TENTARA DAN ULAMA UNTUK INDONESIA LEBIH BAIK



Oleh : Ari Ariyandi Gunawan

Indonesia saat ini perlu seorang presiden mantan tentara. Karena peninggalan rezim Jokowi, pasti menyisakan masalah pertahanan dan keamanan negara. Mantan tentara  punya pengalaman bagaimana mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)  dan menyelamatkan Sumber Daya Alam (SDA) dari ancaman pihak asing. Penyelamatan aset bangsa dan negara, bila masih diperlukan secara demokratis, dapat dilakukan dengan cara militer. Kita tidak mungkin bersikap lunak untuk merebut kembali aset bangsa dan negara yang telah dirampok oleh pihak asing.

Bila ada calon presiden seorang mantan tentara dan calon wakil presiden seorang ulama, maka itu merupakan antitesis dari anasir rezim Jokowi sekarang ini. Maraknya penghinaan terhadap Agama dan ulama pada  masa rezim Jokowi, telah menyisakan kurang izzahnya bangsa Indonesia dan banyaknya persoalan  keagamaan. Izzah bangsa Indonesia niscaya akan terangkat bila seorang mantan tentara dan ulama menguasai pemerintah dan negara. Persoalan keagamaan akan menjadi perioritas utama untuk diatasi, sebagai implementasi dari sila yang pertama dalam Pancasila.

Perbaikan Spiritualitas

Ketika sosok ulama memimpin pemerintah, maka itu niscaya dapat memperbaiki spiritualitas umat dan bangsa. Ketika spiritualitas umat dan bangsa membaik, maka akan berdampak kepada perbaikan ekonomi. Kerena perbaikan spiritualitas, biasanya membentuk mental yang baik, yang selalu menghendaki kehidupan sejahtera dengan cara yang benar. Kalau rakyat mentalnya sudah baik dan kuat, sadar akan pentingnya ulama, maka moral bangsa pun akan membaik, kehormatan bangsa niscaya terangkat.

Rusaknya mental rakyat tidak bisa diperbaiki dengan sekedar menempatkan ulama di lingkaran istana negara, kemudian menggajinya dengan gaji yang besar. Mental yang baik sebetulnya tidak bisa diperbaiki dengan uang. Mental rakyat yang rusak hanya bisa diperbaiki dengan bagaimana spiritualitas pemimpin dengan keteladannya sebagai ulama tersebar dikalangan rakyat dan pemikirannya termanifestasi dalam sistem pendidikan.  

Saat ini negara perlu efisiensi.Karena sisa rezim Jokowi sangatlah boros. Orang yang paling paham bagaimana melakukan efisiensi adalah orang yang mengerti maslahat dan tidak maslahatnya banyak hal. Dan itu ada pada karakter keulamaan. Ulama lebih tepat mempertimbangkannya  dan lebih mengerti hal-hal yang berfaedah dan tidak berfaedah. Ulama itu takut kepada Allah, sehingga sangat berhati-hati dalam berfatwa. Efisiensi bukan membangun negara yang bakhil, tapi bagaimana negara betul-betul dibuat mampu mengatur harta rakyat dengan baik dan benar.

Stabilitas Politik

Hakikat politik adalah dinamis. Tapi, bila kita ingin melakukan percepatan pembangunan, dan melakukan revolusi untuk kemandirian bangsa, kita perlu politik yang stabil. Stabilitas disini bukan berarti anti demokrasi, bukan pula gaya fasisme, melainkan bagaimana kepemimpinan nasional mampu menempatkan orang-orang secara proporsional di pemerintah, berdasarkan kapabilitas dan  kapasitasnya, bukan berdasarkan pragmatisme (jalan pintas), oportunisme (kepentingan proyek),  dan bukan pula orang-orang hasil sogokan.

Calon presiden Prabowo Subianto dan Calon wakil presiden DR.Salim Aljufri, adalah kedua sosok yang tepat untuk menguasai pemerintah dan negara. Prabowo Subianto adalah mantan tentara terbaik bagi NKRI dan DR.Salim Aljufri sebagai seorang ulama. Insya Allah, Indonesia akan menjadi lebih baik, bila   Prabowo menjadi presiden dan DR.Salim Aljufri menjadi wakil presiden pada tahun 2019 mendatang. []


Tidak ada komentar:

Posting Komentar