‘Kita Indonesia’ katanya…



Ternyata ada yang ‘mendadak dangdutan’ (acara populis) bertema ‘Kita Indonesia’ di Jakarta 4 Desember 2016, yang terselenggara bersamaan dengan Car Free Day di Jalan Sudirman – Thamrin. Suatu acara yang banyak di ‘wk…wk..’ para netizen di media sosial itu, sepertinya perlu juga perhatian serius karena merupakan suatu manuver politik yang dapat mempengaruhi opini publik terkait acara sebelumnya, yaitu Aksi Bela Islam 212 di Monas yang dukungannya semakin membesar dan meluas. Acara ‘Kita Indonesia 412’ itu, sepertinya ingin mengubah persepsi publik dari kasus Ahok yang murni merupakan suatu kasus hukum menjadi kasus politik.


Pemikiran yang aneh, bila acara ‘Kita Indonesia 412’ itu dianggap sebagai “Aksi Budaya” yang membangun citra sebagai kaum pribumi yang nasionalis asli dengan menampilkan produk-produk kebudayaan Indonesia, seperti tari-tarian dan musik tradisional. Selain itu, kalau pemikiranya nyeleneh, pasti menganggapnya sebagai perayaan demokrasi, karena dalam acara ‘Kita Indonesia 412’ itu menampilkan atribut parpol, ada bendera Golkar, PPP, adapula bendera Nasdem, juga semarak bendera merah putih, yang merepresentasikan citra demokratis, konstitusional, dan nasionalis.

Bila pemikiran aneh dan nyeleneh itu diterima masyarakat sebagai suatu makna yang dapat dipercaya, maka bisa memunculkan kesan berlawanan terhadap citra yang sebenarnya dari aksi bela Islam 212 yang sebelumnya terselenggara secara spektakuler, kemudian akan membentuk pula suatu kesan bahwa aksi bela Islam 212 sama-sama sarat kepentingan politik, sebagaimana acara ‘Kita Indonesia 412’. Kalau aksi bela Islam 212 dimaknai sarat kepentingan politik, opini publik bisa terbentuk seolah-olah memaklumi Ahok tidak segera ditahan, bahkan opini publik tersebut bisa berkembang seolah-olah akan memaklumi Ahok bila lepas dari jeratan hukum.

Untuk mengantisipasi perkembangan opini publik semacam itu, saya perlu menjelaskan subtansi aksi bela Islam 212 yang lebih berbudaya, lebih nasionalis, lebih demokratis, lebih konstitusional, dan tidak merepresentasikan kepentingan politik apapun, dan aksi bela Islam tetap menuntut Ahok ditahan.
Aksi bela Islam 212 lebih berbudaya dibandingkan ‘Kita Indonesia 412’. Subtansi berbudaya yang paling tepat bagi bangsa Indonesia yang beradab adalah sikap yang santun, moralis, dan beretika, sebagaimana hadir dalam aksi bela Islam 212, tanpa menyisakan sampah berserakan, tanpa injak-injak tanaman, dan tanpa kencing sembarangan. Bagaimana dengan ‘Kita Indonesia 412’? Para netizen sepertinya sudah pada tau, tentang bahan “wk..wk” dari aksi ‘Kita Indonesia 412’.

Aksi bela Islam 212 mengajarkan kepada bangsa Indonesia agar lebih dewasa dalam berbudaya. Tidak sekedar berbudaya secara artifisial, tidak sekedar berbudaya senang dengan artefak melulu, atau tidak sekedar berbudaya dengan banyak ornamen tanpa makna. Berbudaya yang terkesan sangat beradab dan transendental hingga terwujud nuansa kedamaian dan persaudaraan, sebagaimana tampak dalam aksi bela Islam 212 yang kegiatannya di isi dengan shalat, dzikir, do’a bersama, dan saling berbagi. Indahnya Islam, terlukis dalam Aksi bela Islam 212.

Aksi bela Islam 212 lebih nasionalis dari aksi ‘Kita Indonesia 412’. Jutaan peserta aksi yang hadir dalam aksi bela Islam 212 tidak sedikitpun terkesan ingin menghancurkan NKRI, juga tidak ada kesan sebagai penghianat bangsa dan negara. Bahkan lebih terlihat cinta Indonesia, ketika banyak peserta aksi memakai ikat kepala merah putih, yang hadirpun bukan hanya dari Jakarta tapi dari berbagai daerah yang berbeda-beda suku bangsa, Jokowi pun aman-aman saja ketika berbicara dipenghujung acara. Kenyataan itu telah menjawab juga bahwa aksi bela Islam lebih demokratis dan konstitusioanal dari aksi ‘Kita Indonesia 412’. Para peserta aksi tetap damai ketika hadir Jokowi, itu terbukti bahwa aksi bela islam 212 masih mengganggapnya sebagai presiden RI, dan aksi bela islam 212 tidak melanggar perda, sebagaimana sebaliknya dengan aksi ‘Kita Indonesia 412’.

Aksi bela Islam 212 telah mengajarkan kepada bangsa Indonesia untuk lebih berpikir dewasa, boleh jadi banyak dukungan dari parpol terhadap aksi bela Islam 212, tapi bukan berarti aksi tersebut mengajak untuk terlibat dalam politik praktis. Makanya, aksi bela Islam 212 tidak dapat dikatakan bermuatan politik praktis, tidak ada kesan Anis, juga tidak ada kesan Agus, apalagi Ahok. Dengan begitu, tidak perlu berpendapat bahwa aksi bela Islam 212 ditunggangi aktor politik.

Prediksi kedepan, kecenderungan agenda setting media mainstream yang anti-bela Islam sepertinya akan lebih mendukung rezim sekarang ini, mereka akan berpolemik disekitar isu makar, untuk menjaga cita rezim seolah netral dalam kasus Ahok. Tapi juga menggiring persepsi publik, membentuk suatu makna bahwa ada persoalan politik besar yang tengah dihadapi bangsa dan negara ini, bukan persoalan hukum. Sedangkan media mainstream yang pro-Ahok akan mempengaruhi opini publik, hingga Ahok bisa dikesankan oleh khalayak seolah-olah dipaksa mengakui kesalahan, Ahok dibawah tekanan, dengan dalih seolah Ahok tidak berniat menistakan Agama, dikesankan pula Ahok sebagai bagian dari kaum minoritas yang tertindas.
‘Kita Indonesia’, katanya….

Biarlah masyarakat secara sadar memahami semua ini. Karena dengan kesadaran itulah, masyarakat bisa menjadi semakin dewasa dalam berpikir. Bukankah peradaban ini akan semakin maju dan berkembang ketika masyarakatnya semakin dewasa dalam berpikir? Maka tidaklah perlu mengajarkan kepada masyarakat dengan banyak permainan citra yang semu, permainan tanda, permainan fakta, dan logika-logika yang menipu.

Sampai saat ini belum ada satupun media mainstream yang secara mandiri mendukung Aksi bela Islam, kecuali hanya mengikuti gelombang opini umat Islam. Ini artinya, semakin besar peluang umat Islam mampu membentuk opini publik di media sosial atau aksi demonstrasi dijalanan, maka semakin besar pula peluang untuk memenangkan suatu opini bahwa kasus Ahok adalah kasus hukum dan Ahok harus segera di tahan.
  10 Desember 2016

Penulis: Ari Ariyandi Gunawan
Terbit 10 Desember 2016
Media sosial: https://web.facebook.com/A.Ariyandigunawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar