Oleh : Ari Ariyandi Gunawan
Allah SWT berfirman:
“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari
apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan;
karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah:
168).
Banyak yang bilang bahwa sejahtera itu relatif, setiap
orang berbeda-beda dalam memaknai kesejahteraannya. Namun, ada yang pasti,
bahwa setiap kesejahteraan bersumber dari rezeki yang halal. Bagaimana tidak? Sejahtera
secara individu, biasanya berwujud suasana ketenangan lahir dan batin dalam
menjalani hidup. Ketenangan itulah yang tidak mungkin diperoleh orang-orang
yang banyak dosa. Pekerjaan yang halal dan sumber rezeki yang halal niscaya
membawa ketenangan lahir dan batin sebagai
cermin hidup sejahtera.
Sejahtera itu harmoni, kehidupan yang tentram,
damai, tertib dan teratur dalam lingkungan keluarga dan masyarakat, tidak
terkecuali ketika sudah masuk dalam pemerintah. Kehidupan yang tidak banyak
memberikan masalah kepada orang lain, tidak suka mengadu-domba orang lain,
tidak suka membuat perpecahan dengan orang lain, tidak suka menzalimi orang
lain, dan berbagai tindakan yang dapat meresahkan orang lain, itulah harmoni yang
hadir dalam kehidupan sejahtera.
Manusia sejahtera adalah manusia yang cenderung
reformis dan menyukai islah, bukan manusia perusak yang akrab dan bahkan
berteman dekat dengan berbagai tindakan kezaliman dimana-mana. Manusia yang
senang merusak kehidupan orang lain, mustahil sumber rezekinya halal. Bahkan
akan lebih parah lagi bila sudah tidak bisa mendapatkan rezeki yang halal. Kondisi
semacam itu bisa jadi karena sudah terbiasa berbuat dosa. Karena dosa,
sejatinya dapat menutup pintu rezeki yang halal.
Rasulullah Saw bersabda: “… dan seorang lelaki akan diharamkan
baginya rezeki kerana dosa yang dibuatnya.” (Riwayat at-Tirmizi).
Jadi, bila telah merasa sulit sekali mendapatkan rezeki yang
halal, itu tandanya harus segera bertobat, memperbanyak kerja atau beramal saleh,
karena itu membukakan pintu rezeki yang halal dan jalan masuk menuju kehidupan
sejahtera.
Sejahtera itu optimis, menatap masa depan lebih
baik, bukan masa depan yang suram. Baik atau tidak baiknya masa depan, sangat
tergantung amal kita saat ini. Bila kita selalu menanamkan amal baik, tentu apa
yang dihasikannya akan kebaikan pula. Optimis itu yakin, bahwa kita ada dijalan yang
benar, bahwa kita berupaya berbuat kebaikan, kita mampu membangun masa depan menjadi
lebih baik dengan kerja-kerja kita saat ini. Sikap optimis itulah yang biasanya
hanya dimiliki oleh orang-orang yang kehidupannya sejahtera, sumber rezekinya
halal, dan apa yang dihasilkannya berkah.
Allah SWT berfirman:
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan
melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96).rezeki halal, rezeki halal dan barokah, rezeki halal quotes, rezeki halal menurut islam, rezeki halal dan haram, rezeki halal barokah, rezeki halal dan berkah, rezeki halal untuk keluarga, rezeki halal untuk anak, rezeki halalan toyyiban, rezeki halal adalah, rezeki halal ayat, rezeki halal dari allah, mencari rezeki yang halal adalah fardhu, mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu, mencari rezeki yang halal adalah wajib, amalan rezeki halal, rezeki halal berkah, doa rezeki halal barokah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar