SUKSES BERHENTI MEROKOK (BAGIAN 1)


Oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Berawal dari adanya sedikit niat ingin berhenti merokok. Tapi, saya merasa sulit sekali untuk menghentikannya. Namun, lama-lama saya jadi malu juga merokok.  Malu dengan status saya sebagai sarjana, orang berpendidikan, tapi tidak mengerti kemaslahatan ilmu pengetahuan. Merokok secara ilmu pengetahuan saja tidak ada maslahatnya, apalagi secara Agama.

Saya mulai serius berniat ingin berhenti merokok, kebetulan ketika saya masih menganggur, menunggu panggilan kerja dari media-media yang telah saya lamar. Saya merasa sangat malu dan tak tau diri, sudah menganggur tak mau berhenti merokok.

Dengan susah payah saya berupaya untuk berhenti merokok. Kian hari rokok saya rasakan semakin mahal. Tapi, alangkah bodohnya saya, mau mengurangi jatah makan  hanya untuk membeli rokok. Bahkan sempat pula, agar tidak mahal merokok, saya bikin rokok sendiri, beli tembakau dan papir, kemudian dilinting sendiri, saking ingin merokok tapi dengan harga yang murah. Itu bukannya menghentikan merokok, malah menambah rasa ingin merokok terus menerus. Bahkan ketika saya punya uang lebih, malah kembali lagi membeli rokok seperti biasanya.
loading...


Pada zaman masih kuliah, saya merokok kadang sampai dua bungkus sehari kalau sedang banyak diskusi, dari pagi sampai larut malam. Ngopi dua kali sehari, kadang tiga kali sehari kalau sedang banyak baca buku dan diskusi.

Saya mulai serius, berniat untuk berhenti merokok, saya paksakan cuma merokok sehari 1 bungkus saja. Untuk mengurangi rasa ingin merokok, saya makan permen. Tapi kadang, makan permen itu, bukannya mampu menghentikan saya merokok, malah tambah enak merokok rasa permen. Begitu pula kebanyakan makan permen malah jadi sakit gigi, kadang batuk. Sungguh saya merasa sengsara sekali ingin bisa berhenti merokok. Saya seperti dijajah oleh rokok, saya ingin sekali menghentikan kebiasaan merokok.

Terus saya berupaya untuk bisa berhenti merokok. Saya mulai mengurangi merokok menjadi 6 batang sehari, itu karena kebiasaan dzikir dan istigfar, setiap kali saya ingin merokok saya berzikir dan beristigfar, terus menerus saya lakukan seperti itu.

Tahap selanjutnya, saya merasa masih sulit untuk tidak merokok, terutama ketika selesai makan. Saat itu, saya banyak merokok hanya setelah selesai makan saja.

Sekitar tahun 2008, tepat menjelang bulan Ramadhan, saya menguatkan niat untuk berhenti total dari kebiasaan merokok. Pada awal bulan ramadhan saya masih merokok, saat buka puasa dan setelah makan sahur saja. Namun sekitar pertengahan bulan ramadhan, saya mulai merasa tidak enak merokok. 

Kemudian saya putuskan untuk tidak merokok secara total saja. Sahur dan buka tanpa rokok  kadang masih ada keinginan merokok, tapi segera saya ingat niat untuk berhenti merokok. Sampai mulai diakhir bulan Ramadhan, saya sudah tidak ingin merokok lagi, entah kenapa saya jadi benci asap rokok dan prilaku merokok. Saat idul fitri (lebaran) saya menjadi manusia yang bebas asap rokok. Saya berhenti total dari kebiasaan merokok. Alhamdulillah, selesai bulan Ramadhan itu saya seperti orang yang baru lulus ujian reformasi diri.  

Insya Allah, bersambung…

Artikel terkait: 
Sukses Berhenti Merokok (Bagian 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar