URGENSI MENOLAK ISLAM NUSANTARA (BAGIAN 2)


Oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Indonesia Bukan Nusantara
Islam Nusantara memaknai Nusantara sebagai Indonesia. Padahal tidak ada korelasi yang jelas antara Indonesia dengan Nusantara. Bahkan Indonesia tidak dapat dimaknai sebagai wilayah kepulauan peninggalan Majapahit. Karena dalam sejarahnya, tidak ada yang dapat membuktikan bahwa Majapahit mampu menaklukan seluruh wilayah kekuasaan yang dinamai nuasantara. Juga tidak ada buktinya Gajah Mada berhasil mewujudkan sumpahnya (sumpah palapa). Nusantara sekedar konsepsi yang bersifat ilusi.

loading...

Hukum internasional yang melegitimasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menurut saya bukan karena klaim wilayah kekuasaan kerajaan yang pernah eksis di Indonesia. Saya memandangnya dalam prespektif yang humanis. Dimana kemerdekaan suatu negara, selalu disebabkan adanya persoalan kemanusiaan, yaitu penjajahan. Sehingga bagi saya, yang dinamakan negara Indonesia  adalah seluruh wilayah yang pernah di jajah Belanda atau Jepang. 
Kini Indonesia telah menjadi sebuah negara yang merdeka dan diakui secara hukum internasional. Indonesia sangat berpotensi menjadi negara besar, bila mampu membebaskan negara-negara yang masih terjajah, terutama negara-negara kaum muslimin. Bukan menjadi negara kerdil dan egois, yang hanya memperhatikan persoalan lokal di wilayah terdekatnya saja.

Bukan Ekspresi Keagaman

Islam Nusantara dianggap oleh para pengusungnya sebagai ekspresi keagaman saja. Padahal mereka tengah membujuk dan mengorganisir secara halus, semua ekspresi keagamaan Islam yang bercorak keindonesiaan dikategorikan ke dalam Islam nusantara, terlepas ‘bau menyan’ atau tidak.
Kalau Islam Nusantara itu cuma ekspresi keagaman saja, kenapa mereka mengelompokan, membuat kategorisasi, memicu pertarungan wacana antara Islam Nusantara dengan Islam timur tengah (Arab). Mereka memunculkan istilah Islam Nusantara sebagai kritik terhadap Arab..
Islam Nusantara menganggapnya paling toleran, paling ramah, paling sejati, sedangkan Islam yang lain (Arab) dianggap Islam radikal, intoleran, dan teroris, bahkan abal-abal dan penjajah. Islam Nusantara tidak bisa dianggap Islam karena ide-idenya atas dasar kedengkian. Islam Nusantara bukan Islam yang hadir berdasarkan  hujjah yang syar’i. Maka Islam nusantara wajib ditolak oleh setiap Muslim.
Sebelum Nabi Muhammad Saw hijrah ke Yasrib (madinah), memang ada proses akulturasi Islam dengan budaya lokal, yang saat itu di Yastrib ada suku Aus dan Khazraj, tapi kemudian ketika Islam membangun eksistensinya di Yastrib, Nabi Muhammad Saw tidak menyebutnya sebagai Islam Yastrib. Lantas, Islam apakah Islam Nusantara itu? Tidak salah bila kita menganggap bahwa Islam Nusantara tidak sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Saw. Maka, kita wajib menolak Islam Nusantara. Karena kita adalah Islam Sunniyah.[]

Artikel Terkait: 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar