Parpol Pro Rakyat


Oleh Ari Ariyandi Gunawan 



Tidak mudah menemukan partai politik (parpol) yang betul-betul pro rakyat dalam sistem demokrasi yang tengah diterapkan di Indonesia. Sebab, sistem politik yang sudah terbangun saat ini, sangat berpotensi menjauhkan parpol dari memperjuangkan kepentingan rakyat. Bagaimana tidak? Suksesi kepemimpinan yang banyak, periode kepemimpinan yang singkat, dan ongkos politik yang besar, memungkinkan banyak parpol hanya berorientasi kekuasaan, yang tidak memihak kepada kepentingan rakyat.


Parpol harus memenangkan pertarungan politik dalam suksesi kepemimpinan pada tingkat nasional, provinsi, kabupaten, kota, dan di semua ruang kompetisi politik yang ada. Suksesi kepemimpinan yang banyak semacam itu dapat membuat parpol lebih berkonsentrasi memenangkan pertarungan politik, ketimbang melaksanakan program-program kerja secara optimal dalam rangka memperjuangkan kepentingan rakyat. Karena tentu saja, secara skala prioritas dalam politik, meraih  kekuasaan jauh lebih penting ketimbang melakukan kerja-kerja untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

Selain itu, ongkos politik yang besar, memacu parpol lebih mengutamakan para kader yang memiliki modal besar dan para pengusaha untuk membesarkan parpol. Padahal bisa jadi banyak dari mereka, kepentingannya hanya berorientasi bisnis; mengembalikan modal politik atau meraih keuntungan yang sebesar-besarnya untuk dirinya sendiri, sedangkan kepentingan rakyat diabaikan.

Begitu pula, periode kepemimpinan yang singkat dapat membuat para pejabat yang di usung oleh parpol, bekerja untuk rakyat secara tidak optimal. Para pejabat pemerintah, baik di eksekutif maupun legislatif, yang diusung oleh parpol, tidak mampu memaksimalkan kerja-kerjanya. Karena konsentrasi kerjanya terpecah oleh kecenderungan mempertahankan atau meningkatkan kekuasaan.

Kerja-kerja mereka dalam mengurus atau melayani rakyat selalu terkesan sedang berkampanye terus-terusan, atau kerja-kerja yang hanya berorientasi citra, kerja-kerja yang tidak menyentuh secara subtansi, apalagi solutif. Mungkin akibatnya akan muncul percepatan-percepatan kerja yang tidak rasional, penentuan target-target yang tidak proporsional, bisa pula sama sekali mereka tidak memiliki prestasi kerja apapun, selain penampilan citra dan retorika yang memukau. Pokoknya, pekerjaan mereka sangatlah jauh dari standar profesionalisme.

Keberadaan para pejabat semacam itu, tentu akan sangat dekat dengan kebijakan-kebijakan yang sewenang-wenang. Maka rakyat perlu berhati-hati terhadap mereka. Jangan biarkan mereka memperlebar barisan kezaliman di negri ini. Rakyat tidak boleh membiarkan kepemimpinan yang zalim, hanya karena seolah-olah kepemimpinan itu memberikan  harapan perbaikan ekonomi dan ketentraman. Padahal sesungguhnya tidak ada kebaikan yang dapat diperoleh dari kepemipinan yang zalim.

Begitu pula rakyat tidak perlu bersimatik terhadap kepemimpinan yang populis saja; kepemimpinan yang tidak mampu memberikan kebaikan untuk bangsa  dan Negara. Jangan hanya karena tidak mau dipusingkan dengan persoalan bangsa dan Negara, rakyat jadi memilih para pemimpin yang sekedar bisa menghibur dan dekat dengannya saja, padahal  tidak mampu memberikan kemaslahatan dan kemajuan bangsa dan Negara ini. Dan jangan hanya karena rakyat tidak mau dipusingkan dengan persoalan bangsa dan negara, parpol menjadi malas melakukan pendidikan politik.

Bila menemukan kondisi semacam itu, kita memang tidak layak sekedar mencela parpol, apalagi membuat mosi tidak percaya terhadapnya. Sebab, parpol dalam sistem demokrasi itu sangat penting. Membuat mosi tidak percaya terhadap parpol, bisa jadi memberikan kontribusi terhadap ideology anarkisme, yang tabiatnya selalu berupaya menjauhkan diri dari sistem yang telah terkonstruksi dalam suatu negara. Tanpa parpol dalam sistem demokrasi, mungkin hanya akan melahirkan kepemimpinan independen yang menyuburkan liberalisme.

Begitu pula kita tidak layak hanya mencela kebobrokan sistem demokrasi, dengan tidak ada upaya untuk memperbaiknya  dan tanpa melihat pada presfektif yang ada unsur kemaslahatannya. Maka dalam hal ini, untuk memperjuangkan kepentingan rakyat dipemerintahan dalam sistem demokrasi, terdapat beberapa hal yang perlu direalisasikan oleh partai politik.

Pertama, parpol harus membangun komitmen yang tegas dan jelas dengan para pejabat dipemerintahan yang diusung olehnya, baik di eksekutif dan legislatif.  Parpol harus mampu menjadi mesin politik yang bekerja secara optimal. Sehingga dalam mempertahankan atau meningkatkan kekuasaan, para pejabat publik yang diusung oleh parpol konsentrasi kerjanya tidak terpecah. Parpol harus mampu mendorong para pejabat publik itu untuk mengurus dan melayani rakyat secara professional dan proporsional. Dan para pejabat publiknya harus percaya terhadap parpol sebagai mesin politiknya.
Para pejabat publik itu harus mendukung pendanaan parpol, meskipun harus mengeluarkan biaya yang besar. Namun tentu saja urusan biaya itu harus bersih, rasional, konstitusional, proporsional, dan transparan.

Selain itu, para pejabat publik yang diusung parpol harus pula memiliki loyalitas terhadap kebenaran, mampu meberikan kontribusi terhadapnya. Dan tentu saja, para pejabat publik itu harus pula terlibat secara serius dalam mencapai cita-cita yang dikehendaki parpol, yang tentunya bermaslahat untuk rakyat. Bukan sekedar menumpang untuk menjadi pejabat saja.

Kalau sudah ada komitmen yang jelas, maka hubungan parpol dengan para pejabat publik dapat bersinergis.  Dalam hal ini, pejabat publik  yang diusung parpol harus berupaya menjadi semacam representasi parpol dipemerintahan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Sedangkan parpol harus berupaya menjadi representasi pejabat publik dalam mempertahankan atau meningkatkan kekuasaanya.
Sehingga para pejabat publik itu tidak lagi mencari-cari dukungan politik melalui kerja-kerjanya. Karena semua urusan mempertahankan atau meningkatkan kedudukan politik diserahkan kepada parpol yang mengatur. Maka dari sinilah pentingnya parpol yang mampu menjadi mesin politik yang tangguh.

Kedua, parpol harus menjauhi kecenderungan munculnya oligarki kekuasaan. Karena kecenderungan oligarki biasanya membuat kerja-kerja parpol menjadi tidak optimal. Kecenderungan oligarki biasanya membuat parpol sebagai sebuah organisasi mengalami stagnasi, kerja-kerja menjadi tidak fokus, dan proses regenarasi berjalan lambat. Selain itu, parpol tentunya menjadi terkesan kuno dan feodal. Padahal parpol dalam sistem demokrasi itu, seharusnya menjadi organisasi yang rasional dan modern.

Sebagai langkah awal untuk menghindari kecenderungan adanya ologarki, secara internal parpol tidak boleh membiarkan adanya penumpukan jabatan pada kader-kader tertentu saja. Begitu pula para kader yang menjadi pejabat publik, seharusnya tidak memiliki kedudukan strategis dalam  parpol. Dan sebaliknya, kader yang memiliki jabatan strategis di internal parpol tidak boleh memiliki jabatan publik.

Selanjutnya, parpol harus menghindari kecenderungan nepotisme. Bila masih menghendaki terbangunya sebuah dinasti dalam sistem demokrasi, itu sama sekali tidak keren alias kuno.  Untuk itu, parpol harus berdisiplin,terutama memisahkan urusan parpol dengan keluarga. Parpol harus mampu membangun ruang-ruang kompetisi secara sehat diinternalnya, bukan memperlebar unsur-unsur kekerabatan.

Pokoknya, kalau di internal parpol sudah tidak ada lagi yang rakus terhadap kekuasaan, besar kemungkinan parpol bisa peduli terhadap rakyat. Begitu pula, bila diinternalnya parpol sudah jauh dari nepotisme, niscaya parpol mampu mencetak kader yang amanah. Karena dengan kader-kader yang amanah itulah, parpol menjadi mampu  memperjuangkan kepentingan rakyat.

Ketiga, parpol harus berupaya menjadi solusi bagi rakyat. Ini artinya, parpol harus memiliki program-program kerja yang bila direalisasikan sangat bermaslahat, terkait pada semua aspek kehidupan, yang sasarannya rakyat secara umum. Maka dari itu, parpol harus memiliki struktur organisasi yang besar namun proporsional atau mempunyai organisasi sayap yang banyak; yang mampu membantu kerja-kerja parpol di masyarakat.  Demikian, parpol harus mampu menempatkan keder-kadernya secara struktural berdasarkan spesialisasi keahlian yang dimilikinya. Proses pengkaderan yang disiplin niscaya mampu membentuk kader-kader yang berkualitas.

Parpol adalah organisasi yang memiliki kekuatan. Karena itu, parpol harus mampu menyelesaikan persengketaan-persengketaan yang terjadi di masyarakat. Parpol harus mampu membela kepentingan rakyat, bukan kepentingan para pengusaha atau para pemilik modal yang rakus. Itupun bila memang, parpol itu ingin disebut sebagai parpol yang betul-betul pro rakyat.

* artikel ini selesai di tulis 22 Maret 2013