
Demokrasi Ilmiah adalah demokrasi yang terwujud ketika ilmu pengetahuan menguasai konstitusi negara.
Konservatisme dan Demokrasi Ilmiah
Selalu, kalangan konservatif berpandangan bahwa Agama itu mutlak, sedangkan demokrasi itu dinamis. Dalam demokrasi itu banyak dialog dan tawar menawar, seolah tidak ada ketetapan, dan mudah berubah-ubah, sehingga menganggap bahwa demokrasi tidak cocok bagi Agama. Padahal mutlak atau tidak mutlaknya suatu Agama dalam demokrasi bukan pada nilainya, melainkan pada kemampuan pemeluk Agamanya untuk memutlakan nilai-nilai Agama dalam konstitusi negara, kalau tidak mampu, jangan menyalahkan alat atau sarananya...
Islam dan Demokrasi
Islam dan demokrasi tidak harus dipertentangkan, sebagaimana Islam mengakui ilmu pengetahuan sebagai bagian dari Islam. Betapa akan sangat kuno, bila Islam tanpa Ilmu pengetahuan. Peradaban Islam pernah sangat maju karena mengembangkan ilmu pengetahuan. Makanya, demokrasi ini saya namai sebagai demokrasi ilmiah, demokrasi berlandaskan ilmu pengetahuan.
Demokrasi ilmiah adalah jalan terang untuk melawan hegemoni kekuasaan yang zalim.
Menjawab Pandangan Sinis Sosialis
Kalangan sosialis biasanya berpandangan sinis terhadap demokrasi, dianggapnya stabilitas demokrasi hanya dapat dicapai dengan modal. Sehingga demokrasi hanya mampu mewujudkan konsensus dari kalagan elit dan pemilik modal saja.
Menurut saya dalam demokrasi itu ada keterwakilan, selama elit dan kalangan pemilik modal tersebut amanah, betul-betul mewakili aspirasi rakyat, pasti konsensus yang dihasilkannya akan adil dan bermaslahat bagi rakyat.
Demokrasi tidak dapat digunakan sebagai alat perjuangan kelas. Karena kalau berhasil, saya yakin tidak ada lagi negara demokrasi….yang ada sekedar negara diktator, sebagaimana yang biasa terjadi negara-negara sosialis lainnya…
Memang, negara diktator kalau dikelola secara adil, sangat memungkinkan rakyat menjadi sejahtera, walaupun tidak bebas dan jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan . Sebaliknya, kalau dikelola secara zalim, rakyat menjadi sengsara, tidak bebas, dan bodoh.
Untuk menguasai kebenaran dalam suatu diskursus publik, bagi saya tidak harus dengan perjuangan kelas, tapi dengan kekuatan hujjah dan ruang dialogis.
Karena itu bagi saya perlu demokrasi ilmiah yang mampu membuka ruang dialogis seluas-luasnya dan menjembatani hubungan rakyat dengan pemerintah supaya lebih transparan, adil, dan dapat dipercaya.
Kalangan sosialis biasanya berpandangan sinis terhadap demokrasi, dianggapnya stabilitas demokrasi hanya dapat dicapai dengan modal. Sehingga demokrasi hanya mampu mewujudkan konsensus dari kalagan elit dan pemilik modal saja.
Menurut saya dalam demokrasi itu ada keterwakilan, selama elit dan kalangan pemilik modal tersebut amanah, betul-betul mewakili aspirasi rakyat, pasti konsensus yang dihasilkannya akan adil dan bermaslahat bagi rakyat.
Demokrasi tidak dapat digunakan sebagai alat perjuangan kelas. Karena kalau berhasil, saya yakin tidak ada lagi negara demokrasi….yang ada sekedar negara diktator, sebagaimana yang biasa terjadi negara-negara sosialis lainnya…
Memang, negara diktator kalau dikelola secara adil, sangat memungkinkan rakyat menjadi sejahtera, walaupun tidak bebas dan jauh dari perkembangan ilmu pengetahuan . Sebaliknya, kalau dikelola secara zalim, rakyat menjadi sengsara, tidak bebas, dan bodoh.
Untuk menguasai kebenaran dalam suatu diskursus publik, bagi saya tidak harus dengan perjuangan kelas, tapi dengan kekuatan hujjah dan ruang dialogis.
Karena itu bagi saya perlu demokrasi ilmiah yang mampu membuka ruang dialogis seluas-luasnya dan menjembatani hubungan rakyat dengan pemerintah supaya lebih transparan, adil, dan dapat dipercaya.
Agama dan Demokrasi Ilmiah...
Dalam demokrasi ilmiah, setiap orang bebas memeluk Agama dan beribadah menurut keyakinan Agamanya masing-masing. Termasuk juga membebaskan Agama tertentu yang mengajarkan politik. Sehingga tidak perlu ada istilah politisasi Agama. Karena itu merupakan suatu bentuk politik subjektif dan non-ilmiah dari partai, kelompok, atau golongan tertentu yang ingin menekan eksistensi Agama tertentu. Demokrasi ilmiah tidak memaksakan orang-orang untuk beragama tertentu. Demokrasi ilmiah merupakan suatu sarana untuk menyempurnakan Agama dalam negara.
Dalam demokrasi ilmiah, setiap orang bebas memeluk Agama dan beribadah menurut keyakinan Agamanya masing-masing. Termasuk juga membebaskan Agama tertentu yang mengajarkan politik. Sehingga tidak perlu ada istilah politisasi Agama. Karena itu merupakan suatu bentuk politik subjektif dan non-ilmiah dari partai, kelompok, atau golongan tertentu yang ingin menekan eksistensi Agama tertentu. Demokrasi ilmiah tidak memaksakan orang-orang untuk beragama tertentu. Demokrasi ilmiah merupakan suatu sarana untuk menyempurnakan Agama dalam negara.
Perspektif Demokrasi
Demokrasi bukanlah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Indonesia saja, Pancasila sebagai dasar negara, tidak dilahirkan dari demokrasi. Ketika perspektif demokrasi dianggap sebagai sistem kehidupan, maka kecenderungannya akan menjadikan demokrasi sebagai ideologi atau memusuhi demokrasi sebagai sistem yang rusak. Berbeda dengan perspektif demokrasi sebagai sarana untuk mencapai tujuan kekuasaan (struktur dan wacana). Demokrasi pasti dipandangnya sebagai ruang yang netral, produk ilmu pengetahuan, yang semua ideologi dapat menerimannya dan menggunakannya. Itulah yang saya sebut sebagai demokrasi ilmiah
Demokrasi bukanlah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Indonesia saja, Pancasila sebagai dasar negara, tidak dilahirkan dari demokrasi. Ketika perspektif demokrasi dianggap sebagai sistem kehidupan, maka kecenderungannya akan menjadikan demokrasi sebagai ideologi atau memusuhi demokrasi sebagai sistem yang rusak. Berbeda dengan perspektif demokrasi sebagai sarana untuk mencapai tujuan kekuasaan (struktur dan wacana). Demokrasi pasti dipandangnya sebagai ruang yang netral, produk ilmu pengetahuan, yang semua ideologi dapat menerimannya dan menggunakannya. Itulah yang saya sebut sebagai demokrasi ilmiah
SILAKAN TONTON VIDEONYA DISINI, KLIK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar