30 Mei 2017)
16.Keterpilihan Muslim
Menegakan Kebenaran…
Menegakan kebenaran itu
tidak perlu menunggu hadirnya pemimpin ideal dan sempurna. Karena setiap muslim
berpotensi melakukannya…
Menegakan kebenaran itu
tidak perlu pesismis karena tidak punya garis keturunan yang dekat dengan para
nabi….
Menegakan kebenaran itu
tidak perlu mengangungkan kesukuan, ras, status sosial, dan gelar-gelar
kehormatan lainnya.
Keterpilihan seorang
muslim bukan terletak pada kepasrahan terhadap keadaan, melainkan upaya
menegakan kebenaran, membangun kebaikan, meluruskan kezaliman, dan menghadirkan
eksistensi Allah di muka bumi.
Allah memberi syarat
untuk mencapai keterpilihan bagi setiap muslim, yaitu melaksanakan amar makruf
nahi mungkar dan memiliki keimanan kepada Allah. Allah SWT berfirman: “Kamu
adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran:
110). (31 Mei 2017)
17.Memahami Pancasila
Memahami Pancasila itu
bisa dari presfektif Bung Karno, Masyumi, dan Suharto. Ketiga presfektif
tersebut masih berlaku di Indonesia. Ketiga presfektif tersebut sepertinya
tidak pernah berhenti mempengaruhi pertarungan politik di Indonesia. Hanya
saja, banyak orang yang tidak mengerti akan hal itu. Lagi pula memang tidak
mudah mengukur kecenderungan ideologis dari setiap elemen politik. Maka menjadi
Pancasilais itu tidak bisa sekedar berkata “Saya Pancasila”.Namun agar mudah
memahaminya di era sekarang ini, ada beberapa hal yang sangat memungkinkan
suatu elemen politik dapat dianggap Pancasilais, yaitu mengokohkan NKRI, punya
rasa nasionalisme yang kuat, religius, tidak mendukung penghina Agama dan
ulama, berkeadilan sosial, moralis, tidak merusak generasi dan peradaban, tidak
memecah belah bangsa, dan tidak menjual aset negara. (2 Juni 2017)
18.Lawan Kemungkaran
Penguasa Zalim...
Ketika hati sudah
membenarkan kemungkaran yang dilakukan penguasa zalim di negeri ini, yang
membahayakan bangsa, negara, dan umat Islam, maka itu telah menjadi
pendukung kemungkaran dan penguasa zalim.
Karena itu, gunakanlah
lisan sebagai representasi hati dan keimanan untuk melawan segala bentuk
kemungkaran yang dilakukan penguasa zalim di negeri ini…
Menolak kemungkaran di
dalam hati adalah selemah-lemahnya iman, apalagi membenarkan kemungkaran..
Ketahuilah bahwa
membenarkan kemungkaran itu terlarang walau tersembunyi dalam hati…
Dari Abu Sa’id Al Khudri
radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran,
hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya
dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya
itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)
(3 Juni 2017 )
19. Halalnya Kehormatan
Penguasa Zalim...
Kriminalisasi ulama
adalah perbuatan yang jauh dari Allah. Membubarkan ormas Islam sama saja dengan
menentang peradaban Islam. Mengecam para mubaligh yang punya ghirah tinggi di
mesjid-mesjid adalah perbuatan bathil dan jauh dari syiar Islam. Itulah
perbuatan-perbuatan yang menampakan keengganan menjadikan wahyu Allah sebagai
sumber solusi…
“….Barang siapa tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 45)
Apabila yang melakukan
kezaliman itu adalah para pemimpin di negeri ini, maka mereka telah halal
kehormatannya. Sehingga aib kinerja mereka pantas diungkap dan dihinakan
dihadapan rakyat supaya rakyat tidak lagi mempercayaai atas kepemimpinan
mereka…
Rasulullah saw bersabda
:"Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan
hukuman." (HR Abu Daud, Nasa-i, Ibnu Majah).
(3 juni 2017).
