Oleh : Ari Ariyandi Gunawan
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S. Al-Baqarah : 269)
Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Q.S. Al-Baqarah : 269)
Menurut saya, akal adalah
daya berpikir yang ada pada setiap manusia.
Hal ini merujuk kepada beberapa pendapat
ulama besar seperti Al-Gazali dan Ibnu Qayim. Al-Gazali memaknai akal sebagai bagian dari
manusia yang menyerap kemampuan atau wadah untuk menampung pengetahuan.
Sedangkan Ibnu Qayim membagi akal menjadi dua bagian, akal insting dan akal tambahan.
Akal
insting adalah kemampuan dasar manusia untuk berpikir dan memahami sesuatu yang
dibawa sejak lahir. Sedangkan akal tambahan adalah kemampuan berpikir dan
memahami, yang dibentuk oleh pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh
seseorang.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika dua akal ini berkumpul pada
seorang hamba, maka itu merupakan anugerah besar yang diberikan oleh Allah
kepada hamba yang dikehendaki-Nya, urusan hidupnya akan menjadi baik, dan
pasukan kebahagiaan akan mendatanginya dari segala arah. (Miftahu Daris Sa’adah,
1/117)
Akal itulah yang membedakan manusia
dengan hewan atau binatang. Kesempurnaan manusia dibandingkan makhluk lainnya,
itu karena manusia punya akal. Manusia dapat mencapai derajat kemulyaan dengan
akal. Manusia dapat menjaga kehormatan dirinya dengan akal.
Manusia bisa terbang di langit dengan bantuan pesawat yang dibuatnya, tentu karena punya akal.
Manusia bisa menciptakan pesawat dan robot yang mampu menjelajahi planet selain bumi,seperti planet
mars, tentu karena manusia punya akal.
Manusia bisa mengetahui partikel
terkecil dari materi dan mampu memanfaatkannya untuk manusia, itu tentu karena
manusia punya akal.
Begitu besar manfaat akal. Maka dari
itu, tujuan umum syariat Islam menetapkan kewajiban bagi setiap manusia untuk memelihara
akal. Manusia wajib menghindari berbagai macam hal yang merusak akal. Begitu
pula, manusia wajib melindungi akalnya.
Kalau ada orang
mengaku punya akal sedangkan orang lain
dianggap tidak punya akal, itu mustahil. Karena setiap manusia pasti punya
akal. Yang ada itu sehat atau kurang sehatnya akal. Kalau akalnya sehat, maka akal
tersebut dapat digunakan sebaik-baiknya.
Sedangkan akal yang kurang sehat adalah akal yang tidak bisa digunakan sebagaimana
mestinya, misalnya karena strees atau depresi, mabuk, dan gila.
Akal bukan hikmah
Akal bukan hikmah.
Tapi tanpa akal, hikmah tidak ada.Hikmah dalam al-qur’an bermakna pemahaman. “Dan Kami memberikan
al-hikmah (pemahaman) kepadanya (Yahya) ketika dia masih kecil.” (QS. Maryam
[19]: 12).
Dalam Al-qur’an, hikmah juga merupakan suatu makna yang mendalam, yang bisa dijadikan
nasihat dan pengajaran. Makna yang mendalam itu bisa berupa produk-produk ilmu
pengetahuan, seperti teori, metode, model, prinsip, rumus, hudan (petunjuk),
hujjah, dan semua bahan pengajaran
lainnya. “Dan yang telah diturunkan kepada kalian dari kitab dan hikmah
untuk memberikan nasihat dan pengajaran kepadamu,” (QS. Al-Baqarah
[2]: 231).
,
Lebih jelas lagi bahwa hikmah merupakan suatu produk ilmu pengetahuan,
sebagai akibat dari upaya manusia memberdayakan akalnya, terdapat dalam
al-qur’an, sebagaimana diterangkan berikut ini: “Mereka itulah orang-orang
yang telah Kami berikan kitab, hikmah (ilmu dan
pemahaman) serta kenabian.” (QS. Al-An’am)
Semua manusia pasti punya akal. Tapi tidak semua manusia yang punya akal mendapatkan hikmah. Hikmah itu
diberikan kepada orang-orang yang terpilih, orang-orang spesial, orang-orang yang memang
dikehendaki Allah untuk mendapatkan hikmah. Dalam Al-qur’an dijelaskan“Dia
memberikan hikmah (kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syari’at Islam)
kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia
telah diberi kebaikan yang banyak.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar