Oleh:
Ari
Ariyandi Gunawan
Islam tidak menganjurkan
pemborosan dalam menggunakan harta. Karena harta hakikatnya dari Allah. Harta adalah
titipan dari Allah. Maka tidak layak bagi kita menyia-nyiakannya harta, melakukan
pemborosan, dan bermewah-mewah yang tak banyak manfaatnya.
Sifat amanah seseorang dapat
terlihat dari bagaimana mengelola hartanya, semakin baik seseorang dalam mengelola hartanya, maka semakin
baikpula amanahnya. Anjuran amanah dalam menggunakan harta terdapat dalam qur’an: Berikanlah kepada mereka harta Allah yang telah Allah berikan
kepada kalian. (QS. an-Nur: 33).
Apa itu pemborosan?
Pemborosan adalah
penggunaan harta secara berlebihan dan tidak ada faedahnya. Sikap boros tidak
diajarkan dalam Islam.
Janganlah
bersikap boros, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang yang boros. (QS. al-An’am: 141).
Pemborosan itu biasanya menggunakan harta untuk kepentingan yang benar
tapi melebihi batas yang dibenarkan.
Misalnya, kita membeli
sepatu yang bagus dan masih nyaman digunakan. Kemudian kita membeli lagi sepatu,
padahal manfaatnya sama dengan sepatu yang dibeli sebelumnya, bahkan sepatu
tersebut belum rusak sedikitpun. Nah, itu termasuk pemborosan. Makan terlalu
banyak, sampai banyak sisa yang dibuang, itu juga termasuk tindakan pemborosan
dalam menggunakan harta.
Pemborosan juga bermakna menggunakan harta untuk sesuatu yang
tidak dapat dibenarkan
Misalnya, kita
membeli rokok atau miras yang tidak ada faedahnya sedikitpun, malah bisa membawa
penyakit. Itu termasuk pemborosan yang
lebih berbahaya. Karena itu perlakuan yang menyia-nyiakan harta.
Dalam Islam,
kita jangan menggunakan harta untuk sesuatu yang berlebihan dan jangan menggunakan
harta untuk bermaksiat.
Proporsional dan Profesional
Islam sangat
menganjurkan proporsional dan profesional dalam mengelola harta. Proporsional disini
maksudnya menggunakan harta harus sesuai dengan kebutuhuan atau kepentingan
yang dapat dibenarkan. Menggunakan harta secara proporsional itu bisa membuat harta
tidak mubajir atau tidak boros.
Bahkan sikap
proporsional dalam mengelola harta dalam konteks bersedekah bisa membawa kepada
keberkahan. Misalnya, bila kita memberikan harta kepada orang yang rajin
beribadah, maka harta yang kita berikan kepadanya akan terus menjadi bagian
dari amal ibadahnya.
Profesional
artinya perlu keahilan khusus dalam menggunakan harta, jika tidak harta bisa bermasalah dan berbahaya. Karena itu ada suatu
riwayat yang mengungkapkan bahwa harta tidak akan bermasalah ditangan orang
yang bertakwa. Karena takwa itu merupakan suatu keahlian khusus dalam ketaatan
kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Tidak masalah adanya kekayaan bagi
orang yang bertaqwa. (HR.Ahmad )
Mengapa harta perlu di kelola?
Karena di
akhirat nanti, setiap harta yang kita
miliki akan ada pertanggung jawabannya.
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, Kaki seorang hamba di hari
kiamat tidak akan bergeser sampai dia ditanya tentang (beberapa hal,
diantaranya) tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan.. (HR.Turmudzi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar