URGENSI MENOLAK ISLAM NUSANTARA (BAGIAN 1)


Oleh: Ari Ariyandi Gunawan

Tidak perlu berpikir bahwa Indonesia terbentuk atas wilayah kepulauan peninggalan kekuasaan majapahit yang dinamakan Nusantara. Karena kalau begitu, orang Sunda dan Aceh tidak akan mau menerimannya. Kesultanan di Aceh dalam sejarahnya belum pernah ditaklukan Majapahit dengan perang. Setelah kesultanan Aceh perang dengan Majapahit, kesultanan Aceh masih tetap eksis, tidak ditaklukan Majapahit. 



Begitu juga dengan kerajaan sunda. Pasukan Sunda tidak pernah kehilangan wilayah kekuasaannya ketika kalah perang dalam perang bubat kerena sangat tidak seimbang dengan pasukan majapahit. Perang bubat kemungkinan besar tidak terjadi diwilayah Sunda. Karena posisi pasukan sunda ketika terjadi perang bubat, sebagai penyerang yang sebelumnya tidak direncanakan akan perang. Ini artinya wilayah sunda belum pernah ditaklukan majapahit. Kerajaan Pajajaran (sunda) saat dipimpin Prabu Siliwangi, tidak pernah bisa ditaklukkan oleh Majapahit. Makanya, jangan heran, dulu di wilayah Jawa Barat tidak ada nama jalan Majapahit dan Hayam Wuruk.



loading...

Sumpah palapa Gajah Mada tak pernah terwujud. Eksistensi kerajaan Majapahit dengan wilayah-wilayah lain yang sebut nusantara, hanya sekedar hubungan perniagaan, bukan penaklukan wilayah. Karena itu nusantara tidak pernah terwujud, nusantara sekedar konsepsi, yang sekarang sudah tidak berfaedah lagi untuk menguatkan karakter bangsa, atau menguatkan karakter nasional Indonesia.



Konsep Nusantara di zaman Indonesia baru merdeka, memang masih relevan untuk membentuk karakter nasional, sebagaimana yang dikonstruksikan oleh gagasan-gagasan Mohamad Yamin. Karena konsep Nusantara menjadi simbol pemersatu bangsa. Tanpa konsep Nusantara ketika itu, semua akan tetap mempertahankan ego Jong Java, Jong Sumatra, dan kelompok-kelompok kedaerahan lainnya.

Setelah terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan adanya konstitusi yang menjamin persatuan dan kesatuan bangsa, konsep nusantara sudah tidak relevan lagi. Kalau konsep Nusantara sudah tidak relevan untuk Indonesia, tidak perlu disandingkan dengan Islam. Karena Islam bukan Agama yang tergantung di wilayah tertentu. Islam bukan Agama lokal yang hanya berlaku diwilayah tertentu.  Berdasarkan ini saja, Islam Nusantara sudah jelas tidak berfaedah, Islam Nusantara tidak relevan untuk menguatkan karakter nasionlisme Indonesia, Nusantara juga tidak pantas disandingkan dengan Islam. 

Memang benar, Nusantara terkonstruksi tidak melalui perang. Bahkan selama masih eksis, Majapahit tidak berani mengambil upeti kepada raja-raja di wilayah yang diklaim sebagai nusantara. Hubungan Majapahit dengan kerajaan lain hanya sebatas mitra dagang yang setara. Majapahit dalam sejarahnya, tidak mampu membangun hegemoni struktural dalam eksistensinya. Struktur kekuasaan masih dipegang oleh raja-raja diwilayahnya masing-masing. Maka, tidak ada dalam sejarahnya, bahwa di Indonesia sekarang ini, yang berkuasa secara struktural harus dari etnis tertentu. Begitu juga, untuk menjadi Presiden, tidak melulu harus orang jawa. Yang paling utama adalah aqidahnya, yaitu aqidah Islam.



Tapi, apa jadinya bila Islam kita telah direduksi, menjadi Islam Nusantara. Dimana kedudukan Islam lebih kecil dari nusantara, dengan istilah meng-Indonesiakan Islam. Tentunya kita menolak Islam Nusantara. Itu bahaya besar bagi peradaban Islam di Indonesia. Kita tidak ingin Islam di Indonesia, seperti di Andalusia sekarang. Islam banyak direduksi, artefak kebudayaannya banyak yang sudah jauh dari nilai-nilai Islam, padahal dulunya peninggalan Bani Umayah. 


Insya Allah, bersambung...



Artikel Terkait: 
Jalan Bengkok Islam Nusantara
Urgensi Menolak Islam Nusantara (Bagian 2)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar