Oleh: Ari Ariyandi Gunawan
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS.Ar-Ruum : 21)
Kebangkrutan biasanya menghadirkan suasana hidup tidak tenang. Hari esok dianggapnya suram. Bahaya kebangkrutan itu bisa berdampak kepada sikap pesimis dan putus asa. Kebangkrutan merupakan salah satu bentuk kesengsaraan dunia. Bila tidak mampu menghadapinya, akan terus berada dalam kesengsaraan, tidak bisa bangkit lagi.
Kebangkrutan ketika ada dalam sebuah rumah tangga, itulah yang biasanya menjadi alasan kasus perceraian. Betapa banyak rumah tangga runtuh karena kebangkrutan. Batapa banyak istri yang meminta cerai kepada suaminya karena sudah tak tahan lagi menghadapi kebangkrutan.
Semestinya, kebangkrutan itu dijadikan sebagai ujian dalam kehidupan rumah tangga. Bekal keimanan dalam sebuah rumah tangga itu janganlah dijadikan sebagai ‘etalase rumah tangga’ saja, dipajang sebagai khiasan yang indah padahal hampa makna. Maka keimanan itu harus diimplementasikan, diamalkan, sampai membuahkan hasil. Karena keimanan tanpa perbuatan, tidak akan ada nilainya.
Jadikanlah sebuah kebangkrutan sebagai front perjuangan untuk menyelamatkan rumah tangga. Bagi para suami yang tak sanggup berjuang di jalan Allah dalam front pertempuran, minimalnya berjuanglah menyelamatkan keluarga dari kehancurannya.
Apabila telah sanggup menghadapi kebangkrutan, telah pulih lagi, dan telah bangkit, maka pasti akan membuat keluarga menjadi lebih kuat, optimis, indah, tentram, ceria, dan penuh cinta kasih. Itulah yang akan menjadi makna yang indah, hasil perjuangan menyalamatkan rumah tangga yang hampir runtuh.
Kebangkrutan dalam sebuah rumah tangga, bisa diatasi dengan membiasakan diri menghadirkan eksistensi Allah dalam wujud amal saleh, ketaatan, ketakwaan dan kesabaran. Namun itu harus dibarengi dengan ihktiar, harus dibarengi dengan upaya-upaya rasional dan kongkret, yaitu bekerja apa saja yang penting halal, tidak perlu gengsi, tidak perlu takut dianggap miskin, dan tak perlu berpura-pura kaya.
Puncak keimanan akan menghasilkan kondisi mental yang baik,. Setelah mental baik, pasti bekerja akan menjadi lebih baik. Tidak ada etos kerja yang tercipta dari mental yang buruk. Ketika kondisi mental sudah membaik, maka berpikir akan semakin jernih. Itu tentu akan memudahkan mencari solusi terbaik untuk menyelematkan kebangkrutan. Tanpa dasar kesadaran moral yang otonom, tidak akan mampu menciptakan solusi, minimal bagi diri sendiri.
Dan jangan sekali-kali mengambil solusi kebangkrutan dengan kemaksiatan. Karena itu akan menambah kebangkrutan menjadi semakin parah. Analogi sederhana saja, sudah tau dalam keadaan bangkrut, tapi masih belum berhenti merokok. Akibatnya, uang yang semestinya digunakan untuk makan keluarga, malah dibelikan rokok. Kurang makan tentu akan merusak kesehatan keluarga. Itu belum termasuk dampak rokok. Keluarga bisa stress, rentan terkena penyakit, dan semakin tidak tenang kehidupannya. Itu maksiat yang tergolong masih relatif kecil, bagaimana bila maksiat besar?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar