Berpikir untuk Ma’rifatullah



Oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Ma’rifatullah (Mengenal Allah) dapat mempertebal keimanan kepada-Nya, bahkan bisa memotivasi diri kita agar senantiasa tergerak untuk melakukan amal saleh. Begitu pula ma’rifatullah dapat dikatakan sebagai suatu dasar bagi terbentuknya kesalehan. Maka sebaiknya, berpikir untuk ma’rifatullah (mengenal Allah) semestinya dilakukan secara terus-menerus dan mendalam.
Dengan pengenalan kepada Allah, apa yang kita perbuat pasti dirasakan selalu tengah mendapatkan perhatian dari-Nya. Marifatullah juga bermakna mengingat-Nya. Maka dengan pengenalan kepada Allah, kita akan merasa dekat dengan-Nya, kemudian timbulah sebuah ketenangan batin sebagai dasar bagi terbentuknya kebaikan.
Allah SWT berfirman:
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(Ar-Rad [13]:28)
Untuk mencapai Marifatullah, kita tidak perlu memikirkan zat-Nya. Kerena itu tidak mungkin dapat dijangkau oleh akal pikiran manusia yang sangat terbatas. Jangankan untuk mengetahui zat Allah, melihat  ruh yang ada pada diri kita saja akal tidaklah mampu menjangkaunya. Merasakan keberadaan Allah, seperti ruh pada diri kita sendiri, hadir sangat terasa manfaatnya, namun tidak dapat dilihat. Hanya Allah yang mengetahui tentang ruh yang hadir pada setiap diri manusia, dan ditangan-Nya-lah segala keputusan tentang hidup dan matinya setiap manusia. Dan Dia-lah hakikat yang memberikan manfaat kepada setiap manusia dan alam semesta ini.  
Rasulullah saw pernah bersabda:
“Berpikirlah kamu tentang makhluk ciptaan Allah dan janganlah kamu memikirkan tentang Zat-Nya karena kamu tidaklah mengetahui keadaan sebenarnya.
 Untuk bermarifatullah, kita dapat merenungkan ketika melihat silih bergantinya siang dan malam secara teratur. Seandainya kita hanya diberikan oleh Allah malam tanpa siang, tentu akan terjadi kerusakan di bumi ini. Begitu pula sebaliknya, bila hanya diberikan siang tanpa malam. Begitulah kekuasaan Allah, mengatur alam semesta ini dengan sangat sempurna.
Manusia biasanya merasakan keberadaan Allah ketika do’anya dikabulkan. Pada masa itu, manusia sangat merasa dekat dengan Allah. Sehingga muncul suatu kecenderungan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya.
Manusia akan merasakan dekat dengan Allah ketika selamat dari musibah atau bencana. Begitu pula, manusia biasanya selalu mengharapkan pertolongan Allah ketika tertekan atau akan terkena musibah. Pada masa itulah manusia tidak dapat mengingkari keberadaan Allah.
Manusia biasanya merasakan keberadaan Allah, ketika ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab secara pasti, kapan akan terjadinya suatu bencana alam, dan ketika ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab secara pasti suatu penyebab terjadinya peristiwa yang luar biasa atau mukjizat. Kepada siapa lagi manusia mengharapkan jawaban yang hakiki? Pada masa itulah, manusia niscaya mengharapkan jawaban hanya kepada Allah.

Sesungguhnya, akal sehat setiap manusia pasti mengakui adanya hakikat yang menguasai alam semesta beserta segala isinya ini, yang mampu mengatur keseluruhan yang ada di dunia ini, hakikat itulah Allah yang Maha Besar lagi Mahakuasa. Maka keteraturan alam semesta ini, mustahil tanpa ada yang mengatur. Hanya orang-orang yang malas berpikir dan durhaka saja yang menganggap bahwa seluruh makhluk beserta sistem kehidupannya yang sangat teratur dan sempurna ini tercipta secara kebetulan.
Allah SWT berfirman:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Fushilat [41]: 53).
Selain itu kita pun harus berpikir untuk mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda:
“Allah SWT mempunyai sembilan puluh sembilan nama, kurang satu seratus. Barangsiapa yang menghafalnya akan masuk surga. Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai (bilangan) yang ganjil.” (Bukhari dan Muslim).


ma'rifatullah artinya, mengenal allah, islam, tarbiyah, al-quran, arab, tasawuf, akhlak