Oleh Ari Ariyandi
Gunawan
Melakukan pendidikan
politik merupakan salah satu tugas penting sebuah partai politik (parpol).
Sebuah parpol yang memiliki tanggungjawab yang besar terhadap rakyat, pasti
melakukan pendidikan politik. Parpol yang melakukan pendidikan politik sama
dengan memberikan perhatian yang besar terhadap rakyat. Karena parpol tersebut
berupaya tidak membodohi rakyat dengan cara mengajak rakyat supaya memilih
pilihan politiknya berdasarkan kesadaran yang murni, bukan dengan kesadaran
palsu yang biasanya muncul sebagai hasil dari upaya penguasa zalim yang
membuktikan kelemahan kebenarannya dengan kekerasan dan paksaan atau dengan
cara yang halus yaitu melalui tipu daya dalam bungkus citra politik di media
massa, atau dengan menyuap rakyat dengan harta.
Pendidikan politik di
Indonesia saat ini tidak perlu muncul dari partai politik yang tidak ideologis.
Perbaikan dan perubahan tidak mungkin dapat dilakukan oleh unsur politik yang
netral. Karena netralitas hanya akan membentuk sistem yang liar atau sulit
terkendali dengan baik, karena tidak berstandarkan kebenaran yang mutlak dan
sempurna. Begitu pula pendidikan politik memerlukan waktu yang cukup panjang,
sehingga tidak mungkin dapat dilakukan oleh partai-partai yang baru terbentuk,
atau partai berbasis massa, yang mendidik rakyat hanya dengan orasi dan
menampilkan citra-citra politik di media massa saja, yang muatan sensasinya
lebih tinggi ketimbang muatan edukasinya. Dan pendidikan politik tidak akan
mencapai perubahan yang berarti bila diupayakan oleh parpol yang telah lama
berkuasa, kemudian gagal membangun pemerintahan yang baik.
Sejarah reformasi
pertama di Indonesia, terjadi setelah runtuhnya rezim orde lama dan orde baru.
Maka pendidikan politik saat ini hanya layak dilakukan oleh parpol yang
masih aktif bergerak di awal reformasi pada tahun 1998 hingga sekarang, yang
belum pernah berhenti melakukan pendidikan, perubahan, dan membangun masyarakat
menjadi lebih baik.
Maksud pendidikan
politik disini adalah bagaimana parpol meyakinkan masyarakat dengan ilmu
pengetahuan beserta ideologi atau standar kebenaran yang menjadi landasannya,
bahwa parpol tersebut berupaya membangun bangsa dan Negara ini ke arah
yang lebih baik. Bekerja untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
membangun sistem tidak menyimpang dari fitrah kemanusiaan. Parpol yang
menyebarkan pemahaman yang benar dan melakukan kerja-kerja yang dapat
diteladani, sehingga tampak menjadi solusi bagi kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Sebuah parpol pantas
dianggap peduli dengan pendidikan politik bila memiliki kriteria sebagai
berikut:
Pertama, melakukan pembinaan
kader secara intensif.Parpol yang bertanggungjawab mengurus rakyat tidak akan
sembarangan dalam membentuk kadernya. Oleh karena itu, parpol yang membina
kadernya secara intensif, pasti menghendaki kadernya sangat terdidik. Itu juga
sekaligus mencerminkan komitmen dan keseriusannya dalam membangun bangsa dan
Negara ini.
Pembinaan kader juga
diupayakan untuk mendorong pembiasaan kerja-kerja yang profesional dan
proporsional. Karena bagaimana mungkin korupsi bisa diberantas sampai
keakar-akarnya, bila tidak ada budaya kerja yang profesional dan proporsional
dari setiap individunya. Oleh kerena itu, kader yang terdidik secara benar,
tidak mungkin hanya mementingkan posisi atau jabatan dari pada fokus bekerja
menuntaskan pekerjaan yang sudah direncanakannya. Begitu pula kader yang telah
terdidik secara benar, niscaya jauh dari tindakan korupsi, menerima suap atau
menyuap. Dan dengan sikap proporsional, seorang kader yang telah terdidik tidak
mungkin bersedia mengerjakan suatu pekerjaan yang sebetulnya bukan menjadi
tugas dan bagiannya.
Karena parpol itu
memiliki kader yang terdidik, maka tidak mungkin mengutamakan popularitas dan
ketokohan saja. Karena secara secara realistis, sekuat apapun seorang pemimpin,
tidak akan mampu mengelola Negara atau membangun masyarakat secara sendiri.
Sudah banyak parpol yang tidak bisa bertahan lama, karena hanya mengandalkan
faktor ketokohan dan popularitasnya saja. Kalau pun masih tetap bertahan,
kemungkinan besar akan sarat kepentingan yang tidak ada motif memperjuangkan
keberanan didalamnya, kecuali yang mungkin mucul atas inisiatif secara individu
saja, tidak mewakili parpol. Betapa berat menegakan keberanan dalam konteks
Negara, bila dilakukan secara individu.
Pembinaan kader
dilakukan secara bertahap. Semua yang tergabung dengan parpol yang peduli
pendidikan politik, tidak bisa sembarangan dapat langsung menduduki
jabatan-jabatan tertentu. Semuanya harus melalui proses dan tahapan-tahapan
terlebih dahulu. Kedisiplinan dalam melakukan pembinaan itulah yang dapat
menjauhkan parpol tersebut dari tindakan nepotisme; tidak ada faktor keluarga
atau kedekatan apapun yang bisa menjadikan seorang kader memperoleh jabatan
tertentu, kecuali telah menempuh tahapan-tahapan pengkaderan sebagaimana
mestinya.
Kedua, parpol yang selalu
melakukan kritik atau koreksi secara konstruktif terhadap penguasa. Karena
parpol itu menyukai ilmu dan pengetahuan serta membawa kebenaran, maka ia akan
menjadi parpol yang tidak pasif ketika menemukan ada suatu kezaliman dari
penguasa. Sehingga bila parpol itu dekat dengan kekuasaan, maka tidak menjadi
pendukung kebatilan. Kekuatannya hanya dijadikan sebagai sarana untuk menegakan
kebenaran. Ini berarti, jika parpol itu merupakan bagian dari pemerintah, maka
ia akan tetap berupaya melakukan kritik, koreksi, atau meluruskan penguasa
ketika cenderung pada kezaliman. Maka dari itu, keberadaan parpol tersebut
sangat jauh dari unsur kolusi atau bekerjasama dalam kebatilan.
Ketiga, parpol yang tidak
mempengaruhi pilihan politik rakyat dengan memberikan suap. Kelemahan sebuah
parpol akan dapat terlihat ketika mempengaruhi pilihan politik rakyat dengan
menyuapnya, atau yang lebih dikenal dengan istilah politik uang. Dan rakyat
yang lemah adalah rakyat yang kurang memperoleh pendidikan politik. Sehingga
rakyat mudah disuap oleh penguasa yang tentu saja zalim, yang tidak
memperlihatkan itikad yang baik untuk membangun bangsa dan Negara ini. Parpol
yang peduli dengan pendidikan politik, tidak pantas menyuap rakyat. Karena
menyuap rakyat, tentu saja sama dengan membodohinya.
Keempat, parpol yang
memperhatikan moralitas. Parpol yang peduli dengan pendidikan politik,
tentunya menghendaki terwujudnya masyarakat yang berperadaban tinggi. Maka
sebagai suatu pendekatan untuk mewujudkanya, parpol tersebut akan sangat
memperhatikan moralitas masyarakat dengan membangun penguatan pada bidang
pendidikan dan informasi. Karena pemikiran sederhananya, kesadaran terhadap
ilmu dan pengetahuan dapat membentuk prilaku orang menjadi lebih baik.
Parpol yang membawa
kebaikan, pasti menyukai ilmu pengetahuan dan kebenaran. Sehingga jangan heran
bila menjumpai parpol tersebut sangat memperhatikan dunia pendidikan dan informasi.
Sebaliknya, parpol yang mebawa kerusakan adalah parpol yang senang membodohi
rakyatnya. Dalam sejarah umat manusia, tidak ada penguasa zalim beserta para
pengikutnya yang menghendaki rakyatnya cerdas.
Kelima, parpol yang selalu
melayani masyarakat. Parpol yang melakukan pendidikan politik tidak mungkin
hanya sibuk menjelang pemilu saja. Karena parpol itu pasti sering melakukan
pembinaan atau pelatihan kader. Parpol yang peduli dengan pendidkan politik,
juga tidak mungkin hanya berperan sebagai mesin politik dalam pemenangan
suksesi kepemimpinan saja. Parpol yang peduli dengan pendidikan politik, pasti
memiliki banyak program kerja, melakukan kerja-kerja kongret untuk rakyat
dengan berbagai macam pelayanan di berbagai bidang. Sehingga tidak heran bila
menjumpai parpol semacam itu memiliki banyak sayap organisasi yang bergerak
pada bidang-bidang tertentu, baik yang berafiliasi secara struktural maupun
kultural.
Selain itu, parpol
yang peduli pendidikan politik pasti tidak ingin membingungkan rakyat.Sehingga
parpol itu memiliki struktur yang jelas dan rasional. Parpol itu juga
senantiasa berupaya menyampaikan informasi seputar kegiatan-kegiatan dan
pencapaian-pencapaian yang telah dilakukannya kepada masyarakat melalui saluran
informasi atau media-media representatifnya.
* artikel ini selesai di tulis 30 November 2012
* artikel ini selesai di tulis 30 November 2012

Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.