Masyarakat Madani Bukan Masyarakat Syaitoni


Oleh: Ari Ariyandi Gunawan 

Bermain proposal dan kelembagaan untuk kerja sama dengan pemerintah, itu kalau kompensasinya jelas, tidak memakan hak orang lain secara zalim, tidaklah haram. Selama ada hak dipemerintah yang selayaknya diambil, itu tidaklah masalah. Pemerintahan yang baik perlu menjalin kemitraan yang baik pula dengan rakyat dan saling menguntungkan. Masyarakat civil society itu tidak membebani pemerintah, tidak bikin boros anggaran negara, melainkan menjalin kemitraan yang baik dengan pemerintah.

Masyarakat madani atau sering juga diistilahkan dengan civil society adalah masyarakat yang sadar akan aturan-aturan dan nilai-nilai, bukan masyarakat yang egois cenderung memihak kepada  wilayah tertentu  dan bukan pula  masyarakat yang cenderung memihak kepada hawa nafsu belaka. Kalau masyarakat yang cenderung zalim bekerja sama dengan pemerintah, itu bukan masyarakat madani  namanya, melainkan masyarakat syaitoni.
Kalau ada orang yang sekedar meminta-minta pakai proposal tanpa memberi kompensasi yang jelas kepada pemerintah, selain hanya sekedar menipu, mengarang  kegiatan-kegiatan yang sebetulnya tidak dilakukannya, itu diakhirat nanti bakal kehilangan muka. Ini haditsnya, diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu 'Anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain (mengemis) sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Kalau makan hak orang lain secara zalim, pasti wajib mengganti. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang pernah menzalimi seseorang baik kehormatannya maupun lainnya, maka mintalah dihalalkan hari ini, sebelum datang hari ketika itu tidak ada dinar dan dirham. Jika ia memiliki amal saleh, maka diambilah amal salehnya sesuai kezaliman yang dilakukannya, namun jika tidak ada amal salehnya, maka diambil kejahatan orang itu, lalu dipikulkan kepadanya.” (HR.Bukhari)  

Kemitraan Bukan Saling Menguasai
Masyarakat yang dibangun atas dasar saling menguasai secara tidak proporsional, maka itu tidak akan ada ketertiban sosial. Karena itulah masyarakat madani atau civil society, sadar akan konstitusi. Dengan adanya konstitusi itulah, masyarakat civil society menempatkan pendekatan kekuasaan hanya dalam konteks kenegaraan saja, hubungan dalam pemerintah, bukan dalam kemasyarakatan. Karena kalau pendekatan kekuasaan digunakan dalam kemasyarakatan, maka  akan sering terjadi persoalan saling menguasai antar masyarakat berdasarkan egoisme  wilayah tertentu, egoisme kesukuan tertentu, dan egoisme tradisi tertentu. Itulah yang sangat memungkinkan terjadinya konflik sosial atau chaos.
Sedangkan masyarakat syaitoni, mereka masih tetap melakukan pendekatan kekuasaan, sebagaimana masyarakat primitif, namun karena takut dengan konstitusi, mereka melakukan pendekatan kekuasaan dengan cara melakukan kezaliman secara terselubung. Ibaratnya, mereka paling rajin menyimpan ‘bom waktu’ yang suatu saat akan meledak dalam pemerintah, bisa menghancurkan dirinya sendiri atau pemerintah.  

Profesionalisme Bukan kezaliman
Nabi Muhammad Saw seorang pelopor pemimpin civil society atau masyarakat madani, sebelum membangun sebuah negara di Yatsrib yang kemudian di namai Madinah, beliau adalah tokoh yang memiliki prinsip  profesionalisme, amanah,jujur,dan dapat dipercaya. Karena itulah, sebelum diangkat menjadi Nabi,  beliau mendapatkan gelar Al-amin oleh masyarakat Mekkah. Semua kalangan masyarakat Mekkah mempercayai integritas beliau.


Beliau tidak pernah menyuruh orang-orang disekitarnya untuk makan hak  orang lain secara zalim, makan keringat orang lain, membajak karya orang lain, juga tidak menyuruh berprilaku seperti ’ robin hood’ (merampok untuk orang miskin). Beliau tidak anti-demokrasi. Beliau juga tidak anti-nasionalisme. Beliau cuma bersikap jujur dan membangun profesionalisme dalam usaha, hingga menjadi pengusaha sukses.
Ibaratnya, kalau dalam bahasa sekarang, beliau  menjadi presiden tidak dengan politik pemikiran dulu, melainkan dari seorang da’i dan entrepreneur. Beliau tidak meraih kekuasaan  dengan perang pemikiran dulu, melainkan dengan amal sosial, dakwah, dan tarbiyah.

Mengutamakan Kejujuran
Masyarakat madani dibangun atas dasar akhlak, yang mengutamakan kejujuran.  Karena dengan kejujuran akan banyak sekali kebaikan. Masyarakat yang didasari akhlak yang baik adalah masyarakat berperadaban tinggi, penuh etika dan nilai-nilai yang tinggi, menyenangi keindahan dan harmoni, itulah masyarakat madani. Masyarakat madani, berkembang dengan kaderisasi atas dasar kejujuran. Semakin sedikit kebohongan  kadernya, maka akan semakin  maju kehidupannya, semakin tinggi pangkatnya, semakin besar penghasilannya, dan semakin sejahtera kehidupannya.  
Sedangkan masyarakat syaitoni adalah masyarakat yang menjalankan kaderisasi atas dasar kebohongan. Karena dengan kebohongan akan banyak sekali kejahatan.Dengan begitu akan terbentuk masyarakat zalim, saling memakan hak orang lain secara zalim, tidak saling mengingatkan ketika ada yang bermaksiat, tidak mencegah aktivitas kemungkaran, saling merampok, saling membajak, dan saling menindas. Begitulah masyarakat rendah ilmu, berselera seni rendah, menyukai kejelekan, dan ‘bau menyan’, itulah masyarakat syaitoni. Masyarakat syaitoni berkembang dengan kaderisasi atas dasar kebohongan. Semakin besar kebohongan seorang kadernya, maka akan semakin tinggilah jabatannya, bisa mudah jadi PNS kalau dalam konteks kekinian, atau bisa dicalegkan untuk dapat nomor 1. Sangat berbeda sekali dengan masyarakat madani.
Bila kita ingin membangun masyarakat madani, mulailah membiasakan diri untuk mengutamakan kejujuran.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dalam hadits yang dibawakan oleh Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu , bersabda :Sesungguhnya kejujuran akan membimbing menuju kebaikan, dan kebaikan akan membimbing menuju surga. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk jujur, sampai akhirnya ia menjadi orang yang benar-benar jujur. Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allâh sebagai pendusta. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar