Oleh: Ari Ariyandi Gunawan
“Sesungguhnya Allah mencatat
berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang
bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah
catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia
penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700
kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 130)
Dengan adanya hadits di atas, kita tidak bisa menganggap bahwa panjang
harapan itu jelek, bikin malas bekerja, pemimpi, dan bikin bingung seharian. Bila
harapan tersebut didasari niat yang tulus untuk membangun kebaikan, maka
harapan itu akan membawa kebaikan pula.
Misalnya, panjang harapannya begini, ada orang yang ingin punya
tanah 15 hektar, untuk membangun pesantren, untuk kebaikan umat Islam,
mengokohkan dakwah dan melestarikan peradaban Islam. Dengan harapan itu, ia bekerja
semampunya untuk mewujudkan harapan atau impiannya dan ia hanya ingin mendapatkan
pahala dari Allah.
Itulah panjang harapan yang baik, terlaksana atau tidak, niatnya
saja sudah suatu kebaikan, Insya Allah, niat tersebut ada nilainya.
Berbeda dengan panjang harapan yang jelek, misalnya ada orang yang
ingin punya gedung diperkotaan untuk dijadikan sebagai tepat dugem, diskotik,
esek-esek, dan berbagai bentuk kemaksiatan lainnya, yang dengan itu ia ingin mendapatkan
harta yang banyak dari bisnis maksiat. Itulah panjang harapan yang jelek, terlaksana
atau tidak, niatnya saja sudah dicatat sebagai suatu kejelekan dan harapannya
itu tidak ada nilainya. Itulah panjang harapan yang bisa membuat pelakunya
menjadi orang pemalas dan pemimpi, suka omong kosong dan menipu, kalaupun
bekerja akan sangat terbiasa melakukan tindak kezaliman.
Selain itu, dengan adanya hadits di atas tersebut, kita tidak bisa
menganggap bahwa orang yang sekedar berkata-kata atau berucap tentang suatu kebaikan
sebagai suatu omong kosong. Karena apa yang diucapkannya itu suatu harapan
baik, yang tentunya ada nilainya, dan tidak akan menjadi sia-sia.
Sedangkan bila ucapannya itu suatu kejelekan, seperti mencela dan
memaki orang lain tanpa dilandasi kebenaran, menghina orang lain tanpa hujjah, memarahi
orang lain bukan bertujuan mencegah kemungkaran, itulah omong kosong, yang
tidak punya harapan baik, dan tidak ada nilainya.
Ayo, mulai saat ini, kita biasakan menyampaikan ucapan yang baik,
bila harus berkata-kata jelek kepada para pendosa, pelaku maksiat, dan pelaku kemungkaran,
pastikan berkata-kata jelek itu untuk
menghentikan atau memperingatkan perbuatan jelek, supaya ada efek jera atau membangun
semangat dalam membela kebenaran.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar