JANGAN MENJADI ORANG MISKIN YANG SOMBONG

(Catatan Seorang Mantan Wali Kelas)



Oleh: Ari Ariyandi Gunawan



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu pagi mereka.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, An Nasa’i dan Ibnu Hibban; shahih lighairihi)


Selain tempat beribadah secara khusus, mesjid sekolah biasanya saya gunakan sebagai tempat curhat para peserta didik. Saya selalu bersedia mendengarkan curhat tentang keluarga mereka, adik-adiknya, kakak-kakaknya, dan ibu- bapaknya. Saya juga sering menanyakan tentang bagaimana mereka belajar di rumah dan bagaimana lingkungannya. 

Saya juga seringkali berpesan, siapa saja dalam keluarga kalian, yang paling sering membangunkan tidur kalian di waktu subuh untuk shalat subuh, itulah orang yang paling sayang kepada kalian. Dialah orang yang mengerti akan masa depan kalian. Dialah orang yang ingin kalian hidup sejahtera dan berkah di masa depan. 


Karena waktu subuh adalah waktu terbaik untuk memulai setiap aktivitas manusia. Subuh adalah waktu yang sangat produktif untuk berpikir dan bekerja. Untuk membedakan seorang pemalas dengan seorang yang berdisiplin dapat dilihat dari kebiasaan bangun di pagi harinya, tidak ada seorang pemalas yang mampu bangun pagi hari apalagi subuh, pasti sering kesiangan. Kalau sering kesiangan, pasti banyak ketinggalannya. Maka, jangan heran bila menemukan banyak orang yang terbiasa shalat subuh berjamaah lebih sejahtera kehidupannya daripada orang yang sering bangun kesiangan bahkan tidak melaksanakan shalat subuh berjamaah. 
loading...

Orang miskin yang tidak mau melaksanakan shalat subuh berjamaah, itulah orang miskin yang sombong. Untuk meraih kesejahteraan, semuanya harus dimulai dari shalat subuh berjamaah. Membiasakan diri shalat subuh berjamaah sama dengan meninggalkan kemiskinan dan bersiap untuk menjadi orang-orang kaya baru, bukan kaya karena keturunan, tapi kaya karena kemandirian, bekerja bersungguh-sungguh dan berkarya dengan sebaik-baiknya. 

Selain sering berbicara dengan para peserta didik secara langsung, saya juga kadang memperhatikan para wali murid (orang tua siswa). 
Ini perhatian saya kepada mereka: 
Janganlah menganggap bahwa sekolah itu gratis. Supaya orang tua siswa (wali murid) dan para peserta didik tidak menganggap sepele sekolah dan ingin seenaknya saja mendapatkan bantuan dari sekolah. 

Orang tua siswa harus betul-betul bekerja untuk anak-anaknya yang masih sekolah, tidak mengandalkan belas kasih sekolah, juga pemerintah. Orang tua siswa yang mengerti Agama, biasanya sadar bahwa membiayayai sekolah anak-anaknya merupakkan amal jariah, yang pahalanya kekal bisa sampai akhirat nanti. Jangan heran bila orang tua siswa yang mengerti Agama, rela mengeluarkan biaya besar untuk biaya anak-anaknya sekolah. Jangan heran pula bila banyak siswa-siswi berprestasi tinggi, lahir dari orang tua siswa yang sadar. 
Kalau punya kehormatan, jangan terima bantuan siswa miskin. Karena bantuan siswa miskin itu sangat rawan pemalsuaan laporan dan tindak kezaliman lainnya. Bukannya mendapatkan bantuan, malah menambah-nambah utang. 

Orang tua siswa yang pemalas ingin mendapatkan yang enak-enaknya saja dari sekolah. Dipikirnya, sekolah gratis itu semuanya gratis. Ketika anak-anak-nya mendapatkan bantuan dari sekolah untuk beli seragam, malah dibelikan bahan masakan. Ketika anak-anak-nya yang mendapatkan bantuan siswa miskin, malah untuk bayar kredit motor. Orang tua siswa semacam itu, bukan orang tua siswa yang baik. Sebetulnya mereka sanggup bila bekerja keras untuk membiayayai sekolah anak-anaknya. Tapi karena pemalas, kecenderungannya menjadi ke arah tindak kezaliman, berbohong, dan penipuan. Saya sama sekali tidak setuju sedikitpun kepada para orang tua siswa yang pemalas seperti itu. Walau mereka miskin, saya tidak ingin menolongnya sedikitpun. Karena mereka sudah miskin sombong…

Begitulah saya ketika pernah menjadi wali kelas di SMPN 1 CIAMBAR. Saya menjadi wali kelas tanpa honor, tapi saya berupaya menjalankan amanah. Kalaupun wali kelas itu ada honornya, tapi tidak sampai ke saya, tidak apa-apalah, anggap saja amal saya sebagai wali kelas sebagai tabungan saya untuk di akhirat nanti…

Jangan lupa, janganlah menjadi orang miskin yang sombong. Lebih baik menjadi orang kaya baru, dari hasil jerih payah usaha sendiri, bukan dari hasil tipu-tipu dan tindakan zalim lainnya…
Ayo biasakan shalat subuh berjamaah di mesjid dan bersiap-siaplah menjadi orang kaya baru…[]

BACA JUGA: 
NASEHATKU SEBAGAI GURU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar