Oleh: Ari Ariyandi Gunawan
Berawal
dari adanya sedikit niat ingin berhenti merokok. Tapi, saya merasa sulit sekali
untuk menghentikannya. Namun, lama-lama saya jadi malu juga merokok. Malu dengan status saya sebagai sarjana, orang
berpendidikan, tapi tidak mengerti kemaslahatan ilmu pengetahuan. Merokok
secara ilmu pengetahuan saja tidak ada maslahatnya, apalagi secara Agama.
Saya
mulai serius berniat ingin berhenti merokok, kebetulan ketika saya masih
menganggur, menunggu panggilan kerja dari media-media yang telah saya lamar. Saya
merasa sangat malu dan tak tau diri, sudah menganggur tak mau berhenti merokok.
Dengan
susah payah saya berupaya untuk berhenti merokok. Kian hari rokok saya rasakan
semakin mahal. Tapi, alangkah bodohnya saya, mau mengurangi jatah makan hanya untuk membeli rokok. Bahkan sempat pula,
agar tidak mahal merokok, saya bikin rokok sendiri, beli tembakau dan papir, kemudian
dilinting sendiri, saking ingin merokok tapi dengan harga yang murah. Itu
bukannya menghentikan merokok, malah menambah rasa ingin merokok terus menerus.
Bahkan ketika saya punya uang lebih, malah kembali lagi membeli rokok seperti
biasanya.
loading...
Pada
zaman masih kuliah, saya merokok kadang sampai dua bungkus sehari kalau sedang
banyak diskusi, dari pagi sampai larut malam. Ngopi dua kali sehari, kadang tiga
kali sehari kalau sedang banyak baca buku dan diskusi.
Saya
mulai serius, berniat untuk berhenti merokok, saya paksakan cuma merokok sehari
1 bungkus saja. Untuk mengurangi rasa ingin merokok, saya makan permen. Tapi
kadang, makan permen itu, bukannya mampu menghentikan saya merokok, malah
tambah enak merokok rasa permen. Begitu pula kebanyakan makan permen malah jadi
sakit gigi, kadang batuk. Sungguh saya merasa sengsara sekali ingin bisa berhenti
merokok. Saya seperti dijajah oleh rokok, saya ingin sekali menghentikan
kebiasaan merokok.
Terus
saya berupaya untuk bisa berhenti merokok. Saya mulai mengurangi merokok
menjadi 6 batang sehari, itu karena kebiasaan dzikir dan istigfar, setiap kali
saya ingin merokok saya berzikir dan beristigfar, terus menerus saya lakukan
seperti itu.
Tahap
selanjutnya, saya merasa masih sulit untuk tidak merokok, terutama ketika
selesai makan. Saat itu, saya banyak merokok hanya setelah selesai makan saja.
Sekitar
tahun 2008, tepat menjelang bulan Ramadhan, saya menguatkan niat untuk berhenti
total dari kebiasaan merokok. Pada awal bulan ramadhan saya masih merokok, saat
buka puasa dan setelah makan sahur saja. Namun sekitar pertengahan bulan ramadhan,
saya mulai merasa tidak enak merokok.
Kemudian saya putuskan untuk tidak
merokok secara total saja. Sahur dan buka tanpa rokok kadang masih ada keinginan merokok, tapi segera
saya ingat niat untuk berhenti merokok. Sampai mulai diakhir bulan Ramadhan, saya
sudah tidak ingin merokok lagi, entah kenapa saya jadi benci asap rokok dan
prilaku merokok. Saat idul fitri (lebaran) saya menjadi manusia yang bebas asap
rokok. Saya berhenti total dari kebiasaan merokok. Alhamdulillah, selesai bulan Ramadhan itu saya
seperti orang yang baru lulus ujian reformasi diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar