Oleh:
Ari Ariyandi Gunawan
Indonesia
Bukan Nusantara
Islam Nusantara memaknai Nusantara
sebagai Indonesia. Padahal tidak ada korelasi yang jelas antara Indonesia dengan
Nusantara. Bahkan Indonesia tidak dapat dimaknai sebagai wilayah kepulauan
peninggalan Majapahit. Karena dalam sejarahnya, tidak ada yang dapat
membuktikan bahwa Majapahit mampu menaklukan seluruh wilayah kekuasaan yang
dinamai nuasantara. Juga tidak ada buktinya Gajah Mada berhasil mewujudkan
sumpahnya (sumpah palapa). Nusantara sekedar konsepsi yang bersifat ilusi.
loading...
Hukum internasional yang
melegitimasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menurut saya bukan
karena klaim wilayah kekuasaan kerajaan yang pernah eksis di Indonesia. Saya
memandangnya dalam prespektif yang humanis. Dimana kemerdekaan suatu negara, selalu
disebabkan adanya persoalan kemanusiaan, yaitu penjajahan. Sehingga bagi saya,
yang dinamakan negara Indonesia adalah
seluruh wilayah yang pernah di jajah Belanda atau Jepang.
Kini Indonesia telah
menjadi sebuah negara yang merdeka dan diakui secara hukum internasional. Indonesia
sangat berpotensi menjadi negara besar, bila mampu membebaskan negara-negara
yang masih terjajah, terutama negara-negara kaum muslimin. Bukan menjadi
negara kerdil dan egois, yang hanya memperhatikan persoalan lokal di wilayah
terdekatnya saja.
Bukan
Ekspresi Keagaman
Islam Nusantara dianggap oleh para pengusungnya sebagai ekspresi
keagaman saja. Padahal mereka tengah membujuk dan mengorganisir secara halus, semua
ekspresi keagamaan Islam yang bercorak keindonesiaan dikategorikan ke dalam Islam
nusantara, terlepas ‘bau menyan’ atau tidak.
Kalau Islam Nusantara itu cuma ekspresi keagaman saja,
kenapa mereka mengelompokan, membuat kategorisasi, memicu pertarungan wacana
antara Islam Nusantara dengan Islam timur tengah (Arab). Mereka memunculkan
istilah Islam Nusantara sebagai kritik terhadap Arab..
Islam Nusantara menganggapnya paling toleran, paling
ramah, paling sejati, sedangkan Islam yang lain (Arab) dianggap Islam radikal,
intoleran, dan teroris, bahkan abal-abal dan penjajah. Islam Nusantara tidak
bisa dianggap Islam karena ide-idenya atas dasar kedengkian. Islam Nusantara
bukan Islam yang hadir berdasarkan hujjah yang syar’i. Maka Islam nusantara wajib
ditolak oleh setiap Muslim.
Sebelum Nabi Muhammad Saw hijrah ke Yasrib (madinah), memang
ada proses akulturasi Islam dengan budaya lokal, yang saat itu di Yastrib ada
suku Aus dan Khazraj, tapi kemudian ketika Islam membangun eksistensinya di Yastrib,
Nabi Muhammad Saw tidak menyebutnya sebagai Islam Yastrib. Lantas, Islam apakah
Islam Nusantara itu? Tidak salah bila kita menganggap bahwa Islam Nusantara
tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Saw. Maka, kita wajib menolak Islam
Nusantara. Karena kita adalah Islam Sunniyah.[]
Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar