(Cerita di Balik Video Dokumenter Aksi Bela Islam 411 Karya Ari
Ariyandi Gunawan)
Tahun 2007, banyak waktu saya digunakan untuk
belajar Islam dan memperbaiki ibadah. Ketika itu, Ikhwanul muslimin adalah tema
besar yang tengah saya pelajari. Saya mempelajari Islam bukan sekedar ibadah
mahdhah saja, melainkan Islam sebagai politik dan ideologi.
Mempelajari Islam
bukan sekedar untuk membangun spiritualitas, melainkan juga untuk mengelola
negara. Dari situlah saya mulai mengenal sistem
negara Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Ikhwanul muslimin adalah gerakan dakwah
yang berpusat di Mesir yang memiliki semangat besar untuk membangkitkan kembali
Khilafah Islamiyah pasca runtuhnya Khilafah Turky Ustmani.
Masih di tahun 2007, saya ikut hadir dalam
Konferensi Khilafah Internasional (KKI) di Jakarta. Saya datang ke Jakarta
bersama rombongan para aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kabupaten
Sukabumi. Begitu pula hampir selama setahun saya ikut pembinaan HTI, ikut ngaji
kitab Nizham Islam. KKI sebelumnya saya anggap sebagai momentum revolusioner
yang layak saya hadiri. Kalau terjadi revolusi, mungkin nasib saya berubah,
begitu pikir saya dulu. Tapi ternyata tidak terjadi revolusi, KKI sekedar
pertemuan para aktivis Hizbut Tahrir yang sepertinya membahas perkembangan
pergerakannya dari berbagai negara.
Revolusi dan Media
Hubungan saya dengan
HTI, dalam kepentingan pergerakan, cukup sampai Konferensi Khilafah
Internasional di Jakarta tahun 2007. Sekitar tahun 2008, saya masuk tarbiyah.
Kemudian saya ikut sekolah murrobi di PKS. Tahun 2011 saya terorganisir dalam
Ikatan Da’I Indonesia (IKADI) Kabupaten Sukabumi bidang Pendidikan dan
Keorganisasian. Saya masuk tarbiyah karena adanya kedekatan pemahaman dari apa
yang telah saya pelajari sebelumnya, yaitu fikrah pergerakan Ikhwanul Muslimin
Mesir.
Saya belum pernah mengikuti aksi demonstrasi yang
sangat menegangkan di hari-hari sebelum kehadirannya. Karena aroma revolusi
begitu sangat menyengat sebelum aksi bela islam 411. Banyak pihak yang melarang
aksi 411. Sehingga, jauh hari banyak hal yang saya persiapkan sebelum berangkat
ikut aksi besar 411. Habib Rizik menyuruh peserta aksi membuat wasiat. Tokoh
umat Islam AA Gym siap mati syahid untuk aksi bela islam 411. Kiyai, santri, asatidz,
dan ulama banyak yang siap mati syahid untuk aksi bela Islam. Laskar diberbagai
daerah turun gunung untuk mengikuti aksi bela Islam 411. Banyak yang setuju
bahwa Jokowi satu paket dengan Ahok, sehingga Jokowi layak diturunkan dan Ahok
harus dipenjara. Sedangkan polisi melakukan persiapan diluar dari kebiasaan.
Polisi telah membekali diri dengan kekuatan yang lebih besar untuk menjaga para
peserta aksi bela islam 411.
Saya termasuk orang yang kecewa dengan sebagian
peserta aksi yang semenjak siang hari memprovokasi peserta aksi lainnya supaya
kembali ke mesjid Istiqlal, informasi menjadi simpang-siur, ada pula yang
menggap aksi sudah selesai setelah beres shalat jum’atan di mesjid Istiqlal,
bahkan menjelang malam hari ada juga orang yang mulai memprovokasi untuk
menyerang peserta aksi yang lain. Tidak mungkin saling serang antar peserta
aksi yang ketika itu sama-sama banyak mengenakan peci putih dan banyak bendera
liwa rayah berkibar.
Memang, sepertinya ada bau penghianatan yang tidak
akan saya sebutkan disini dari elemen mana? Paling tidak, sebagai bahan
evaluasi untuk strategi kedepannya, bila ada aksi besar dan masif lagi, dengan
sinyal revolusi yang kuat, harus meminggirkan elemen pergerakan tersebut atau
membuat mosi tidak percaya terhadapnya, yang pernah membawa kebengkokan di
tengah jalan pergerakan, sebagaimana yang terjadi di Mesir, dan negara-negara
yang hampir memenangkan revolusi Islam.
Hampir semua aktivis Ikhwanul Muslimin (IM), yang
saya ketahui, terlihat dari aksesorisnya, do’a-do’anya, orasi-orasinya,
kebiasaan bernyanyi mars atau nasyid harokah, bendera Palestina, sorban
khasnya, sepertinya setuju untuk terus ada dilapangan sampai Jokowi lengser.
Semua aktivis IM sepertinya akan fokus untuk melakukan konfrontasi besar saat
aksi 411. Dan saya hadir di barisan itu. Semuanya masih taat komando Habib
Rizik. Saya berada di rombongan para peserta aksi berbendera Palestina.
Sampai jam 10 malam saya berkeliaran di Jakarta,
sambil merasakan mata perih terkena gas air, punggung pegal menggendong ransel
beban berat, menunggu komando penyerangan yang tak kunjung terdengar, saya kira
saat itu Habib Rizik sudah di bawa ke rumah sakit. Karena banyak para asatid
bergelimpangan di jalan tak kuat menghirup gas air mata. Sepertinya banyak pula
yang lebih dulu pulang, berlari-lari, ada juga yang kembali ke mesjid
istiqlal.
Kemudian saat itu saya memutuskan akan kembali lagi
ke Jakarta bila besoknya banyak yang mati sahid akibat pembantaian. Saya
khawatir terjadi perang yang tidak seimbang. Saya khawatir terjadi tragedi
seperti tragedi rabiah saat revolusi di Mesir. Saya khawatir suara tembakan itu
bukan hanya gas air mata, tapi peluru tajam sebagaimana pernah terjadi di
Semanggi saat aksi reformasi 1998.
Sehingga tujuan saya naik bis itu bukan langsung
kembali ke Sukabumi, saya ke Bandung. Saya naik bis bersama sebagian laskar FPI
Garut dan Purwakarta, namun baru saja bis berjalan, suara Habib Rizik terdengar
sangat lantang dengan takbirnya yang menggema, tapi bukan suara komando untuk
penyerangan, sekedar seruan untuk menyiapkan strategi di mesjid Istiqlal. Saya
sudah tanggung ada di dalam bis. Dalam pikiran saya, bila terjadi pembantaian
dan revolusi, saya akan masuk ke kampus-kampus di Bandung dulu, sebelum ke
daerah yang lain.
Saya sendiri tidak sampai masuk Garut. Pagi hari,
saya ada di Bandung, baca berita di situs online melihat perkembangan aksi 411
di Jakarta, ternyata aman, tidak ada pembantaian seperti tragedi di Mesir atau
Semanggi. Kemudian saya pulang menuju rumah dan dapat tidur dengan tenang dalam
bis. Saya terbangun kembali sudah ada di Sukabumi. Segar lagi dan terasa nikmat
perjuangan, walaupun letih.
Seruan aksi berikut aksi 212, saya tidak hadir
secara langsung. Tapi saya memainkan opini melalui media sosial untuk
memperkuat pengaruh eksistensi aksi bela islam. Karena dalam konteks itu, kedua
kubu sudah berdamai. Jokowi juga hadir dalam aksi 212. Saya juga sebagai
pesaingnya sudah kembali menjalankan aktivitas sebagaimana biasa
lagi, mengajar, main musik, dakwah, dan persiapkan jihad.
Saya tidak setuju dengan istilah alumni 212 atau
alumni 411, karena itu sekedar momen dan suatu bentuk aliansi taktis. Jangan
sampai momen dan aliansi taktis menjadi suatu jamaah dalam jama’ah.
Yang tidak terlupakan, kenapa saya ikut aksi bela
islam 411, ada kepentingan saya yaitu untuk memiliki media (TV) berita berbasis
pengetahuan sebagai sarana perjuangan umat Islam kedepannya ….
Video
Dokumenter Aksi Bela Islam 411 ini adalah hasil karya saya sebagai awal langkah
untuk mendirikan televisi berita.
Video Dokumenter Aksi Bela Islam 411
Harga: Rp.20.000/pcs (belum termasuk ongkosn kirim)
Contoh tanyangan bisa ditonton
disini, KLIK.
Cek ongkos kirim JNE, silakan klik
Cara Pembelian
1.Lakukan pembayaran untuk Video Dokumenter dan ongkos kirim ke No. Rek: 1610031656 a.n : ARI ARIYANDI GUNAWAN,S.SOS (Bank
Muamalat Indonesia)
2. Konfirmasi bukti transfer pembayaran, upload ke nomor WA ini: 087820759142
atau inbox facebook disini, silakan klik
3. VCD akan dikirim segera, setelah ada konfirmasi bukti transfer pembayaran dan alamat tujuan pengiriman.
Untuk pembelian secara
langsung, dapat datang ke Maktab
Media Harokah di Kp.Sekarwangi RT.05/ RW.18 Kec.Cibadak - Kabupaten
Sukabumi. No.hp: 087820759142


Tidak ada komentar:
Posting Komentar