Refleksi 15 Tahun di Jalan Pergerakan



Ari Ariyandi Gunawan

Oleh: Ari Ariyandi Gunawan 


Saya bukan orang baru dalam perjuangan politik dan ideologi. Saya memupuk perjuangan politik dan ideologi semenjak masih kuliah di kampus FISIP UNPAS BANDUNG mulai tahun 2002. Kampus yang terkenal sebagai tempat bersarangnya para aktivis revolusioner di Bandung masa reformasi 1998. Saya mulai masuk kuliah di FISIP UNPAS jurusan ilmu komunikasi tahun 2001, saya mulai hadir dalam pergerakan semenjak tahun 2002. Semenjak saat itu, saya mulai aktif berorganisasi kemahasiswaan, ekstra dan intra kampus, dari komunitas-komunitas diskusi, organisasi formal, dan oraganisasi non-formal. Saat itu pula saya mulai akrab dengan senjata pena dan pengeras suara. 
Saya memilih di jalan pergerakan, bukan politik praktis yang mapan. Tapi, saya juga tidak membangun basis massa dikalangan buruh, tani, atau kaum miskin kota. Saya sekedar selalu berupaya membangun basis massa dikalangan kaum terpelajar (pelajar dan mahasiswa). Walaupun jatuh bangun, terkena pemecatan dan tindak kezaliman di sekolah negeri, tidak membuat saya kapok. Itu malah membuat saya lebih bersemangat dan yakin. Maka dari itulah, saya tetap memilih profesi menjadi guru. Walaupun, latar belakang pendidikan saya sepantasnya bekerja di media profesional. 



Faktor-Faktor Penghambat Kemajuan Bangsa
1.Kemapanan yang kurang bermaslahat

Guru-guru di sekolah negeri memang semakin mapan.Guru sekarang ini tidak lagi seperti orang susah, pakai baju Korpri yang lusuh, sepeda kumbang, tas dari kulit buaya, paling banter pakai vespa, kepala sekolahnya biasanya pakai mobil kompor. Kini banyak pula sekolah-sekolah di kota maupun di pedesaan fasilitasnya sudah lebih baik. Begitu pula, sekarang ini guru-guru sudah banyak yang pakai mobil atau motor yang bagus-bagus. Gaji guru PNS/ASN sekarang ini juga tidaklah kecil lagi, belum sertifikasi, dan lain-lain. Kemapanan itu tentu tidaklah salah. Namun kemapanan itu semua tidak menjamin adanya kemajuan suatu bangsa. Padahal pendidikan menjadi penentu maju dan mundurnya suatu bangsa. 

Merebaknya narkoba, tawuran, dan sex bebas dikalangan pelajar, itu cermin kemunduran suatu bangsa. Guru seolah tak berarti ketika banyak muncul kasus tersebut. Guru seolah tak lagi peduli peradaban. Terutama guru-guru di sekolah negeri. Karena banyak kasus terjadi di sekolah negeri. Guru seolah tak mampu membangun generasi yang pantas untuk bangsa dan negara. Padahal semestinya guru berada di barisan terdepan dalam membangun generasi yang baik dan peradaban yang mulia. Baik dan buruknya suatu bangsa di masa depan, ada ditangan para guru saat ini.

2. Guru Tanpa Kepahlawanan 

Guru-guru sekarang ini sepertinya telah banyak yang kehilangan ruh kepahlawananya. Kalau dulu ada istilah, guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, sekarang guru itu seolah telah merasa cukup sebagai suatu profesi atau pekerjaan formal saja. Itupun masih mending kalau sering bekerja sebagaimana semestinya, kalau cuma makan gaji buta, itu guru mati istilah yang pantas untuknya. 

Keliru bila ada yang berpendapat, guru yang sudah profesional tidak perlu menjadi pahlawan. Akibatnya guru kehilangan ruh kepahlawanan, guru sekedar bekerja saja tidak punya motif membangun bangsa, tidak punya misi memperbaiki peradaban, tidak punya rencana untuk mengarahkan murid-muridnya untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Guru menjadi tidak punya visi dan misi dalam menjalani profesinya, selain bekerja saja dan tunduk saja kepada negara, asal presiden senang, guru juga senang.


Bukan saja guru yang kehilangan ruh kepahlawannya yang sering membuat saya khawatir. Saya juga seringkali khawatir, guru terlibat kejahatan merusak generasi dan tatanan sosial, seperti guru telibat mesum, sex bebas, narkoba, kumpul kebo, dan lain-lain. 

Guru tanpa kepahlawanannya, sangat jelas akan menghambat kemajuan suatu bangsa. Karena ruh kepahlawanan guru sangat berpotensi memajukan bangsa dan negara kita tercinta Indonesia.


3. Integritas yang Lemah
Jangan-jangan sistem pendidikan kita ini cuma sekedar basa-basi. Banyak pelatihan guru yang ujung-ujungnya cuma bagi-bagi duit. Mungkin hanya sedikit yang mengikutinya dengan serius dan memanfaatkannya untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Kebanyakan bermotif poyek, bukan untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Sehingga beres pelatihan, paling lupa lagi, ngopi lagi, ngobrol lagi, ngerokok lagi, lupa peserta didik terlantar di kelas. Bisa boros umur itu guru-guru kalau kerjanya cuma begitu terus. 
Sistem pendidikan yang baik,semestinya bukan memperumit guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Jangan terpukau dengan sistem pendidikan yang seolah-seolah sistematis, rasional, saintis, akurat, bahkan sangat materialistis, tapi rumit diaplikasikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi peserta didik. Ujung-ujungnya, bukan meningkatkan kualitas pendidikan, malah disibukan membereskan administrasi guru. 

Sistem pendidikan yang baik, bukan membuat semakin terukurnya penilaian peserta didik, bukan semakin banyaknya mengumpulkan sertifikat, bukan pula serba terkomputerisasi, bukan memunculkan banyak pelatihan guru, bukan mengumpulkan kerja-kerja yang terdokumentasi, bukan memprioritaskan linearitas guru yang tidak subtansial, bukan membuat administrasi guru yang bertele-tele, bukan membuat laporan yang tidak realistis, tapi bagaimana memunculkan integritas yang kuat bagi guru dan peserta didik, kemudian meningkatkan prestasi dan membangun kemampuan berkarya. Karena dengan integritas yang kuat itulah yang dapat membangun kemajuan bangsa.

4. Gerakan Literasi yang Lemah
Bangsa Indonesia akan maju dan bermartabat, bila lebih menghargai ilmu pengetahuan daripada hiburan yang bersifat maksiat. 
Gerakan literasi yang masih lemah, merupakan suatu indikasi masih jauhnya bangsa ini menuju kemajuan. 

Nasionalisme dan Pengetahuan Ilmiah Menyatukan Perjuangan

Apa yang dapat menyatukan perjuangan saya dalam negara demokrasi dengan elemen politik berhaluan kanan, kiri, dan Islam adalah nasionalisme. Karena bagi saya, nasionalisme bukanlah ideologi murni dan baku, sehingga tidak akan kaku dibawa oleh elemen politik apapun. Nasionalisme bukan pula ideologi yang memiliki sistem operasional yang menyeluruh bagi seluruh aspek kehidupan. Nasionalisme sekedar insting yang baik bagi manusia yang berbangsa dan bernegara, ketika manusia itu terancam atau tidak terancam oleh pihak asing dalam negaranya.

Dalam konteks nasionalisme semua elemen politik punya tujuan yang sama, yakni merealisasikan cinta tanah air dan bangsa. Karena itu nasionalisme dalam pandangan saya adalah ruang netral bagi setiap elemen politik untuk mengokohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nasionalisme adalah kerinduan setiap anak bangsa Indonesia terhadap kampung halamannya. Nasionalisme juga memicu rasa cemburu dan marah setiap anak bangsa bila tanah airnya dikuasai asing, aset bangsa dan negaranya dirampok penguasa zalim yang bersekongkol dengan pihak asing. 


Selain nasionalisme, apa yang dapat menyatukan perjuangan saya adalah pengetahuan ilmiah. Karena pengetahuan ilmiah bebas nilai dan tidak integral dengan moral. Pengetahuan ilmiah itu sekedar representasi fakta dan realita, pengetahuan ilmiah juga merupakan standar rasionalitas. Setiap orang dari latar belakang ideologi apapun dapat memanfaatkan pengetahuan ilmiah untuk kemaslahatan setiap manusia. 

Orang-orang yang berpandangan pluralis dalam konteks pengetahuan ilmiah sangat baik ketika hidup dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Orang-orang yang berpandangan kritis dalam konteks pengetahuan ilmiah sangat baik ketika hidup mengontrol kekuasaan dan pemerintah agar tidak jatuh dalam kezaliman. 
Nasionalisme dan pengetahuan ilmiah, sangat dekat dengan dunia pelajar dan mahasiswa. Karena itu, selama 15 tahun di jalan pergerakan, saya tidak jauh dari dunia pelajar dan mahasiswa. Bahkan saya rela ketika melepaskan cita-cita bekerja di media profesional, ketika saya telah menjadi pengajar di sekolah formal tingkat SMP dan SMK, dan saya biasanya selalu berupaya untuk hadir bila ada yang mengajak menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi di kalangan para aktivis mahasiswa. 

Karena saya berupaya untuk fokus membentuk kalangan pelajar dan mahasiswa agar menjadi aktor-aktor perubahan dan pembangun peradaban. Saya yakin bahwa moral dan idealisme kalangan pemuda terpelajar memiliki kekuatan untuk terlibat dalam membangun Indonesia menjadi lebih baik. Saya akan berada dibarisan terdepan bersama kalangan pelajar dan mahasiswa untuk perubahan Indonesia, menjadikan Indonesia yang mandiri dan berkeadilan. 


VIDEO PIDATO NASIONALISME PELAJAR
VIDEO PIDATO PEMBINA UPACARA BENDERA
VIDEO PELATIHAN BELA TANAH AIR: 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar