MENUJU KAYA BERANGKAT DARI MENTAL YANG BAIK…


Oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Punya harta sebanyak apapun tidak akan menjadi kaya, bila masih memiliki mental jelek. Mental yang baik, yang menjadikan orang menjadi kaya yang sebenarnya adalah visioner. Orang yang visoner pandangannya jauh ke depan, apa yang dilakukannya hari ini selalu mempertimbangkan faedah di hari esok. 

Dengan begitu, orang yang visioner niscaya dapat teratur menjalani kehidupannya, termasuk dalam mengelola hartanya. Orang yang visioner tidak akan mudah membelanjakan uangnya secara sembarangan. Orang yang visioner niscaya selalu menghindari hal-hal yang tidak berfaedah dalam kehidupannya. Misalnya, orang yang visioner itu tidak mungkin berbelanja rokok. Ia menyadari bahwa merokok itu sudah jelas tidak ada faedahnya, pengeluaran uang menjadi sangat boros, dan bisa  berpenyakit. Kalau ada orang sudah miskin, masih suka merokok, bakal susah kaya.


Selain visioner, mental yang baik itu adalah sanggup berpola hidup sederhana, tapi tidak bakhil. Harta berlimpah, penghasilan besar, bila pola hidupnya selalu mewah, pasti akan cepat habis sia-sia. Bahkan, kemewahan itu kadang membujuk dan kadang pula memaksa, ketika orang bermental jelek ingin kemewahan, orang itu akan menggunakan segala cara untuk meraihnya, bila tak mampu biasanya ngutang, akan menjadi lebih parah lagi bila melakukan penipuan dan berbagai tindak kezaliman.  Mental jelek semacam itu tidak bisa bikin orang menjadi kaya.
Pola hidup sederhana disini bukan miskin atau tidak mampu, ia sanggup berbelanja banyak hal, tapi lebih suka mengatur hartanya agar lebih besar faedah atau manfaatnya, baik untuk dirinya sendiri ataupun orang lain disekitarnya.
Terbiasa menyimpan harta dan bersedekah adalah ciri orang yang sanggup berpola hidup sederhana. Orang yang terbiasa menyimpan harta dan bersedekah adalah orang yang menyadari cara menghargai harta. Menabung atau menyimpan harta artinya menyadari akan hartanya di masa depan, sedekah secara proporsional tidak membuat miskin dirinya sendiri juga orang lain.

Standar Kekayaan
Setelah memiliki mental yang baik, selanjutnya harus memahami batasan orang yang disebut kaya itu ada berapa banyak hartanya dan berapa besar jumlah uangnya. Batasan kaya harta memang sulit dan relatif. Masing-masing orang pasti beda-beda memaknai  standar kekayaan, harus dimulai dari uang berapa yang dapat disebut kaya. Maka dari itu, jalan yang paling mudah untuk memaknai kaya atau tidaknya seseorang, dapat terlihat dari bagaimana menghargai dirinya.
Seseorang tidak bisa disebut kaya, bila masih punya utang. Maka batasannya, bila seseorang bekerja, mencari nafkah, kemudian berpenghasilan  cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok  sehari-hari, tidak punya utang, dan masih ada sisa penghasilan untuk disimpan, bisa bersedekah dan mampu mengeluarkan zakat, maka itulah kaya.
Dengan adanya kewajiban membayar zakat bagi setiap muslim yang mampu, itu maknanya bahwa setiap muslim sangat dianjurkan untuk menjadi kaya. Mampu membayar zakat adalah standar kekayaan seorang muslim.
Kalau seseorang berusaha bekerja dan mencari penghasilan, tidak sedikitpun mendapatkan keuntungan, karena masih banyak utang, maka itu tidak dapat di sebut kaya. Seseorang yang berupaya membayar utang adalah orang yang berupaya memperoleh harga diri. Bila seseorang setiap bulannya penghasilan bertambah, setiap tahun juga bertambah, dan tidak punya utang, terbiasa sedekah dan membayar zakat, itulah yang disebut jalan menuju kaya raya dan punya harga diri yang tinggi, yang pantas disebut sebagai kehormatan. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar