Menjelang atau setelah
shalat dzuhur berjama’ah biasanya saya berkumpul dengan anak-anak didik di
mesjid sekolah SMPN 1 CIAMBAR. Kadang saya menanyakan aktivitas-aktivitas
mereka di sekitar lingkungan keluarganya. Biasanya saya sekedar mengingatkan
mereka agar memperbanyak jam belajar di rumah, mengurangi kebiasaan nonton TV,
tidak tidur terlalu malam, dan terbiasa bangun pagi
untuk shalat subuh berjama’ah. Begitulah kebiasaan-kebiasaan di masa awal
berdirinya ROHIS AL-FURQAN SMPN 1 CIAMBAR.
Ketika
saya mengumpulkan data peserta didik. Saya bangga kepada anak-anak didik saya
yang terbiasa ke mesjid punya cita-cita menjadi tentara. Tidak hanya anak-anak
didik yang terbiasa ke mesjid, anak-anak yang tergolong nakal juga banyak yang
bercita-cita menjadi tentara.
Mulai
saat itulah saya menguatkan kedisiplinan terhadap seluruh peserta didik di SMPN
1 CIAMBAR. Selain itu, setiap setelah shalat dzuhur berjama’ah, anak-anak didik
dibiasakan latihan beladiri, dan saya langsung melatihnya. Kemudian, Latihan
Beladiri itu saya namakan LTB (Latihan Teknik Beladiri). LTB telah terbentuk
lima grup dengan nama angkatan yang berbeda-beda. LTB dalam kegiatannya bukan
sekedar latihan beladiri. Karena selama latihan beladiri LTB, anak-anak didik
dibekali wawasan kebangsaan, keagamaan, kepemimpinan, permainan
perang-perangan, komunikasi, dan survival.
Tujuan dari kegiatan itu adalah membangun kekuatan fisik dan mental secara individu dan kelompok. Melatih anak-anak didik agar mampu menjalankan tugas-tugas secara individu atau kelompok secara cerdas, tegas, dan cepat. Selain itu, anak-anak didik juga di latih agar memiliki kesiapan untuk perang melawan penjajahan dengan menggunakan kekuatan apa saja.
Tujuan dari kegiatan itu adalah membangun kekuatan fisik dan mental secara individu dan kelompok. Melatih anak-anak didik agar mampu menjalankan tugas-tugas secara individu atau kelompok secara cerdas, tegas, dan cepat. Selain itu, anak-anak didik juga di latih agar memiliki kesiapan untuk perang melawan penjajahan dengan menggunakan kekuatan apa saja.
Karena kegiatan latihan beladiri LTB itu sangat kompleks, tapi lebih cenderung menguatkan jiwa nasionalisme dan patriotisme, maka saya namakan menjadi PELATAR (Pelatihan Bela Tanah Air). Namun belum sempat dideklarasikan di sekolah, pergantian kepala sekolah, dan kebijakan baru di sekolah tersebut, tidak lagi ada latihan beladiri. Bagi saya tidak masalah latihan beladiri berada di luar sekolah, dengan syarat ROHIS AL-FURQAN SMPN 1CIAMBAR tidak dilarang di internal sekolah.
Mulai hari ini PELATAR berdiri dan akan terus bergerak…mendidik dan menyiapkan kekuatan para pelajar untuk membela tanah air dan melawan segala bentuk penjajahan…
Kepada
para pelajar yang ingin bergabung dengan PELATAR, syaratnya harus bisa membaca
Al-qur’an dan minimal terbiasa shalat isya dan subuh berjamaah di Mesjid.
Beladiri dan Kemiliteran
Bapak saya, dia pernah
menjadi petarung dan pahlawan bagi keluarga. Kakek saya pahlawan bagi bangsa
dan negara. Kakek saya tentara dan dikuburkan di taman makam pahlawan kota sukabumi. Saya
tidak ada keturunan penghianat bangsa dan negara. Saya pembelajar beladiri dan
dunia militer. Maka dari itulah, saya bertekad mendirikan Pelatihan Bela Tanah
Air (PELATAR).
Beladiri Pada mulanya saya belajar beladiri kepada almarhum bapak saya. Bapak saya namanya Dadang Gunawan (Alm). Bapak saya pernah menjadi petarung kempo, zaman kempo masih berlogo swastika, kalau sekarang bernama Shorinji Kempo. Bapak saya seringkali memperagakan KATA dalam kempo dihadapan saya semenjak saya masih kecil. Sehingga karakter beladiri kempo sangat melekat dalam beladiri LTB atau sekarang bernama beladiri PELATAR. Walaupun tidak seluruhnya beladiri PELATAR saya modifikasi dari Kempo. Karena saya juga memodifikasi okinawate/karate dan silat dalam beladiri PELATAR.
Almarhum bapak saya di kuburkan di makam keluarga besar, dekat pesantren Syamsul ulum kota Sukabumi (gunung puyuh).
Kemiliteran
Saya semenjak masih kecil bercita-cita menjadi
tentara. Saya kagum dan bangga kepada almarhum kakek saya, atau bapaknya bapak
saya. Kakek saya bernama Anwari Rahmat (Alm). Dia pahlawan kemerdekaan, dia
dikuburkan di taman makam pahlawan Surya Kencana Sukabumi (taman bahagia).
Semenjak kecil saya bangga melihat foto kakek berseragam tentara lengkap dengan
banyak bintang jasa, saya juga suka dengan kendaraan jeep willysnya. Terakhir
ketika saya masih kecil, saya sempat di punggu kakek di sekitar degung kota
Sukabumi, tempat tinggal kakek saya dulu.
Menurut cerita bapak saya, kakek banyak terlibat
pertempuran, termasuk longmarch Pasukan Siliwangi, sejarah fenomenal kesatria
sunda, memerangi PKI,Gerombolan, dan Belanda. Pangkat terakhir kakek saya
adalah kapten. Dari situlah ketertarikan saya terhadap dunia militer. Kemudian
saya mulai mempelajari dunia militer secara mandiri dari banyak media. Saya
ikut pramuka ketika masih SMP, latihan beladiri, senang kemping dan naik gunung
saat SMA dan kuliah, pernah pula ikut kepanduan di PKS. Hasil dari pengalaman
dan pembelajaran itulah saya mendirikan PELATAR.
PELATAR kini tengah saya persiapkan bukan hanya
untuk kalangan pelajar, tapi juga kalangan pemuda pada umumnya.
PELATIHAN BELA TANAH AIR DAN BANGSA (PELATAR)
Visi:
Terwujudnya Karakter Religius, Disiplin, Mandiri, Kesatria, Cinta Tanah Air dan
Bangsa
Misi:
Terdepan
Dibarisan Perlawanan Rakyat Semesta
Mampu
Menjaga Diri, Keluarga, Agama, dan Negara
Mampu
melaksanakan tugas secara cepat, tepat, akurat, baik individu ataupun
berkelompok
Mampu
bekerja dan mengembangkan potensi diri masing-masing anggota
Pendiri: Ari Ariyandi Gunawan
VIDEO PROFIL PELATAR:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar