SUKSES BERHENTI MEROKOK (BAGIAN 2)


Oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Tidak lama setelah saya lulus kuliah S1 di FISIP UNPAS BANDUNG tahun 2006, saya kembali ke Sukabumi, saya jarang berinteraksi dengan masyarakat, kecuali dengan jamaah shalat. Selain itu, saya juga lebih banyak mengaji di luar, jauh dari tempat tinggal, dari mesjid ke mesjid, dari pesantren ke pesantren, dan di sekretariat organisasi. Dalam kelompok-kelompok pengajian tarbiyah, saya tidak punya teman yang suka merokok. Sehingga, saya malu sendiri menjadi orang yang masih merokok. Saya jadi merasa paling norak dan kampungan sendiri karena masih merokok. Malu karena lingkungan sosial tidak ada yang merokok, itulah salah satu faktor yang mempengaruhi saya berhenti merokok.


Saya berniat berhenti merokok, tidak lama setelah saya dipecat dari pekerjaan mengajar di sekolah sebagai guru honorer ilmu komputer (SMKN 1 CIBADAK) tahun 2008. Menganggur membuat saya berniat serius untuk berhenti merokok. Saya merasa sangat malu, sarjana tapi masih menganggur dan tidak berhenti merokok. Malu menganggur dan status sarjana merupakan suatu faktor yang mempengaruhi saya berhenti merokok.

Setelah saya berhenti merokok. Saya kembali mendapatkan pekerjaan mengajar di sekolah dengan semangat baru. Mulai saat itulah, saya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bekerja keras dan mencari penghasilan sebesar-besarnya. 

Panggilan bekerja di media untuk menjadi wartawan mulai bermunculan, tapi saya lebih memilih untuk menjadi guru  dan mengelola media sendiri. 

Setelah berhenti merokok, saya mampu bekerja lebih baik dan belajar menjalani hidup secara teratur. Walaupun ketika itu saya masih berpenghasilan kecil, saya bisa menabung. Dengan menabung saya mulai membangun bisnis. Saya pernah memulai bisnis media cetak, menerbitkan buku dan buletin, tapi gagal di bisnis itu.

Karena saya masih punya uang tabungan, saya bisa bangkit lagi dengan bisnis media oline, terus merambah ke media digital, merambah lagi ke bisnis musik, sekarang tengah menyiapkan bisnis pengembangan aplikasi. Alhamdulillah, semua bisnis itu masih bertahan, sebagian ada yang telah mendekati balik modal, ada pula yang sedikit demi sedikit memperoleh  keuntungan.

Saya berhenti merokok, banyak sekali manfaatnya. Maka dari itu, saya menyebutnya sebagai sukses berhenti merokok.

Ketika saya belum berhenti merokok, pekerjaan banyak tergangu, banyak mengkhayal tidak jelas, dan sulit fokus.  Setelah saya berhenti merokok, kalaupun saya sedang mengkhayal, saya pastikan untuk menghasilkan karya. Dengan berhenti merokok, saya bekerja menjadi lebih fokus (tidak banyak manyun), dan  lebih cepat, hasil juga maksimal, badan selalu segar dan sehat, akal sehat juga tidak tergangu. Alhamdulillah, saya telah sukses berhenti merokok. Bagaimana dengan anda? 

(selesai)


Artikel terkait: 
Sukses Berhenti Merokok (Bagian 1)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar