Ma’rifatullah (Mengenal
Allah) dapat mempertebal keimanan kepada-Nya, bahkan bisa memotivasi diri kita
agar senantiasa tergerak untuk melakukan amal saleh. Begitu pula ma’rifatullah dapat
dikatakan sebagai suatu dasar bagi terbentuknya kesalehan. Maka sebaiknya, berpikir untuk ma’rifatullah (mengenal Allah) semestinya dilakukan
secara terus-menerus dan mendalam.
Dengan pengenalan kepada Allah, apa yang kita perbuat pasti dirasakan selalu tengah mendapatkan perhatian dari-Nya. Marifatullah juga bermakna mengingat-Nya. Maka dengan pengenalan kepada Allah, kita akan merasa dekat dengan-Nya, kemudian timbulah sebuah ketenangan batin sebagai dasar bagi terbentuknya kebaikan.
Dengan pengenalan kepada Allah, apa yang kita perbuat pasti dirasakan selalu tengah mendapatkan perhatian dari-Nya. Marifatullah juga bermakna mengingat-Nya. Maka dengan pengenalan kepada Allah, kita akan merasa dekat dengan-Nya, kemudian timbulah sebuah ketenangan batin sebagai dasar bagi terbentuknya kebaikan.
Allah SWT berfirman:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.
Untuk mencapai
Marifatullah, kita tidak perlu memikirkan zat-Nya. Kerena itu tidak mungkin
dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia yang sangat terbatas. Jangankan untuk
mengetahui zat Allah, melihat ruh yang ada
pada diri kita saja akal tidaklah mampu menjangkaunya. Merasakan keberadaan
Allah, seperti ruh pada diri kita sendiri, hadir sangat terasa manfaatnya,
namun tidak dapat dilihat. Hanya
Allah yang mengetahui tentang ruh yang hadir pada setiap diri manusia, dan
ditangan-Nya-lah segala keputusan tentang hidup dan matinya setiap manusia. Dan
Dia-lah hakikat yang memberikan manfaat kepada setiap manusia dan alam semesta
ini.
Rasulullah saw pernah
bersabda:
“Berpikirlah
kamu tentang makhluk ciptaan Allah dan janganlah kamu memikirkan tentang
Zat-Nya karena kamu tidaklah mengetahui keadaan sebenarnya.”
Untuk bermarifatullah, kita dapat merenungkan
ketika melihat silih bergantinya siang dan malam secara teratur. Seandainya
kita hanya diberikan oleh Allah malam tanpa siang, tentu akan terjadi kerusakan
di bumi ini. Begitu pula sebaliknya, bila hanya diberikan siang tanpa malam.
Begitulah kekuasaan Allah, mengatur alam semesta ini dengan sangat sempurna.
Manusia biasanya
merasakan keberadaan Allah ketika do’anya dikabulkan. Pada masa itu, manusia
sangat merasa dekat dengan Allah. Sehingga muncul suatu kecenderungan untuk
senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.
Manusia akan
merasakan dekat dengan Allah ketika selamat dari musibah atau bencana. Begitu
pula, manusia biasanya selalu mengharapkan pertolongan Allah ketika tertekan
atau akan terkena musibah. Pada masa itulah manusia tidak dapat mengingkari
keberadaan Allah.
Manusia biasanya merasakan
keberadaan Allah, ketika ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab secara pasti,
kapan akan terjadinya suatu bencana alam, dan ketika ilmu pengetahuan tidak
mampu menjawab secara pasti suatu penyebab terjadinya peristiwa yang luar biasa
atau mukjizat. Kepada siapa lagi manusia mengharapkan jawaban yang hakiki? Pada
masa itulah, manusia niscaya mengharapkan jawaban hanya kepada Allah.
Sesungguhnya, akal
sehat setiap manusia pasti mengakui adanya hakikat yang menguasai alam semesta
beserta segala isinya ini, yang mampu mengatur keseluruhan yang ada di dunia
ini, hakikat itulah Allah yang Maha Besar lagi Mahakuasa. Maka keteraturan alam
semesta ini, mustahil tanpa ada yang mengatur. Hanya orang-orang yang malas
berpikir dan durhaka saja yang menganggap bahwa seluruh makhluk beserta sistem
kehidupannya yang sangat teratur dan sempurna ini tercipta secara kebetulan.
Allah SWT berfirman:
Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu
adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu? (Fushilat [41]: 53).
Selain itu kita pun harus
berpikir untuk mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Abu Hurairah ra
berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Allah SWT
mempunyai sembilan puluh sembilan nama, kurang satu seratus. Barangsiapa yang
menghafalnya akan masuk surga. Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai
(bilangan) yang ganjil.” (Bukhari dan Muslim).
ma'rifatullah artinya, mengenal allah, islam, tarbiyah,
al-quran, arab, tasawuf, akhlak