20. Transnasional
Keindonesiaan
Kaum sekuler seringkali
lupa diri, saking ingin terkesan nasionalis, ingin memperlihatkan
keindonesiaan, mereka rajin mendelegitimasi ideologi transnasional, yang sangat
tendensius terhadap gerakan Islam dari Timur Tengah.
Padahal secara
realistis, keindonesiaan tidaklah terlepas dari pengaruh ideologi
transnasional. Mereka lupa bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara
memiliki banyak serapan dari bahasa Asing, yang notabene merupakan produk
pemikiran dari luar Indonesia, bahkan serapan dari bahasa Arab juga
banyak.
Nama Indonesia juga,
sangat dipengaruhi oleh bahasa Asing. Bahkan lagu Indonesia Raya, tidak
mencerminkan kekhasan musik Indonesia, hanya saja liriknya memang
merepresentasikan lagu kebangsaan Indonesia.
Kalau mereka (kaum
sekuler) saat ini gencar mendelegitimasi kebangkitan Islam dengan isu ideologi
transnasional, sebaiknya mereka introspeksi dulu terhadap latar belakang
keindonesiaan.
Tidak perlu berharap ada
kemurniaan Indonesia, yang penting Indonesia punya hujjah untuk maju, adil, dan
sejahtera.
( 23 Juni 2017)
21.Menguatkan Kesadaran
Ideologis
Politik nasional adalah
penentu keberpihakan kader dakwah secara ideologis. Karena politik nasional
sangat berpengaruh terhadap kelangsungan politik dan kekuasaan di
daerah-daerah. Keberpihakan kader dakwah secara ideologis di daerah seringkali
tidak simetris dengan politik nasional. Memang banyak faktor yang melatarbelakangi
munculnya kondisi semacam itu. Namun bila kesadaran terhadap ideologi itu
tertanam sangat kuat dan otonom, maka kader dakwah akan lebih memprioritaskan
ideologi ketimbang ketokohan dan kepentingan-kepentingan lainnya…Insya Allah,
saya akan berupaya berperan untuk menguatkan kesadaran ideologi...(4 Juli 2017)
22. 411 Tumbuhnya
kesadaran Ideologis
Hadirnya aksi bela Islam
411 pada tahun 2016, bagi saya merupakan suatu kondisi yang saya tunggu-tunggu
semenjak tahun 2007.Tahun 2007 adalah tahun dimana saya mulai serius
mempelajari Islam sebagai ideologi. Aksi 411 adalah kondisi awal tumbuhnya
kesadaran ideologis di Indonesia. Aksi 411 juga merupakan suatu fase furqan
yang masih tergolong sangat muda. Walau masih muda, aksi 411 cukup
membangkitkan optimisme untuk kemenangan Islam di tahun 2019. (8 Juli 2017)
23.Gembira dalam Ancaman
Perang…
Negeri ini tengah
dilanda arogansi rezim tirani, ancaman konflik horizontal, tindakan aparat yang
jauh dari memenuhi rasa keadilan, akal sehat yang langka, aksi teror yang tak
jelas tujuan, permainan intelejen pengecut, rakyat kecil yang tertindas, dan
merebaknya kebohongan dikalangan para pejabat negara.
Namun kondisi semacam
itu semua tidak perlu membuat gentar, tidak perlu pesismis menghadapi masa
depan, jangan bersedih hati, jangan takut, bergembiralah untuk meraih
kemenangan. Karena bergembira dalam ancaman perang adalah wujud kerinduan
kepada surga.
Rasulullah saw bersabda:
Ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah bayangan pendang (HR.Bukhari dan
Muslim). 10 Juli 2017)
24.Terorisme dan
Radikalisme
Kalau terorisme dan
radikalisme sebagai istilah yang negatif itu memiliki definisi yang jelas,
tetap, dan lengkap, semua orang yang ingin dianggap baik, pasti menghindarinya,
termasuk para teroris dan orang-orang radikal yang ada dalam pemerintah.
Setelah orang-orang yang di tuduh radikal dan teroris itu sudah tidak
teridentifikasi lagi, yang ada sekedar orang-orang yang pura-pura…
Selama terorisme dan
radikalisme tidak dapat didefinisikan secara jelas, selama itupula istilah
tersebut hanya dijadikan alat propaganda oleh rezim yang sedang berkuasa saat
ini untuk mengeliminir ideologi pesaingnya…
(15 Juli 2017)
25.Lawan Kediktatoran...
Sebuah rezim akan
mengarah kepada kediktatoran bila telah memaksakan ideologi, mengeliminir
pengetahuan-pengetahuan ilmiah, dan mengembangkan subjektivitas dalam setiap
kebijakan pemerintah. Rakyat akan dibodohi dan dipaksa supaya tunduk kepada
negara. Rezim radikalis yang lemah akal itu tak akan memberikan kesempatan yang
besar untuk berbeda pendapat dengannya.
Kediktatoran adalah
musuh kemanusiaan, maka wajib bagi manusia untuk mencegah dan melawannya…
Bangkitlah wahai
manusia-manusia yang sadar akan hakikat kemanusiaannya…
Jangan biarkan kebebasan
dan cita-cita kalian dirampas rezim tirani…
Siapkan diri kalian
untuk melakukan aksi-aksi kemarahan….
(16 Juli 2017)…
26.Pendidik Bukan
Penguasa…
(Surat Terbuka kepada
Para Pendidik)
Assalamualaikum, Wr,wb
Kebenaran bukan sekedar
hasil kesepakatan orang banyak….
Bila kebenaran itu hasil
kesepakatan orang banyak, maka harus punya alasan yang kuat…
Kalau kebenaran itu
sekedar mengikuti suka atau tidak suka orang banyak, itu bukan kebenaran
namanya, itu hawa nafsu…
Anda tidak layak menjadi
pendidik…
Anda terlalu banyak
tunduk kepada hawa nafsu…
Kalau saat ini Anda
masih menjadi pendidik, sebaiknya Anda mengundurkan diri…
Karena Anda tidak
sedikitpun memiliki motif untuk membangun peradaban, selain hanya main-main,
suka..atau tidak suka…
Anda pendidik bukan
penguasa…maka Anda tidak pantas menentukan suatu kebijakan tanpa pertimbangan
yang matang…
Anda pendidik bukan
penguasa…maka Anda tidak pantas memihak kepada kepentingan lain, kecuali
kepentingan pendidikan…
Anda pendidik bukan
penguasa…maka Anda harus punya sikap dan independensi, terbebas dari pengaruh
kepentingan penguasa…
Saya ingatkan, Anda
harus serius mendidik. Karena anak-anak didik Anda adalah putra-putri
Islam.
Bila Anda tidak serius
bekerja, seenaknya saja mengajar, keluar masuk ke sekolah tidak jelas, menyusun
jadwal ngawur, menentukan kebijakan secara sembarangan, itu artinya Anda tengah
mengkhianati umat Islam.
Peradaban umat Islam
tidak akan mencapai kejayaannya, kecuali pendidiknya serius mengajar, punya
dedikasi, tidak banyak basa basi ketika bekerja, tidak sekedar senang bermain
yang tidak ada unsur edukasinya…Bekerja sebagai pendidik tidak cukup berbekal
perasaan suka dan tidak suka…
Sistem pendidikan akan
hancur bila tunduk kepada hawa nafsu…
Saya punya alasan untuk
melawan…
Saya berpegang kepada
kebenaran untuk mewujudkan pendidikan Indonesia menjadi lebih baik…
Hormat Saya
Ari Ariyandi Gunawan (5 Agustus 2017)
27. Islam Pasti Menang
Kenapa harus takut Islam
berkuasa? Padahal, tidak ada dalam sejarahnya Islam menjajah di suatu negeri
apapun, tidak ada dalam sejarahnya Islam membantai orang-orang yang sekedar
berbeda pendapat dengannya, tidak ada dalam sejarahnya Islam membungkam
media-media kritis terhadap kekuasaan, bahkan tidak ada dalam sejarahnya Islam
memaksa orang-orang kafir masuk Islam…
Kaum sekuler yang parah
atas dasar kedengkiannya seringkali memandang sinis terhadap Islam yang
berpolitik, menganggap ekstrimis dan radikal orang-orang Islam yang serius
mengemban dakwah, dan mencurigai setiap aktivitas dakwah…..
Saya yakin Islam pasti
menang…
Karena Islam adalah
kebenaran…
Sedangkan kebathilan
pasti binasa….(16 agustus 2017)
28.Muslim Taat
Muslim tapi menganut
ideologi selain Islam, kemudian mengecam Islam sebagai ideologi yang berbahaya,
bahkan memilih pemimpin kafir, itulah muslim yang tidak-tidak. Muslim yang
tidak bersosial, muslim yang tidak berpolitik, muslim yang tidak berpendidikan,
muslim yang tidak berekonomi, dan muslim yang tidak-tidak lainnya. Adapun
muslim yang sadar akan syumuliyatul Islam, muslim yang selalu berupaya dengan
semampunya berislam dalam seluruh aspek kehidupan, layaklah disebut sebagai
muslim taat. Dengan Islam, itulah yang akan memenangkan Allah dalam seluruh
aspek kehidupan. (Facebook, 26 Agustus 2016).
29.Kritis
Bukan Anti Pemerintah
Suatu rezim yang anti
kritik, pasti menganggap pesaing politiknya sebagai anti pemerintah. Ketika
menjadi bagian dari pemerintah atau membantu pemerintah, semuanya harus
sependapat denganya walaupun keliru. Berbeda pendapat sedikit saja, bisa
dianggapnya sebagai anti pemerintah. Bisa sehat bagaimana suatu negara, bila
terhadap kritikan saja sudah antipati. Membangun suatu negara yang demokratis,
tentu harus akrab dengan kritikan.
Kritik yang membangun
itu dimulai terhadap sikap yang perlu diluruskan, bukan kepada pribadi
orangnya, apalagi fisiknya.
(31 Agustus 2017)
30. Matinya Nurani
Pemimpin Negara
Matinya nurani seorang
pemimpin negara, konstitusi sebaik apapun tidak akan hidup. Konstistusi hanya
dijadikan ‘pajangan’ atau simbol kemapanan sebuah negara. Kadang ideologi
negara pun sekedar dijadikan perisai untuk menangkis serangan politik dari
lawannya. Menyadari hal tersebut, setiap aktivis pergerakan tidak perlu terlena
dengan kemapanan sistem yang telah terwujud, tidak pantas mengabaikan motivasi
dan ide-ide perubahan. Berjuang terus, berupaya meluruskan kezaliman pemimpin
negara atau menggantikannya dengan yang lebih baik! (21
september 2017)
31. Saat yang Tepat
Menggantikan Pemimpin Negara
Pemimpin negara yang
lemah kesadaran ideologinya, lemah dalam membangun produktivitas negaranya,
lemah dalam membangun karakter kemandirian bangsanya, lemah pembasisan
intelektualnya di kalangan pendidik, lazimnya hanya mampu menutup-nutupi
kelemahannya dengan media dan propaganda! Tidak ada prestasi yang dapat
membanggakan rakyatnya, selain menampilkan citra-citra yang semu dan sinetron
yang dikemas dalam berita di media-media mainstream yang sekedar berorientasi
kepentingan. Tidak ada yang pantas diharapkan dari pemimpin negara semacam itu,
kecuali untuk meluruskannya. Tapi, bila telah keterlaluan kezaliamannya, itulah
saat yang tepat untuk menggantikannya! (24 september 2017)
ARTIKEL TERKAIT:
Kebangsaan Indonesia Bermartabat
Eksistensi Aksi Bela Islam
Kita Indonesia Katanya....
Kezaliman Semiotik
VIDEO:
VIDEO DOKUMENTER AKSI BELA ISLAM 411
Kebangsaan Indonesia Bermartabat
Eksistensi Aksi Bela Islam
Kita Indonesia Katanya....
Kezaliman Semiotik
VIDEO:
VIDEO DOKUMENTER AKSI BELA ISLAM 411
loading...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar